Pengertian Dan Tujuan 5S

Pengertian Dan Tujuan 5S
5S dirancang untuk menghilangkan pemborosan. Sebagaimana setiap kata memiliki arti yang luas, demikian pula dengan aktivitas 5S yang bahkan kadang-kadang memiliki arti yang kurang jelas. Maka harus diuraikan dengan jelas apa arti 5S, apa yang dapat dilakukannya, dan bagaimana aktivitas 5S harus dirancang supaya berhasil guna. Suatu istilah yang biasa yang digunakan Jepang adalah gemba kaizen. gemba kaizen adalah suatu ungkapan yang menyampaikan kesanggupan untuk kemajuan berkelanjutan dari praktek dan proses sebagai filosofi bisnis. Diterjemahkan kemajuan berkelanjutan.

Berdasarkan kata-kata dalam bahasa Jepang yang dimulai dengan huruf ' S', Filosofi 5S memusat pada pengorganisasi tempat kerja yang efektif dan prosedur pekerjaan yang distandardisasi. 5S menyederhanakan lingkungan tempat kerja, mengurangi pemborosan, dan aktivitas- aktivitas yang serta meningkatkan efisiensi kualitas dan keselamatan.

Keuntungan dari penerapan 5S adalah bahwa prinsip 5S dapat diterapkan dengan segera, semua pihak dapat ikut berpartisipasi, mengurangi produk sisa/pemborosan, meningkatkan waktu set-up, menigkatkan kualitas, meningkatkan keamanan, meningkatkan moral, dan meningkatkan produktivitas.

Seiri (pemilahan)
Umumnya istilah ini berarti mengatur sesuatu, memilah sesuai dengan aturan atau prinsip tertentu. Didalam 5S berarti membedakan antara yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan, mengambil keputusan yang tegas, dan menerapkan manajemen stratifikasi untuk membuang yang tidak diperlukan. Yang diutamakan disini adalah manajemen stratifikasi dan mencari penyebab-penyebabnya untuk menghilangkan yang tidak diperlukan serta menghilangakan penyebab itu sebelum menimbulkan masalah. Ada berbagai teori yang berbeda tentang bagaimana memilah pekerjaan, tetapi langkah awal semua-semua teori itu adalah membagi segala sesuatu kedalam kelompok sesuai dengan urutan kepentingannya.

Seiton (penataan)
Umumnya, dalam penerapan 5S, seiton berarti menyimpan barang ditempat yang tepat atau dalam tata letak yang benar sehingga dapat dipergunakan dalam keadaan mendadak. Ini merupakan cara untuk menghilangkan proses pencarian.

Penataan diawali dengan studi efisiensi intensif dan mendetail. Dimulai dengan stratifikasi organisasi, prinsip penataan berusaha memformulasikan peraturan yang mengendalikan stratifikasi. Seringkali dimulai dengan dengan memutuskan berapa kali kita menggunakan sesuatu dan memulainya dari situ :
  1. Barang yang tidak kita gunakan ; dibuang.
  2. Barang-barang yang tidak kita pergunakan tetapi ingin dipergunakan seandainya diperlukan ; simpan sebagai sesuatu untuk keadaan tidak terduga.
  3. Barang-barang yang kita pergunakan hanya sewaktu- waktu saja ; simpan sejauh mungkin.
  4. Barang-barang yang kadang-kadang kita pergunakan ; simpan ditempat kerja.
  5. Barang-barang yang sering kita pergunakan ; simpan ditempat kerja atau disimpan para pekerja.
Penyimpanan juga harus berdasarkan pada seberapa banyak yang kita tangani dan seberapa cepat kita menemukannya pada saat diperlukan. Tata letak diatur sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan terbentuknya sarang laba-laba, benda- benda lain dapat dicapai dengan mudah, sehingga pekerjaan berjalan lancar.

Seiso (pembersihan)
Istilah ini, umumnya berarti membersihkan barang-barang sehingga menjadi bersih. Didalam 5S berarti, membuang sampah, kotoran dan benda-benda asing serta membersihkan segala sesuatu. Pembersihan merupakan salah satu bentuk dari pemeriksaan.

Disini diutamakan pembersihan sebagai pemeriksaan terhadap kebersihan dan menciptakan tempat kerja yang tidak memiliki cacat dan cela. Walaupun membersihkan jelas berarti membuang sampah dan kotoran serta menjadikan barang lebih bersih. Akhir-akhir ini hal ini menjadi lebih penting. Dengan mutu yang lebih tinggi, dan teknologi pemrosesan yang lebih halus, hal-hal terkecil pun masih terbagi-bagi lagi.

Jadi pembersihan adalah sesuatu yang memiliki pengaruh besar atas waktu istirahat, mutu, keamanan, semangat kerja, dan setiap aspek operasi lainnya. Gerakan 5S berusaha mencapai kotoran nihil dan debu nihil serta menghilangkan cacat dan kesalahan kecil, sesuai dengan tujuan dilakukannya pemeriksaan utama.

Seiketsu (pemantapan)
Dalam istilah 5S, pemantapan berarti terus-menerus dan secara berulang-ulang memelihara pemilahan, penataan dan pembersihannya. Dengan demikian, pemantapan mencakup kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan. Pemantapan berarti memelihara keadaan bersih yang dalam konteks 5S, mencakup pertimbangan lain seperti warna, bentuk, pakaian, dan sebagainya yang memberikan suasana bersih.

Dalam hal ini terutama diperlukan manajemen visual dan pemantapan 5S. Inovasi dan manajemen terpadu digunakan untuk mencapai dan memelihara kondisi yang dimantapkan sehingga kita dapat bertindak dengan cepat.

Shitsuke (pembiasaan)
Umumnya, istilah ini berarti pelatihan dan kemampuan untuk melakukan apa yang ingin dilakukan meskipun itu sulit dilakukan. Dalam istilah 5S, ini berarti menanamkan (memiliki) kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang benar. Dalam hal ini, penekanannya adalah untuk menciptakan tempat kerja dengan kebiasaan dan perilaku yang baik. Dengan mengajarkan setiap orang apa yang harus dilakukan dan memerintahkan setiap orang untuk melaksanakannya, maka kebiasaan buruk akan terbuang dan kebiasaan baik akan terbentuk.

Istilah yang biasa yang digunakan di negara Jepang “gemba kaizen”, yang merupakan suatu ungkapan yang menyampaikan kesanggupan untuk kemajuan berkelanjutan dari praktek dan proses sebagai filosofi bisnis. Diterjemahkan ke bahasa Inggris “gemba” berarti shopfloor dan “kaizen” berartilah kemajuan berkelanjutan.

Berdasarkan kata-kata dalam bahasa Jepang yang dimulai dengan huruf ‘S‘, Filosofi 5S memusat pada pengorganisasi tempat kerja yang efektif dan prosedur pekerjaan yang distandardisasikan. 5S dapat bermanfaat dalam penyederhanaan lingkungan tempat kerja, pengurangan tingkat pemborosan, dan peningkatan efisiensi kealitas dan keselamatan.

Keuntungan dari penerapan 5S adalah : mengurangi produk sisa/ pemborosan, meningkatkan waktu set-up, meningkatkan kualitas, meningkatkan keamanan, meningkatkan moral, dan meningkatkan produktivitas. Prinsip 5S ini dapat kita bedakan dan kita jabarkan berdasarkan asal negaranya, yaitu antara lain sebagai berikut :

™ Negara Inggris :
■ Sort
→ Merupakan prinsip yang digunakan dalam memindahkan item- item yang tidak diperlukan.

■ Straighten
→ Merupakan prinsip yang digunakan dalam menempatkan item- item pada tempatnya masing-masing sesuai kegunaan.

■ Sweep
→ Merupakan prinsip yang digunakan dalam kegiatan membersihkan, baik secara fisik atau visual, dan digunakan juga dalam memindahkan hal-hal yang abnormal.

■ Standardize
→ Merupakan prinsip yang digunakan dalam kegiatan atau kerja membuat rutinitas dan standard yang terbaik.

■ Self Dicipline
→ Merupakan prinsip yang digunakan dalam kegiatan atau proses pendisiplinan diri dalam mempertahankan keseluruhan yang tercantum dalam prinsip 5S.

Keunggulan Yang Dihasilkan 5S
Setiap bagian proses 5S adalah penting dan mempunyai keunggulan masing-masing, tergantung dimana 5S tersebut diaplikasikan. 5S merupakan program “hidup” perusahaan untuk jangka panjang dan secara garis besar 5S mengubah cara orang merencanakan pekerjaannya.

5S merupakan barometer manajemen, untuk menerapkan 5S hanya dibutuhkan beberapa manajer yang tangguh, karena 5S lebih tergantung kepada setiap elemen karyawan yang ada untuk melaksanakannya dan meningkatkan diri mereka agar berhasil guna.

Bila setiap karyawan secara konsisten menjalankan program 5S yang telah dibuat maka akan tercipta suasana tempat kerja yang tersusun rapih dan aman, serta meningkatkan efisiensi dalam proses produksi tanpa menurunkan mutu dari produk yang dihasilkan. Keuntungan dari penerapan 5S adalah : mengurangi produk sisa/ pemborosan, meningkatkan waktu set-up, meningkatkan kualitas, meningkatkan keamanan, meningkatkan moral, dan meningkatkan produktivitas.

Pengertian Dan Tujuan Anthropometri Dan Data Anthropometri

Pengertian Dan Tujuan Anthropometri Dan Data Anthropometri
Istilah Anthropometri berasal dari kata “anthro” yang berarti manusia dan “metri”yang berarti ukuran. Anthropometri merupakan suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar, dan sebagainya) berat dan lain-lain yang berbeda antara satu dengan lainnya. Secara luas, antropometri akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia.

Anthropometri dan Aplikasinya dalam Perancangan Fasilitas
Kerja
Data anthropometri yang diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal:
• Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dan lain-lain)
• Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan lain sebagainya
• Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/ meja komputer, dan lain-lain
• Perancangan lingkungan kerja fisik

Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa data anthropometri akan menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan/ menggunakan produk tersebut. Dengan ini, maka perancang produk harus mampu mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangannya tersebut.

Secara umum, sekurang-kurangnya 90% : 95% dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk haruslah mampu menggunakannya dengan selayaknya. Contohnya adalah kursi mobil – di mana dirancang secara fleksibel, dapat digerakkan maju-mundur dan sudut sandarannya dapat pula dirubah untuk menciptakan posisi yang nyaman.

Pada dasarnya peralatan yang dibuat dengan mengambil referensi dimensi tubuh tertentu jarang sekali bisa mengakomodasikan seluruh range ukuran tubuh dari populasi yang akan memakainya. Kemampuan penyesuaian (adjustability) suatu produk merupakan satu prasyarat yang amat penting dalam proses perancangannya; terutama untuk produk-produk yang berorientasi ekspor.

Data Anthropometri dan Cara Pengukurannya
Pada umumnya, manusia berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga perancang produk harus memperhatikan beberapa faktor.

Pada pengukuran ini, tubuh diukur dalam berbagai posisi standart dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Istilah lain dari pengukuran tubuh dengan cara ini adalah “static anthropometry”. Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala, tinggi/ panjang lutut pada saat berdiri/ duduk, panjang lengan dan sebagainya. Ukuran dalam hal ini diambil dengan percentile tertentu seperti 5-th dan 95 th percentile.

• Pengukuran Dimensi Fungsional Tubuh (Functional Body Dimensions)
Pada pengukuran ini dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan. Hal yang paling penting ditekankan dalam pengukuran dimensi fungsional tubuh adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan erat dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Jadi pengukuran dilakukan pada saat tubuh melakukan gerakan-gerakan kerja atau dalam posisi yang “dinamis”. Cara pengukuran semacam ini akan menghasilkan data “dynamic anthropometry”. Anthropometri dalam posisi tubuh melaksanakan fungsinya yang dinamis akan banyak diaplikasikan dalam proses perancangan fasilitas ataupun ruang kerja. Contohnya adalah perancangan kursi mobil di mana di sini posisi tubuh pada saat melakukan gerakan mengoperasikan kemudi, tangkai pemindahan gigi, pedal, dan juga jarak antara dengan atap mobil maupun dashboard harus menggunakan data “dynamic anthropometry”.

Prinsip-prinsip dalam Perancangan Produk/ Fasilitas Kerja
Agar rancangan suatu produk nantinya dapat sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka diperlukan prinsip-prinsip yang diambil dalam aplikasi data anthropometri, yaitu antara lain:
a. Prinsip Perancangan Produk Bagi Individu Dengan Ukuran Yang Ekstrim
Pada prinsip ini, rancangan produk dibuat agar dapat memenuhi 2 sasaran produk, antara lain:
• Dapat sesuai untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil apabila dibandingkan dengan rata-ratanya.
• Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang ada).

Agar dapat memenuhi sasaran pokok tersebut, maka ukuran yang diaplikasikan ditetapkan dengan cara:
• Untuk dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan produk umumnya didasarkan pada nilai percentile yang terbesar seperti 90-th, 95-th atau 99-th percentile.

Contoh: pada penetapan ukuran minimal dari lebar dan tinggi pintu darurat.
• Untuk dimensi maksimum yang harus ditetapkan adalah berdasarkan nilai percentile yang paling rendah (1-th, 5-th,10-th percentile) dari distribusi data anthropometri yang ada.

Contoh: Dalam penetapan jarak jangkau dari suatu mekanisme kontrol yang harus dioperasikan oleh seorang pekerja.

Secara umum, aplikasi data anthropometri untuk perancangan produk atau fasilitas kerja akan memetapkan nilai 5-th percentile untuk dimensi maksimum dan 95-th percentile untuk dimensi minimum.

b. Prinsip Perancangan Produk Yang Bisa Dioperasikan Di Antara Rentang Ukuran Tertentu
Pada prinsip ini, rancangan dapat diubah-ubah ukurannya sehingga cukup fleksible dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh.

Contoh yang paling umum dijumpai adalah perancangan kursi mobil di mana dalam hal ini letaknya dapat digeser maju/ mundur dan sudut sandarannya dapat berubah-ubah sesuai dengan yang diinginkan.

Data anthropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai 5-th sampai dengan 95-th percentile.

c. Prinsip Perancangan Produk Dengan Ukuran Rata-rata
Pada prinsip ini, rancangan produk didasarkan terhadap rata- rata ukuran manusia. Produk dirancang dan dibuat untuk mereka yang berukuran sekitar rata-rata, sedangkan bagi mereka yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan sendiri.

Berkaitan dengan aplikasi data anthropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa saran yang diberikan sesuai dengan langkah- langkah sebagai berikut:

• Pertama kali terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh yang mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut.
• Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut.
• Tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai rancangan produk tersebut.
• Terapkan prinsip ukuran yang harus diikuti (misal: apakah rancangan tersebut untuk ukuran individual yang ekstrim, rentang ukuran yang fleksibel ataukah ukuran rata-rata).
• Pilih prosentase populasi yang harus diikuti.
• Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya pilih/ tetapkan nilai ukurannya dari tabel data anthropometri yang sesuai.

Metoda Pengukuran Anthropometri
Metoda Ukur Dengan Anthropometer
Dalam metoda ini, pengukuran dilakukan dengan mengunakan data anthropometri, di mana ketika kita akan merancang produk, digunakan perhitungan yang sudah baku yaitu dengan menggunakan persentil, baik percentile besar (90-th, 95-th, 99-th) maupun percentile kecil (5-th,10-th) tergantung dengan produk yang akan kita desain.

Contoh: mendesain sebuah pintu. Data rata-rata tinggi orang Indonesia sudah tersedia sehingga kita tinggal menghitungnya saja yaitu dengan menggunakan persentil besar (95-th) sehingga orang yang memiliki tinggi di atas rata-rata pun dapat melewati tinggi pintu tersebut apalagi untuk orang yang pendek.

Metoda Ukur Tukang Jahit
Dalam metoda ini, pengukuran dilakukan dengan mengukur satu - persatu sumber data, setelah itu baru kita olah menjadi data yang dapat digunakan sebagai patokan untuk membandingkan sesuatu.

Contoh: (contoh diatas); dengan menggunakan metoda ukur tukang jahit kita dapat mengira-ngira berapa tinggi pintu tersebut dengan cara mengukur satu persatu orang yang akan lewat pintu tersebut. Setelah diolah menjadi data, ukuran dari sumber data tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk membuat pintu di tempat yang lain. Apabila kita mengukur dengan menggunakan metode ini, ketika kita mendesain sesuatu produk harus sesuai dengan pengguna produk tersebut (pemakainya).

Studi Gerakan (Motion Study)
Definisi Studi Gerakan
Studi gerakan atau lazimnya disebut dengan motion study adalah suatu studi dasar tentang gerakan-gerakan yang dilakukan pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dengan demikian diharapkan agar gerakan- gerakan yang kurang efektif dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sehingga akan diperoleh waktu kerja yamg lebih efektif. Studi gerakan dikembangkan oleh sepasang suami istri. Frank dan Lilian Gilberth.

Studi gerakan yang dikembangkan oleh Frank dan Lilian Gilberth, umumnya diklasifikasikan ke dalam dua macam studi, yaitu :

1) Visual Motion Study
Melakukan pengamatan secara langsung (visual) terhadap operasi kerja yang sedang berlangsung dan untuk memudahkan dalam melakukan pengamatan Frank dan Lilian Gilberth menguraikan gerakan-gerakan dasar kerja ke dalam 17 gerakan dasar therblig, kemudian dibuat suatu peta yang dikenal sebagai Peta Proses Operasi (Operation Proses chart) dengan mengaplikasikan simbol-simbol therbligs. Selanjutnya melakukan analisa terhadap gerakan-gerakan kerja yang ada dengan mendasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi gerakan.

2) Micromotion Study
Dalam pelaksanaannya akan membutuhkan biaya yang lebih tinggi daripada Visual Motion Study dan biasanya dipergunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung cepat dan berulang-ulang. Analisa dapat dilakukan lebih detail karena menggunakan peralatan khusus (movie camera) untuk merekam gerakan-gerakan kerja yang berlangsung.

Visual Motion Study
Bila kita mengamati suatu pekerjaan yang sedang berlangsung, hal yang sudah pasti terlihat adalah gerakan-gerakan yang membentuk kerja tersebut. Setiap pekerjaan mempunyai uaraian/ elemen gerakan yang berbeda-beda antara satu pekerjaan dengan pekerjaan yang lain, sehingga untuk memudahkan penganalisaan terhadap gerakan-gerakan yang dipelajari, Frank B. Gilberth beserta istrinya Lilian Gilberth, menguraikan gerakan ke dalam 17 gerakan dasar atau elemen gerakan yang dinamakan therbligs. Pengertian dari setiap elemen gerakan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Mencari (Search).
Elemen gerakan mencari merupakan gerakan dasar dari pekerjaan untuk menemukan lokasi objek, yang bekerja dalam hal ini adalah mata.

2. Memilih (Select).
Memilih merupakan gerakan untuk menemukan suatu objek yang tercampur, tangan dan mata adalah dua bagian badan yang digunakan untuk melakukan gerakan ini.

3. Memegang ( Grasp).
Gerakan untuk memegang objek, biasanya didahului oleh gerakan menjangkau dan dilanjutkan oleh gerakan membawa. Therblig ini merupakan gerakan yang efektif dari suatu pekerjaan dan meskipun sulit untuk dihilangkan dalam beberapa keadaan masih dapat dikurangi.

4. Menjangkau (Reach).
Pengertian menjangkau dalam therblig adalah gerakan tangan berpindah tempat tanpa beban, baik gerakan mendekati maupun menjauhi objek.

5. Membawa (Move).
Elemen gerakan membawa juga merupakan gerak perpindahan tangan, tetapi dalam gerakan ini tangan dalam keadaan dibebani dan biasanya didahului oleh gerakan memegang kemudian dilanjutkan oleh melepas atau dapat juga oleh pengerahan (position).

6. Memegang atau Memakai (Hold).
Pengertian memegang atau memakai disini adalah memegang tanpa menggerakkan objek yang dipegang tersebut, perbedaan dengan memegang yang terdahulu adalah perlakuan terhadap objek yang dipegang.

7. Melepas (Released load).
Elemen gerak melepas terjadi apabila seorang pekerja melepaskan objek yang dipegangnya, gerakan ini relatif lebih singkat dibandingkan dengan gerakan yang lain.

8. Pengarahan (Position).
Therblig merupakan gerakan mengarahkan suatu objek pada suatu lokasi tertentu, yang biasanya didahului oleh gerakan mengangkut dan diikuti oleh merakit (assemble).

9. Pengarahan Sementara (Pre Position).
Mengarahkan sementara merupakan elemen gerakan mengarahkan pada suatu tempat sementara, yang tujuannya untuk memudahkan pemegangan apabila objek tersebut akan dipakai kembali dan mengurangi elemen gerak siklus kerja berikutnya.

10. Memeriksa (Inspection).
Therblig ini merupakan pekerjaan memeriksa objek untuk mengetahui apakah objek telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Elemen ini dapat berupa gerakan melihat seperti untuk memeriksa warna, meraba untuk memeriksa kehalusan permukaan, mencium, mendengarkan, dan kadang-kadang merasa dengan lidah.

11. Merakit (Assemble).
Perakitan adalah gerakan untuk menggabungkan satu objek dengan objek lainnya, sehingga menjadi satu kesatuan. Gerakan ini biasanya didahului oleh salah satu therblig membawa atau mengarahkan dan dilanjutkan oleh therblig melepas.

12. Lepas Rakit (Desassemble).
Therblig ini merupakan kebalikan dari therblig diatas, disini dua bagian objek dipisahkan dari kesatuan.

13. Memakai (Use).
Yang dimaksud dengan memakai disini adalah bila satu atau kedua tangan dipakai untuk menggunakan alat.

14. Kelambatan yang Tak Terhindar (Unavoidable delay).
Kelambatan yang dimaksudkan disini adalah kelambatan yang diakibatkan oleh hal-hal yang terjadi diluar kemampuan pengendalian si pekerja. Hal ini timbul karena ketentuan cara kerja yang mengakibatkan satu tangan menganggur sedangkan tangan yang lainnya bekerja.

15. Kelambatan yang Dapat Dihindarkan (Avoidable delay).
Kelambatan ini disebabkan oleh hal yang ditimbulkan sepanjang waktu kerja oleh pekerjanya, baik disengaja maupun tidak disengaja.

16. Merencana (Plan).
Merencana merupakan proses mental, dimana operator berpikir untuk menentukan tindakan yang akan diambil selanjutnya. Waktu therblig ini lebih sering terjadi pada seorang pekerja baru.

17. Istirahat untuk Menghilangkan Fatique (Rest to overcome fatoque).
Hal ini tidak terjadi pada setiap siklus kerja, tetapi secara periodik. Therblig yang efektif adalah semua elemen dasar yang berkaitan langsung dengan aktivitas pekerjaan. Therblig yang tidak efektif dan tidak berkaitan langsung dengan aktivitas pekerjaan dapat dihilangkan dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasar dari analisa operasi kerja dan ekonomi gerakan.

Ekonomi Gerakan
Di dalam menganalisa dan mengevaluasi metode kerja guna memperoleh metode kerja yang lebih efisien, maka perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip ekonomi gerakan (The Principles of Motion Economy). Prinsip ekonomi gerakan dapat dipergunakan untuk menganalisa gerakan-gerakan kerja setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun kerja dan bisa juga untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja lainnya.

Adapun prinsip-prinsip ekonomi gerakan yang dimaksudkan untuk mendapatkan suatu sistem kerja yang terancang baik sehingga memudahkan dan menyamankan gerakan-gerakan kerja untuk sejauh mungkin menghindarkan atau melambatkan datangnya kelemahan (fatique), untuk menganalisa gerakan-gerakan setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun kerja dan bisa pula untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh dari suatu sistem kerja ke stasiun kerja lainnya. Prinsip-prinsip ekonomi gerakan dapat dihubungkan dengan tiga hal, yaitu :
1. Tubuh manusia dengan gerakannya.
2. Pengaturan tata letak tempat kerja.
3. Perancangan peralatan kerja yang digunakan

Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Penggunaan
Badan/ Anggota Tubuh Manusia
1) Kedua tangan sebaiknya memulai dan mengakhiri gerakan pada saat yang sama.
2) Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur pada saat yang sama, kecuali pada saat istirahat.
3) Gerakan kedua tangan, akan lebih mudah jika satu terhadap yang lainnya simetris dan berlawanan arah (agar kedua tangan mencapai keseimbangan).
4) Gerakan tangan atau badan sebaiknya dihemat.

Maksudnya hanya menggerakkan tangan atau bagian badan yang diperlukan saja untuk melakukan pekerjaan sebaik-baiknya.

contohnya gerakan tangan dapat diklasifikasikan dalam tingkat gerak sebagai berikut :
- Gerakan jari.
- Gerakan jari, telapak tangan.
- Gerakan jari, telapak tangan, tangan bagian depan.
- Gerakan jari, telapak tangan, tangan bagian depan, dan lengan atas.
- Gerakan jari, telapak tangan, tangan bagian depan, lengan atas dan bahu.
5) Sebaiknya pegawai memanfaatkan keadaan untuk membantu pekerjaannya, dan pemanfaaat ini timbul karena berkurangnya kerja otot dalam bekerja.
6) Gerakan yang patah-patah, banyak perubahan arah akan memperlambat gerakan, dan perubahan arah gerakan dalam suatu pekerjaan akan memperlambat waktu penyelesaian kerja.
7) Gerakan balistik (gerak yang bebas) akan lebih cepat, menyenangkan, dan lebih teliti daripada gerakan yang dikendalikan, yaitu gerakan yang terjadi pada suatu pekerjaan dimana memerlukan dua otot yang berlawanan kerjanya (menulis; terdapat dua otot yang saling tahan, yaitu jari dan jempol).
8) Pekerjaan hendaknya dirancang semudah mungkin dan jika perlu irama kerja harus mengikuti irama yang alamiah bagi pegawai. Irama adalah suatu pengulangan yang teratur dari suatu siklus kerja oleh operator.
9) Usahakan sedikit mungkin gerakan mata. Objek-objek yang kecil, memerlukan gerakan mata untuk mengerjakannya. Seringkali antara tangan dan mata terjadi koordinasi dimana fungsi mata sebagai pengarah tangan. Rasa lelah yang dirasakan dan dialami oleh mata akan menjalar ke seluruh badan dengan cepat.

Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Tempat Kerja Berlangsung
1) Tempat-tempat tertentu yang tak sering dipindah- pindah harus disediakan untuk semua peralatan dan bahan sehingga dapat menimbulkan kebiasaan tetap (gerak rutin).
2) Letakkan bahan dan peralatan pada jarak yang dapat dengan mudah dan nyaman dicapai pekerja sehingga mengurangi usaha mencari-cari. Oleh karena itu semua bahan dan peralatan sedapat mungkin harus diatur tata letaknya menurut prinsip ini.

Bersangkutan dengan jarak jangkauan terdapat dua pengertian, yaitu :
- Daerah kerja normal : adalah daerah di depan pekerja yang dapat disapu oleh kedua tangan bagian depan dengan tidak menggerakan lengan bagian atas.
- Daerah kerja maksimum : adalah daerah yang dapat dijangkau oleh tangan jika direntangkan secara penuh.
3) Tata letak bahan dan peralatan kerja diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan urut-urutan gerakan yang terbaik.
4) Tinggi tempat kerja (mesin, meja kerja, dan lain- lainnya) harus sesuai dengan ukuran tubuh manusia sehingga pekerja dapat melaksanakan kegiatannya dengan mudah dan nyaman. Disini prinsip-prinsip anthropometri mutlak harus dipelajari pada saat akan merancang fasilitas kerja tersebut.
5) Kondisi ruangan pekerja seperti penerangan, temperatur, kebersihan, ventilasi udara, dan lain- lainnya yang berkaitan dengan persyaratan ergonomic harus pula diperhatikan benar-benar sehingga dapat diperoleh area kerja yang nyaman, aman dan mampu menumbuhkan motivasi kerja yang lebih baik.

Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Desain Peralatan Kerja Yang Dipergunakan
1) Kurangi sebanyak mungkin pekerjaan tubuh (manual) apabila hal tersebut dapat dilaksanakan dengan peralatan kerja.
2) Usahakan menggunakan peralatan kerja yang dapat melaksanakan berbagai macam pekerjaan sekaligus, baik yang sejenis maupun yang berlainan.
3) Siapkan dan letakkan semua peralatan kerja pada posisi tepat dan cepat untuk memudahkan pemakaian atau pengambilan pada saat diperlukan tanpa harus bersusah payah mencari-cari. Desain peralatan juga dibuat sedemikian rupa sehingga memberi kenyamanan genggaman tangan saat digunakan.
4) Jika tiap jari melakukan pekerjaan tertentu seperti pekerjaan mengetik misalnya, maka beban untuk masing-masing jari tersebut harus dibagi seimbang sesuai energi dan kekuatan yang dimilki oleh masing- masing jari.

Prinsip-Prinsip Pengaturan Komponen Pada Suatu Area Kerja
o Frequency of Use Principle
→ Merupakan prinsip pengaturan komponen pada suatu area kerja berdasarkan frekuensi penggunaannya. Semakin sering digunakannya komponen tersebut, maka peletakkan komponen tersebut semakin dekat terhadap operator.

o Use Principle
→ Merupakan prinsip pengaturan komponen pada suatu area kerja berdasarkan penggunaannya atau fungsi dari komponen tersebut. Misalnya dalam area kerja perakitan bentuk sepatu setengah jadi, pada work station 3 tidak diperlukan gunting, sedangkan pada work station 1 membutuhkan gunting, sehingga pada pengaturan komponen pada area kerja ini, gunting diletakkan pada work station 3.

o Sequence of Use Principle
→ Merupakan prinsip pengaturan komponen pada suatu area kerja berdasarkan urutan penggunaan komponen tersebut. Urutan yang dibuat pada pengaturan ini harus dibuat seefektifitas mungkin agar gerakan-gerakan yang dilakukan ekonomis (hanya seperlunya saja) sehingga tidak terjadi gerakan-gerakan yang tidak penting atau tidak diperlukan.

o Importance Principle
→ Merupakan prinsip pengaturan komponen pada suatu area kerja berdasarkan prinsip kepentingan daripada komponen tersebut. Semakin penting penggunaan komponen tersebut dalam suatu perakitan , maka pengaturan atau peletakkan komponen tersebut lebih strategis (lebih dekat dengan operator).

Pengertian Dan Tujuan Ergonomi, Apa Itu Ergonomi?

Pengertian Dan Tujuan Ergonomi, Apa Itu Ergonomi?
Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenal sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu, dengan efektif, aman dan nyaman.

Selain itu ergonomi juga merupakan suatu keilmuan yang multidisiplin, hal ini dikarenakan di sini akan mempelajari pengetahuan-pengetahuan dari ilmu kehayatan (kedokteran, biologi), ilmu kejiwaan (psichologi) dan kemasyarakatan (sosiologi).

Tujuan utama dari ergonomi adalah upaya memperbaiki performan kerja manusia seperti keselamatan kerja disamping untuk mengurangi energi kerja yang berlebihan serta mengurangi datangnya kelelahan yang terlalu cepat dan menghasilkan suatu produk yang nyaman, enak di pakai oleh pemakainya. Disamping itu diharapkan juga mampu memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia dan meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia (humam errors).

Aspek-aspek Ergonomis
Aspek-aspek ergonomis yang harus dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
• Sikap dan Posisi Kerja
Pertimbangan-pertimbangan ergonomis yang berkaitan dengan sikap/ posisi kerja akan sangat penting. Untuk menghindari sikap dan posisi kerja yang kurang favourable ini pertimbangan-pertimbangan ergonomis antara lain menyarankan hal-hal seperti:
  • Mengurangi keharusan operator untuk bekerja dengan sikap dan posisi membungkuk dengan frekuensi kegiatan yang sering atau jangka waktu lama.
  • Operator tidak seharusnya menggunakan jarak jangkauan maksimum yang bisa dilakukan.
  • Operator tidak seharusnya duduk atau berdiri pada saat bekerja untuk waktu lama dengan kepala, leher, dada atau kaki berada dalam sikap atau dalam posisi miring.
  • Operator tidak seharusnya dipaksa bekerja dalam periode yang lama dengan tangan atau lengan berada dalam posisi di atas level siku yang normal.
• Anthropometri dan Dimensi Ruang Kerja
Anthropometri pada dasarnya akan menyangkut ukuran fisik atau fungsi dari tubuh manusia. Data anthropometri akan sangan bermanfaat dalam perencanaan peralatan kerja atau fasilitas-fasilitas kerja. Dimensi ruang kerja akan dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu situasi fisik dan situasi kerja yang ada.

• Kondisi Lingkungan Kerja
Situasi dan lingkungan kerja bervariasi, di antaranya dalam hal temperatur, kelembaban, getaran, kebisingan dan lain-lain; akan tetapi stress akibat kondisi lingkungan fisik kerja akan terus berkumulasi dan secara tiba-tiba dapat menyebabkan hal yang fatal. Oleh karena itu, sangat penting mempertimbangkan seluruh aspek lngkungan fisik kerja yang memiliki potensial bahaya.

• Efisiensi Ekonomi Gerakan dan Pengaturan Fasilitas Kerja
Perancangan sistem kerja harus memperhatikan prosedur-prosedur untuk mengekonomikasikan gerakan-gerakan kerja sehingga dapat memperbaiki efisiensi dan mengurangi kelelahan kerja.

• Enersi Kerja yang Dikonsumsikan
Enersi kerja yang dikonsumsikan pada saat seseorang melaksanakan kegiatan merupakan faktor yang kurang diperhatikan, karena dianggap tidak penting bila mana dikaitkan dengan performans kerja yang ditunjukkan. Meskipun enersi dalam jumlah besar harus dikeluarkan untuk periode yan lama bisa menimbulkan kelelahan fisik, akan tetapi bahaya yang lebih besar justru kalau kelelahan menimpa pada mental manusia.

Definisi Dan Ruang Lingkup Ergonomi

Definisi Dan Ruang Lingkup Ergonomi 
Perubahan waktu, walaupun secara perlahan-lahan, telah merubah manusia dari keadaan primitif menjadi manusia yang berbudaya. Kejadian ini antara lain terlihat pada perubahan rancangan peralatan-peralatan yang dipakai, yaitu mulai dari batu yang tidak berbentuk menjadi batu yang mulai berbentuk dengan meruncingkan beberapa bagian dari batu tersebut. Perubahan pada alat sederhana ini, menunjukkan bahwa manusia telah sejak awal kebudayaannya berusaha memperbaiki alat-alat yang dipakainya untuk memudahkan pemakaiannya. Hal ini terlihat lagi pada alat-alat batu runcing yang bagian atasnya dipahat bulat tepat sebesar genggaman sehingga lebih memudahkan dan menggerakan pemakaiannya.

Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja yang ENASE (efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien). Ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mengarah kepada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life). 

Tujuan Ergonomi
Secara umum penerapan ergonomi terdiri dari banyak tujuan. berikut ini tujuan dalam penerapan ergonomi:
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
3. Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, dan antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi. (Tarwaka. dkk, 2004).

Definisi Ergonomi
Ergonomi berasal dari kata Yunani ergon (kerja) dan nomos (aturan), secara keseluruhan ergonomi berarti aturan yang berkaitan dengan kerja. Banyak definisi tentang ergonomi yang dikeluarkan oleh para pakar dibidangnya antara lain:
1. Ergonomi adalah ”Ilmu” atau pendekatan multidisipliner yang bertujuan mengoptimalkan sistem manusia-pekerjaannya, sehingga tercapai alat, cara dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan efisien (Manuaba, A, 1981).
2. Ergonomi adalah ilmu, seni, dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktifitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka. dkk, 2004).
3. Ergonomi adalah ilmu tentang manusia dalam usaha untuk meningkatkan kenyamanan di lingkungan kerja (Nurmianto, 1996).
4. Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal-optimalnya (Suma’mur, 1987).
5. Ergonomi adalah praktek dalam mendesain peralatan dan rincian pekerjaan sesuai dengan kapabilitas pekerja dengan tujuan untuk mencegah cidera pada pekerja. (OSHA, 2000).

Dari berbagai pengertian di atas, dapat diintepretasikan bahwa pusat dari ergonomi adalah manusia. Konsep ergonomi adalah berdasarkan kesadaran, keterbatasan kemampuan, dan kapabilitas manusia. Sehingga dalam usaha untuk mencegah cidera, meningkatkan produktivitas, efisiensi dan kenyamanan dibutuhkan penyerasian antara lingkungan kerja, pekerjaan dan manusia yang terlibat dengan pekerjaan tersebut.

Definisi ergonomi juga dapat dilakukan dengan cara menjabarkannya dalam fokus, tujuan dan pendekatan mengenai ergonomi (Mc Coinick 1993) dimana dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut:

1. Secara fokus
Ergonomi menfokuskan diri pada manusia dan interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dimana sehari-hari manusia hidup dan bekerja.

2. Secara tujuan
Tujuan ergonomi ada dua hal, yaitu peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja serta peningkatan nilai-nilai kemanusiaan, seperti peningkatan keselamatan kerja, pengurangan rasa lelah dan sebagainya.

3. Secara pendekatan
Pendekatan ergonomi adalah aplikasi informasi mengenai keterbatasan-keterbatasan manusia, kemampuan, karakteristik tingkah laku dan motivasi untuk merancang prosedur dan lingkungan tempat aktivitas manusia tersebut sehari-hari.

Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut diatas, definisi ergonomi dapat terangkumkan dalam definisi yang dikemukakan Chapanis (1985), yaitu ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia.

Sejarah Ergonomi
Ergonomi mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya. Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai berikut:

1. C.T. Thackrah, England, 1831
Trackrah adalah seorang dokter dari Inggris/England yang meneruskan pekerjaan dari seorang Italia bernama Ramazzini, dalam serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak nyaman yang dirasakan oleh para operator di tempat kerjanya. Ia mengamati postur tubuh pada saat bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Trackrah mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi-meja yang kurang sesuai secara antropometri, serta pencahayaan yang tidak ergonomis sehingga mengakibatkan menbungkuknya badan dan iritasi indera penglihatan.

2. F.W. Taylor, U.S.A., 1989
Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan suatu pekerjaan.

3. F.B. Gilbreth, U.S.A., 1911
Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja, dalam hal ini lebih mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor. Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia menunjukkan bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem meja yang dapat diatur turun-naik (adjustable).

4. E. Mayo dan teman-temannya, U.S.A., 1933
Elton Mayo seorang warga negara Australia, memulai beberapa studi di suatu Perusahaan Listrik. Tujuan studinya adalah untuk mengkuantifikasi pengaruh dari variabel fisik seperti pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap faktor efisiensi dari para operator kerja pada unit perakitan.

5. Pembentukan Kelompok Ergonomi
Pembentukan Masyarakat Peneliti Ergonomi (the Ergonomics Research Society) di England pada tahun 1949 melibatkan beberapa profesional yang telah banyak berkecimpung dalam bidang ini. Hal ini menghasilkan jurnal (majalah ilmiah) pertama dalam bidang Ergonomi pada November 1957.
Perkumpulan Ergonomi Internasional (The International Ergonomics Association) terbentuk pada 1957, dan The Human Factors Society di Amerika pada tahun yang sama.

Diketahui pula bahwa Konferensi Ergonomi Australia yang pertama diselenggarakan pada tahun 1964, dan hal ini mencetuskan terbentuknya Masyarakat Ergonomi Australia dan New Zealand (The Ergonomics Society of Australian and New Zealand).

Perkembangan Ergonomi
Perkembang ergonomi dipopulerkan pertama kali pada tahun 1949 sebagai judul buku yang dikarang oleh Prof. Murrel. Sedangkan kata ergonomi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu ergon (kerja) dan nomos (aturan/prinsip/kaidah). Istilah ergonomi digunakan secara luas di Eropa. Di Amerika Serikat dikenal istilah human factor atau human engineering. Kedua istilah tersebut (ergonomic dan human factor) hanya berbeda pada penekanannya. Intinya kedua kata tersebut sama-sama menekankan pada performansi dan perilaku manusia. Menurut Hawkins (1987), untuk mencapai tujuan praktisnya, keduanya dapat digunakan sebagai referensi untuk teknologi yang sama.

Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun yang lalu (Dan Mac Leod, 1995). Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia merancang benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan dalam melakukan pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tersebut untuk memudahkan penggunanya. Pada awalnya perkembangan tersebut masih tidak teratur dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang terjadi secara kebetulan.

Aplikasi / penerapan Ergonomi
Terdapat beberapa aplikasi / penerapan dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Aplikasi / penerapan tersebut antara lain:
1. Posisi Kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.

2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.

3. Tata letak tempat kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

Metode Ergonomi
Terdapat beberapa metode dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Metode-metode tersebut antara lain:
1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomic checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks.
2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi mebel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja.
3. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.

Prinsip Ergonomi
Memahami prinsip ergonomi akan mempermudah evaluasi setiap tugas atau pekerjaan meskipun ilmu pengetahuan dalam ergonomi terus mengalami kemajuan dan teknologi yang digunakan dalam pekerjaan tersebut terus berubah. Prinsip ergonomi adalah pedoman dalam menerapkan ergonomi di tempat kerja, menurut Baiduri dalam diktat kuliah ergonomi terdapat 12 prinsip ergonomi yaitu:
  1. Bekerja dalam posisi atau postur normal; 
  2. Mengurangi beban berlebihan; 
  3. Menempatkan peralatan agar selalu berada dalam jangkauan; 
  4. Bekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh; 
  5. Mengurangi gerakan berulang dan berlebihan; 
  6. Minimalisasi gerakan statis; 
  7. Minimalisasikan titik beban; 
  8. Mencakup jarak ruang; 
  9. Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman; 
  10. Melakukan gerakan, olah raga, dan peregangan saat bekerja; 
  11. Membuat agar display dan contoh mudah dimengerti; 
  12. Mengurangi stres. 
Pengelompokkan Bidang Kajian Ergonomi
Pengelompokkan bidang kajian ergonomi yang secara lengkap dikelompokkan oleh Dr. Ir. Iftikar Z. Sutalaksana (1979) sebagai berikut:
1. Faal Kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang meneliti energi manusia yang dikeluarkan dalam suatu pekerjaan. Tujuan dan bidang kajian ini adalah untuk perancangan sistem kerja yang dapat meminimasi konsumsi energi yang dikeluarkan saat bekerja.
2. Antropometri, yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia untuk digunakan dalam perancangan peralatan dan fasilitas sehingga sesuai dengan pemakainya.
3. Biomekanika yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan mekanisme tubuh dalam melakukan suatu pekerjaan, misalnya keterlibatan otot manusia dalam bekerja dan sebagainya.
4. Penginderaan, yaitu bidang kajian ergonomi yang erat kaitannya dengan masalah penginderaan manusia, baik indera penglihatan, penciuman, perasa dan sebagainya.
5. Psikologi kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang berkaitan dengan efek psikologis dan suatu pekerjaan terhadap pekerjanya, misalnya terjadinya stres dan lain sebagainya.

Pada prakteknya, dalam mengevaluasi suatu sistem kerja secara ergonomi, kelima bidang kajian tersebut digunakan secara sinergis sehingga didapatkan suatu solusi yang optimal, sehingga seluruh bidang kajian ergonomi adalah suatu sistem terintegrasi yang semata-mata ditujukan untuk perbaikan kondisi manusia pekerjanya.

Spesialisasi Bidang Ergonomi
Spesialisasi bidang ergonomi meliputi: ergonomi fisik, ergonomi kognitif, ergonomi sosial, ergonomi organisasi, ergonomi lingkungan dan faktor lain yang sesuai. Evaluasi ergonomi merupakan studi tentang penerapan ergonomi dalam suatu sistem kerja yang bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan penerapan ergonomi, sehingga didapatkan suatu rancangan keergonomikan yang terbaik.
1. Ergonomi Fisik: berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, anthropometri, karakteristik fisiolgi dan biomekanika yang berhubungan dnegan aktifitas fisik. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi fisik antara lain: postur kerja, pemindahan material, gerakan berulan-ulang, MSD, tata letak tempat kerja, keselamatan dan kesehatan.
2. Ergonomi Kognitif: berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di dalamnya ; persepsi, ingatan, dan reaksi, sebagai akibat dari interaksi manusia terhadap pemakaian elemen sistem. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi kognitif antara lain ; beban kerja, pengambilan keputusan, performance, human-computer interaction, keandalan manusia, dan stres kerja.
3. Ergonomi Organisasi: berkaitan dengan optimasi sistem sosioleknik, termasuk sturktur organisasi, kebijakan dan proses. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi organisasi antara lain ; komunikasi, MSDM, perancangan kerja, perancangan waktu kerja, timwork, perancangan partisipasi, komunitas ergonomi, kultur organisasi, organisasi virtual, dll.
4. Ergonomi Lingkungan: berkaitan dengan pencahayaan, temperatur, kebisingan, dan getaran. Topik-topik yang relevan dengan ergonomi lingkungan antara lain ; perancangan ruang kerja, sistem akustik,dll.

Pengertian Psikologi Industri Dan Organisasi

Pengertian Psikologi Industri Dan Organisasi
Pengertian industri mencakup juga pengertian business (perusahaan).
Psikologi industri dan organisasi merupakan hasil perkembangan dari psikologi umum, psikologi eksperimen dan psikologi khusus.

Sekarang, perilaku manusia dalam kaitan dengan kegiatan indusatri dan organisasi dipelajari untuk pengembangan teori, aturan dan prinsip psikologi baru yang berlaku umum dalam lingkup industri dan organisasi

Alat untuk mengukur perbedaan manusia juga tetap dikembangkan untuk meningkatkan kecermatan dalam melaksanakan pemeriksaan psikologis untuk tujuan seleksi, penempatan, pengenalan diri, penyuluhan kejuruan dan pengembangan kariere.

Segi terapan dari psikologi industri dan organisasi menimbulkan tafsiran bahwa psikologi bermanfaat bagi manajemen, bagi pimpinan dan pemilik perusahaan dan merugikan para tenaga kerja dan konsumen.

Psikologi industri dan organisasi merupakan suatu keseluruhan pengetahuan (a body of knowledge) yang berisi fakta, aturan2 dan prinsip2 tentang perilaku manusia pada pekerjaan. Pengetahuan ini dapat disalah gunakan sehingga dapat membahayakan dan merugikan pihak2 yang terlibat. Penggunaan pengetahuan psikologi industri dan organisasi harus ditujukan untuk kepentingan dan kemanfaatan pihak2 yang terlibat, baik perusahaan sebagai organisasi maupun karyawannya.

Psikologi industri dan organisasi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia:
  • Dalam perannya sebagai tenaga kerja dan sebagai konsumen
  • Baik secara perorangan maupun secara kelompok, dengan maksud agar temuannya dapat diterapkan dalam industri dan organisasi untuk kepentingan dan kemanfaatan manusianya dan organisasinya.
A. Psikologi industri dan organisasi sebagai ilmu
Masih menerapkan temuan2 dari psikologi pada umumnya, psikologi dan industri pada khususnya kedalam industri dan organisasi.

B. Psikologi industri dan organisasi mempelajari 
Perilaku manusia. 
Yang dimaksudkan denagn perilaku manusia ialah segala kegiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang secara langsung dapat diamati seperti berjalan, melompat, menulis, duduk, berbicara dan sebagainya maupun yang tidak dapat diamati secara langsung seperti berikir, perasaan, motivasi dan sebagainya..

Ilmu hanya menangani hingga menganalisis fakta2 yang dapat diamati, yang dapat dilihat, didengar, diraba, diukur dan dilaporkan, yang semuanya merupakan perilaku yang terbuka.

Perilaku yangtertutup disimpulkan melalui ungkapan kedalam perilaku yang terbuka.

Melalui observasi dari perilaku terbuka kita kita menafsirkan tentang erilaku yang tertutup.

C. Perilaku manusia dipelajari dalam perannya
Sebagai tenaga kerja dan sebagai konsumen.
Manusia dipelajari dalam interaksi dengan pekerjaannya., dengan lingkungan fisik dan lingkungan psiko-sosialnya di pekerjaannya.

Sebagai tenaga kerja manusia menjadi anggota organisasi industri dan sebagai konsumen ia menjadi pengguna dari produk atau jasa dari organisasi perusahaan.

D. Perilaku mabnuysia dipelajari secara perorangan dan secara kelompok.
Dalam organisasi ada unit kerja. Unit kerja yang besar terdiri dari unit2 kerja yang lebih kecil dan masing2 terdiri dari unit kerja yang lebih kecil lagi.

Dalam hubungan ini dipelajari bagaimana dampak satu kelompok atau unit kerja terhadap perilaku seorang tenaga kerja dan sebaliknya.

Juga dipelajari sejauh mana struktur, pola dan jenis organisasi mempengaruhi tenaga kerjanya, terhadap kelompok tenaga kerja dan terhadap seorang tenaga kerja.

Tentang konsumen dapat berbentuk, sejauh mana ada reaksi yang sama dari kelompok konsumen dengan ciri2 tertentu terhadap iklan suatu produk.

Berdasarkan temuan dikembangkan teori aturan2 atau hukum dan prinsip2 yang dapat diterapkan kembali kedalam kegiatan2 industri dan organisasi untuk kepentingan tenaga kerja, konsumen dan organisasinya dan untuk menguji ketepatannya.. Contohnya ditemukannya data tentang perbedaan manager yang berhasil dan yang tidak.

Wawasan psikologi industri dan organisasi
Psikologi industri dan organisasi berhubungan dengan industri dan organisasi.

Semula ilmu ini dinamakan psikologi industri yang fungsi utamanya menerapkan ilmu psikologi di industri.

Dengan berkembangnya psikologi industri menjadi ilmu yang mandiri maka namanya menjadi psikologi industri dan (psikologi) organisasi.

Dengan organisasi dimaksudkan organisasi formal yang mencakup organisasi yang mencari keuntungan, memproduksi barang atau jasa, dan organisasi yang tujuan utamanya bukan mencari keuntungan.

Organisasi dapat dipandang sebagasi suatu sistim yang terbuka.
Kast dan rosenzweig mengartikan sistim sebagai suatu kesatuan keseluruhan yang terorganisasi,yang terdiri dari dua atau lebih bagian, komponen atau subsitem, yang saling tergantung, yang dipisahkan dari suprasistim sebagai lingkungannya oleh batas2 yang dapat ditemu kenali.

Sistim berinteraksi dengan siustim lainnya dan membentuk suatu suprasistim.

Sistim juga terdiri dari dua atau lebih subsistim yang saling berinteraksi, dan masing2 subsistim terdiri dari sistim yang lebih kecil lagi yang saling berinteraksi dan seterusnya.

Dengan demikian dapat ditemukan suatu tata tingkat dari sistim.
Organisasi sebagai suatu sistim terdiri dari subsistim, yaitu satuan kerja yang yang besar seperti devisi atau urusan. Satuan kerja yang besar ini terdiri dari satuan2 kerja yang lebih kecil (sub-subsistim) seperti bagian. Setiap bagian terdiri dari satuan kerja yang lebih kecil lagi, misalnya seksi dan satuan kerja yang terkecil ialah tenaga kerja.

Organisasi industri berinteraksi dengan sistim lain dan masing2 unit memberi dampak yang tersendiri pada lingkungannya.

Dengan demikian setiap sistim membuat organisasi industri sebagai sistim berada dalam proses pertukaran yang sambung menyambung dengan lingkungannya, yaity sistim terbuka.

Sistim juga mempunyai batas yang dapat berupa fisik maupun non-fisik
Batas sistim mempunyai fungsi seleksi dan pengendalian terhadap macam dan banyaknya arus dari masukan dan keluaran.

Obyek yang dipelajari oleh psikolog industri dan organisasi adalah perilaku manusia sebagai tenaga kerja dan sebagai konsumen dalam kaitan:

A. Fungsi batas sistim
Yaitu secara perorangan atau secara kelompok seperti:
- Pelamar/calon tenaga kerja
- Tenaga kerja yang terlibat dalam proses pengadaan dan seleksi tenaga kerja
- Tenaga kerja yang terlibat dalam proses pengendalian mutu, pemasaran dan penjualan
- Konsumen, perorangan maupun perusahaan

B. Proses produksi dalam sistim seperti:
- Tenaga kerja pelaksana yang dikelola
- Tenaga kerja pengelola (manager).

Seleksi pelatihan dan pengembangan sasarannya agar tenaga kerja disesuaikan dengan tuntutan lingkungan kerjanya.

Kondisi kerja dan psikologi kerekayasaan berusaha untuk menyesuaikan lingkungan kerja fisik, mesin2, peralatan dan lingkungan kerja psikologis dengan keterbatasan kemampuan para tenaga kerjanya, agar mereka dapat bekerja effisien.

Hubungan antar tenagas kerja dapat saja menimbulkan berbagai masalah dan konflik yang memerlukan penyelesaian.

Pengembangan organisasi dengan berbagai jenis teknik intervensi dapat mengatasi berbagai masalah sehingga organisasi dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan “kesehatannya".

A. Kaitan dengan perilaku keorganisasian (organizational behavior).
Psikologi industri dan organisasi sangat erat hubungannya dengan perilaku keorganisasian. Kesamaan dalam bidang kajian terletak pada mempelajari perilaku manusia:
A. Dalam perannya sebagai tenaga kerja dan sebagai konsumen
B. Baik secara perorangan maupun secara kelompok.

Untuk kepentingan dan kemanfaatan manusianya dan organisasinya.
Sebagai tenaga kerja poerilaku dipelajari untuk menemukenali kepribadian, kecakapan2, ketrampilan, sikap dan ciri2 kepribadian:
1. Dengan tujuan khusus untuk seleksi dan penempatan, untuk pelatihan dan pengembangan
2. Dalam interaksi dengan lingkungan fisiknya
3. Dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya.

Perilaku organisasi lebih berfokus pada no. 3.

B. Kaitannya dengan manager sumber daya manusia
Di indonesia kebanyakan orang sukar dapat membedakan antara psikologi industri dan organisasi dan managemen sumber daya manusia.

Obyek studinya ialah sama yaitu manusia sebagai tenaga manusia.

Perbedaan utama terletak pada kondisi dimana manusia sebagai tenaga dipelajari kerja.
Pada managemen sumber daya manusia, perilaku manusia dipelajari dalam kaitannya dengan managemen dan bagaimana manusia sebagai tenaga kerja dapat dimanagemeni secara efektif menjadi pokok bahasan.

Topik2 yang sama ialah seleksi tenaga kerja, pelatihan, motivasi dan kepemimpinan, tetapi masaing2 ditangani dengan cara yang berbeda.

Managemen sumber daya manusia bekerja berdasarkan effisiensi dan efektivitas kerja sedangkan psikologi industri berdasarkan mencari ciri2 yang absah pada manusia.

Manajemen Pemasaran, Analisa Perilaku Konsumen

Manajemen Pemasaran, Analisa Perilaku Konsumen
Konsep Pemasaran Dalam Industri Perbankan Di Indonesia
“Tingkatkan produksi, turunkan harga” demikian pemikiran Henry Ford dalam mengembangkan pasar mobil era 1900 an (Kotler & Amstrong, 1991). Dengan berbagai kemampuan, Ford meningkatkan produksi secara besar-besaran untuk mengurangi biaya. Hasil menunjukkan Ford mampu menguasai pasar mobil di Amerika Serikat (AS) dengan strategi biaya minimum.

Saat ini di seluruh dunia termasuk di AS kejayaan Ford telah berakhir berganti dengan era mobil-mobil Jepang. Padahal di AS, Ford diyakini sebagai mobilnya orang Amerika yang tak akan tergoyahkan. Gencarnya serbuan mobil-mobil buatan Jepang dengan strategi memahami konsumen AS membuat kampiun industri mobil ini collapse sehingga akhirnya menjadi tamu di negerinya sendiri.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa dalam persaingan yang sangat kompetitif, pemimpin industri (industry leader) yang sebelumnya begitu dominan dapat terhempas. Kasus yang lebih aktual adalah goyahnya jawara industri komputer IBM oleh tekanan Compaq. Dalam industri perbankan di Indonesia, Bank Mandiri menjadi bank terbesar di Indonesia menggantikan kedudukan Bank BNI dan Bank BCA. Contoh lainnya dalam industri perbankan syariah, Bank Syariah Mandiri menjadi bank syariah terbesar menggeser peran Bank Muammalat Indonesia.

Situasi tersebut menggambarkan gelombang perubahan yang dahsyat dalam bisnis. Gelombang perubahan tersebut mengakibatkan pergeseran paradigma pemasaran dan bisnis. Pesaing di dalam industri semakin banyak dan berkualitas. Demikian halnya konsumen semakin cerdas dalam memilih produk.

Perubahan dalam lingkungan bisnis adalah sebuah keniscayaan. “Tidak ada sesuatu yang konstan atau tetap, kecuali perubahan itu sendiri” . Implikasinya, setiap perusahaan seharusnya adaptif dan antisipatif terhadap perubahan apabila mereka tidak ingin menjadi cerita indah di masa lalu.

Bagaimana dalam Konteks Industri Perbankan di Indonesia? 
Bagi industri perbankan, kasus-kasus pemasaran dapat dijadikan semacam proyeksi dalam menerapkan strategi menghadapi gempuran perubahan. Kompetitor yang muncul bukan hanya sesama pemain dalam industri perbankan, tetapi juga lembaga keuangan bukan bank, misalnya modal ventura, reksadana, pasar modal, BMT dan sebagainya.

Dalam konteks perbankan nasional telah terjadi revolusi yang sangat fundamental. Berawal dari serangkaian kebijakan deregulasi di sektor keuangan, khususnya menyangkut bidang perbankan dan moneter yang juga menandai berakhirnya represi keuangan (financial repression) dan di mulainya liberalisasi keuangan perbankan (financial liberalization).

Kehadiran kebijakan Paket Juni (pakjun) 1983, Paket Oktober (pakto)1988 dan paket-paket berikutnya menyebabkan persaingan semakin kompetitif dan nasabah menjadi semakin selektif karena keberadaan penawaran produk yang semakin meningkat. Paradigma yang menekankan pada berbagai upaya mendapatkan laba dengan cara menjual sebanyak-banyaknya agar mencapai laba maksimal (selling concept) menjadi usang. Dahulu selling concept memang membuahkan hasil karena pasarnya adalah pasar penjual (seller’s market). Namun kondisi saat ini, yaitu pasokan melebihi permintaan, maka upaya mendongkrak penjualan tidak mampu memecahkan persoalan jangka panjang perusahaan.

Customer Driven Company
Keberhasilan bisnis perbankan dewasa ini sangat ditentukan kepuasan nasabahnya. Hal tersebut sejalan dengan pandangan para ahli pemasaran bahwa pelanggan adalah faktor kunci keberhasilan pemasaran (Assael, 1998; Dharmesta & Handoko, 2000). Dalam buku terbarunya ”Beyond Maxi Marketing”, Stan Rapp dan Collins (dikutip dalam Kertajaya, 1999) berpendapat bahwa kondisi saat ini konsumen akan semakin pintar, minta dilayani secara pribadi, minta terlibat dalam pengembangan suatu produk, makin sensitif dan makin tidak loyal pada merek tertentu. Dengan demikian permintaan dan harapan-harapan mereka (nasabah) semakin meningkat.

Dalam persaingan yang semakin tajam, program-program pengembangan kualitas produk bagi pengembangan kualitas untuk kepuasan nasabah menjadi hal yang bersifat fardlu ’ain (wajib secara individual). Dalam situasi tersebut, sikap dan perilaku nasabah kritis dan cerdas. Oleh karena itu bank harus dapat dan mau mengerti arti nilai suatu produk di mata nasabah, agar dapat memuaskan kebutuhan mereka. 

Dalam pandangan Kertajaya (1999) telah terjadi pergeseran orientasi perusahaan dari pemasaran yang masih berorientasi perusahaan (marketing oriented company) menjadi perusahaan yang fokus pada pelanggan (custoner driven company). Pergeseran tersebut dipicu oleh situasi persaingan pada saat itu. Apabila situasi persaingan rendah atau bahkan tidak ada persaingan, maka pemasaran tidak atau belum terlalu dibutuhkan perusahaan. Apabila dalam situasi persaingan yang semakin keras maka fungsi pemasaran menjadi semakin penting di dalam perusahaan. Sedangkan pada situasi persaingan yang sangat keras, tidak dapat diduga dan kacau, maka pemasaran harus menjadi jiwa setiap orang di dalam perusahaan tersebut.

Pada kondisi persaingan yang sangat keras di atas, jiwa organisasi adalah pemasaran. Dari sisi struktur organisasi, mungkin tidak ada departemen pemasaran atau bahkan istilah pemasaran telah hilang dari badan organisasi, namun setiap departemen dan unit memiliki jiwa pemasaran. Kombinasi pemasaran yang dibangun perusahaan telah bergeser dari 4-P (product, price,place, promotion) menjadi 4-C, yaitu sebagai berikut:
  • Customer solution (solusi untuk pelanggan) artinya perusahaan berpandangan bahwa produk akan semakin bermakna apabila dapat memberikan solusi bagi atas masalah yang dihadapi pelanggannya. 
  • Cost (biaya dari sisi pelanggan) artinya perusahaan seharusnya melihat penetapan harga (price) sebagai suatu konsekuensi finansial secara total yang merupakan beban bagi pelanggan. 
  • Convenient channel, merupakan refleksi dari timbulnya bermacam-macam cara pelanggan membeli produk. Produsen tidak bisa hanya mengandalkan distributor konvensional, tetapi harus memberikan berbagai pilihan bagi konsumen dalam mendapatkan produk. 
  • Communication, interaksi yang bersifat dua atah merupakan revolusi besar dari bauran pemasaran (marketing mix) yang berkonotasi satu arah.

Penerapan Radioaktif Dalam Berbagai Bidang Kehidupan

Penerapan Radioaktif Dalam Berbagai Bidang Kehidupan 
Tahukah anda bahwa di sekitar kita ternyata banyak sekali terdapat radiasi? Disadari ataupun tanpa disadari ternyata di sekitar kita baik di rumah, di kantor, di pasar, di lapangan, maupun di tempat-tempat umum lainnya ternyata banyak sekali radiasi. Yang perlu diketahui selanjutnya adalah sejauh mana radiasi tersebut dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan kita.

Radiasi dalam istilah fisika, pada dasarnya adalah suatu cara perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium. Beberapa contohnya adalah perambatan panas, perambatan cahaya, dan perambatan gelombang radio. Selain radiasi, energi dapat juga dipindahkan dengan cara konduksi, kohesi, dan konveksi. Dalam istilah sehari-hari radiasi selalu diasosiasikan sebagai radioaktif sebagai sumber radiasi pengion.

Secara garis besar ada dua jenis radiasi yakni radiasi pengion dan radiasi bukan pengion. Radiasi pengion adalah radiasi yang dapat menyebabkan proses terlepasnya electron dari atom sehingga terbentuk pasangan ion. Karena sifatnya yang dapat mengionisasi bahan termasuk tubuh kita maka radiasi pengion perlu diwaspadai adanya utamanya mengenai sumber-sumbernya, jenis-jenis, sifatnya, akibatnya, dan bagaimana cara menghindarinya.

1. Curie(Ci) dan Becquerel (Bq) 
Curie dan Becquerel adalah satuan yang dinyatakan untuk menyatakan keaktifan yakni jumlah disintegrasi (peluruhan) dalam satuan waktu. Dalam sistem satuan SI, keaktifan dinyatakan dalam Bq. Satu Bq sama dengan satu disintegrasi per sekon. 
1Bq = 1 dps 
dps = disintegrasi per sekon 

Satuan lain yang juga biasa digunakan ialah Curie. Satu Ci ialah keaktifan yang setara dari 1 gram garam radium, yaitu 3,7.1010 dps. 
1Ci = 3,7.1010 dps = 3,7.1010 Bq 

2. Gray (gy) dan Rad (Rd) 
Gray dan Rad adalah satuan yang digunakan untuk menyatakan keaktifan yakni jumlah (dosis) radiasi yang diserap oleh suatu materi. Rad adalah singkatan dari 11 radiation absorbed dose. Dalam sistem satuan SI, dosis dinyatakan dengan Gray (Gy). Satu Gray adalah absorbsi 1 joule per kilogram materi. 

1 Gy = 1 J/kg 
Satu rad adalah absorbsi 10-3 joule energi/gram jaringan. 

1 Rd = 10-3 J/g 
Hubungan grey dengan fad 

1 Gy = 100 rd 

3. REM
Daya perusak dari sinar-sinar radioaktif tidak saja bergantung pada dosis tetapi juga pada jenis radiasi itu sendiri. Neutron, sebagai contoh, lebih berbahaya daripada sinar beta dengan dosis dan intensitas yang sama. Rem adalah satuan dosis setelah memperhitungkan pengaruh radiasi pada makhluk hidup (REM adalah singkatan dari radiation equivalent for man) 

SUMBER RADIASI
Berdasarkan asalnya sumber radiasi pengion dapat dibedakan menjadi dua yaitu sumber radiasi alam yang sudah ada di alam ini sejak terbentuknya, dan sumber radiasi buatan yang sengaja dibuat oleh manusia untuk berbagai tujuan. 

Sumber radiasi alam 
Radiasi yang dipancarkan oleh sumber radiasi alam disebut juga sebagai radiasi latar belakang. Radiasi ini setiap harinya memajan manusia dan merupakan radiasi terbesar yang diterima oleh manusia yang tidak bekerja di tempat yang menggunakan radioaktif atau yang tidak menerima radiasi berkaitan dengan kedokteran atau kesehatan. Radiasi latar belakang yang diterima oleh seseorang dapat berasal dari tiga sumber utama yaitu :

1. Sumber radiasi kosmis
Radiasi kosmis berasal dari angkasa luar, sebagian berasal dari ruang antar bintang dan matahari. Radiasi ini terdiri dari partikel dan sinar yang berenergi tinggi dan berinteraksi dengan inti atom stabil di atmosfir membentuk inti radioaktif seperti Carbon-14, Helium-3, Natrium-22, dan Be-7. Atmosfir bumi dapat mengurangi radiasi kosmik yang diterima oleh manusia. Tingkat radiasi dari sumber kosmik ini bergantung kepada ketinggian, yaitu radiasi yang diterima akan semakin besar apabila posisinya semakin tinggi. Tingkat radiasi yang diterima seseorang juga tergantung pada letak geografisnya.

2. Sumber radiasi terestrial 
Radiasi terestrial secara natural dipancarkan oleh radionuklida di dalam kerak bumi. Radiasi ini dipancarkan oleh radionuklida yang disebut primordial yang ada sejak terbentuknya bumi. Radionuklida yang ada dalam kerak bumi terutama adalah deret uranium, yaitu peluruhan berantai mulai dari uranium-238, plumbum-206, deret actinium (u-235, pb-207) dan deret thorium (th-232, pb-208). 

Radiasi teresterial terbesar yang diterima manusia berasal dari radon (r-222) dan thoron (ra-220) karena dua radionuklida ini berbentuk gas sehingga bisa menyebar kemana-mana. 

Tingkat radiasi yang diterima seseorang dari radiasi teresterial ini berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain bergantung pada konsentrasi sumber radiasi di dalam kerak bumi. Beberapa tempat di bumi yang memiliki tingkat radiasi diatas rata-rata misalnya Pocos de Caldas dan Guarapari di Brazil, Kerala dan Tamil Nadu di India, dan Ramsar di Iran.

3. Sumber radiasi internal yang berasal dari dalam tubuh sendiri 
Sumber radiasi ini ada di dalam tubuh manusia sejak dilahirkan, dan bisa juga masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, pernafasan, atau luka. Radiasi internal ini terutama diterima dari radionuklida C-14, H-3, K-40, Radon, selain itu masih ada sumber lain seperti Pb-210, Po-210, yang banyak berasal dari ikan dan kerang-kerangan. Buah-buahan biasanya mengandung unsur K-40.

Sumber Radiasi Buatan 
Sumber radiasi buatan telah diproduksi sejak abad ke 20, dengan ditemukannya sinar-X oleh WC Rontgen. Saat ini sudah banyak sekali jenis dari sumber radiasi buatan baik yang berupa zat radioaktif dan sumber pembangkit radiasi (pesawat sinar-X dan akselerator).

Radioaktif dapat dibuat oleh manusia berdasarkan reaksi inti antara nuklida yang tidak radioaktif dengan neutron atau biasa disebut sebagai reaksi fisi di dalam reactor atom. Radionuklida buatan ini bisa memancarkan radiasi alpha, beta, gamma dan neutron. 

Sumber pembangkit radiasi yang lazim dipakai yakni pesawat sinar-X dan akselerator. Proses terbentuknya sinar-X adalah sebagai akibat adanya arus listrik pada filamen yang dapat menghasilkan awan elektron di dalam tabung hampa. Sinar-X akan terbentuk ketika berkas elektron ditumbukkan pada bahan target.

Dampak Radioaktif Pada Materi Dan Makhluk Hidup 
Pengertian atau arti definisi pencemaran radioaktif adalah suatu pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh debu radioaktif akibat terjadinya ledakan reaktor-reaktor atom serta bom atom. Yang paling berbahaya dari pencemaran radioaktif seperti nuklir adalah radiasi sinar alpha, beta dan gamma yang sangat membahayakan makhluk hidup di sekitarnya. Selain itu partikel-partikel neutron yang dihasilkan juga berbahaya. Zat radioaktif pencemar lingkungan yang biasa ditemukan adalah 90SR merupakan karsinogen tulang dan 131J.

1. Pengaruh Radiasi pada Materi 
Radiasi menyebabkan penumpukan energi pada materi yang dilalui. Dampak yang ditimbulkan radiasi dapat berupa ionisasi, eksitasi, atau pemutusan ikatan kimia. 

Ionisasi : dalam hal ini partikel radiasi menabrak elektron orbital dari atom atau molekul zat yang dilalui sehingga terbentuk ion positif dan elektron terion. 

Eksitasi : dalam hal ini radiasi tidak menyebabkan elektron terlepas dari atom atau molekul zat tetapi hanya berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi. 

Pemutusan Ikatan Kimia : radiasi yang dihasilkan oleh zat radioaktif mempunyai energi yang dapat memutuskan ikatan-ikatan kimia. 

2. Pengaruh Radiasi pada makhluk hidup 
Walaupun energi yang ditumpuk sinar radioaktif pada makhluk hidup relatif kecil tetapi dapat menimbulkan pengaruh yang serius. Hal ini karena sinar radioaktif dapat mengakibatkan ionisasi, pemutusan ikatan kimia penting atau membentuk radikal bebas yang reaktif. Ikatan kimia penting misalnya ikatan pada struktur DNA dalam kromosom. Perubahan yang terjadi pada struktur DNA akan diteruskan pada sel berikutnya yang dapat mengakibatkan kelainan genetik, kanker dll. 

Pengaruh radiasi pada manusia atau makhluk hidup juga bergantung pada waktu paparan. Suatu dosis yang diterima pada sekali paparan akan lebih berbahaya daripada bila dosis yang sama diterima pada waktu yang lebih lama. 

Secara alami kita mendapat radiasi dari lingkungan, misalnya radiasi sinar kosmis atau radiasi dari radioakif alam. Disamping itu, dari berbagai kegiatan seperti diagnosa atau terapi dengan sinar X atau radioisotop. Orang yang tinggal di sekitar instalasi nuklir juga mendapat radiasi lebih banyak, tetapi masih dalam batas aman. 

Apabila ada makhluk hidup yang terkena radiasi atom nuklir yang berbahaya biasanya akan terjadi mutasi gen karena terjadi perubahan struktur zat serta pola reaksi kimia yang merusak sel-sel tubuh makhluk hidup baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan atau binatang.

Pemanfaatan Radioaktif
Sebagai perunut, radioisotop ditambahkan ke dalam suatu sistem untuk mempelajari sistem itu, baik sistem fisika, kimia maupun sistem biologi. Oleh karena radioisotop mempunyai sifat kimia yang sama seperti isotop stabilnya, sehingga radioisotop dapat digunakan untuk menandai suatu senyawa sehingga perpindahan perubahan senyawa itu dapat dipantau. 

1. Bidang kedokteran 
Berbagai jenis radioisotop digunakan sebagai perunut untuk mendeteksi (diagnosa) berbagai jenis penyakit al:teknesium (Tc-99), talium-201 (Ti-201), iodin 131(1-131), natrium-24 (Na-24), ksenon-133 (xe-133) dan besi (Fe-59). Tc-99 yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah akan diserap terutama oleh jaringan yang rusak pada organ tertentu, seperti jantung, hati dan paru-paru Sebaliknya Ti-201 terutama akan diserap oleh jaringan yang sehat pada organ jantung. Oleh karena itu, kedua isotop itu digunakan secara bersama-sama untuk mendeteksi kerusakan jantung 1-131 akan diserap oleh kelenjar gondok, hati dan bagian-bagian tertentu dari otak. Oleh karena itu, 1-131 dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan pada kelenjar gondok, hati dan untuk mendeteksi tumor otak. Larutan garam yang mengandung Na-24 disuntikkan ke dalam pembuluh darah untuk mendeteksi adanya gangguan peredaran darah misalnya apakah ada penyumbatan dengan mendeteksi sinar gamma yang dipancarkan isotop Natrium tersebut. 

Xe-133 digunakan untuk mendeteksi penyakit paru-paru. P-32 untuk penyakit mata, tumor dan hati. Fe-59 untuk mempelajari pembentukan sel darah merah. Kadang-kadang, radioisotop yang digunakan untuk diagnosa, juga digunakan untuk terapi yaitu dengan dosis yang lebih kuat misalnya, 1-131 juga digunakan untuk terapi kanker kelenjar tiroid. 

2. Bidang lndustri 
Untuk mempelajari pengaruh oli dan additif pada mesin selama mesin bekerja digunakan suatu isotop sebagai perunut, Dalam hal ini, piston, ring dan komponen lain dari mesin ditandai dengan isotop radioaktif dari bahan yang sama. 

3. Bidang Hidrologi
1. Mempelajari kecepatan aliran sungai. 
2. Menyelidiki kebocoran pipa air bawah tanah. 

4. Bidang Biologis 
1. Mempelajari kesetimbangan dinamis. 
2. Mempelajari reaksi pengesteran. 
3. Mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis. 
4. Radioisotop sebagai sumber radiasi. 

Radioaktifitas Yang Direkomendasikan
Berdasarkan ketentuan International Atomic Energy Agency, zat radioaktif adalah setiap zat yang memancarkan radiasi pengion dengan aktifitas jenis lebih besar dari 70 kilo Becquerel per kilogram atau 2 nanocurie per gram. Angka 70 kBq/kg atau 2 nCi/g tersebut merupakan patokan dasar untuk suatu zat dapat disebut zat radioaktif pada umumnya. Jadi untuk radioaktif dengan aktifitas lebih kecil dapat dianggap sebagai radiasi latar belakang. 

Besarnya dosis radiasi yang diterima oleh pekerja radiasi tidak boleh melebihi 50 milisievert per tahun, sedangkan besarnya dosis radiasi yang diterima oleh masyarakat pada umumnya tidak boleh lebih dari 5 milisievert per tahun.

Di koran-koran dan televisi, kita sering melihat artikel-artikel atau tayangan yang berkaitan dengan nuklir, apakah itu mengenai rencana pembangunan PLTN di Muria atau mengenai kebocoran air radioaktif dari PLTN Jepang setelah diguncang gempa. Sering diberitakan pula mengenai kecelakaan reaktor Chernobyl di Uni Sovyet yang menyebabkan kerusakan lingkungan, dan menyebabkan penyebaran zat radioaktif kemana-mana. Juga bahaya-bahaya yang ditimbulkannya. Apabila kita mendengar kata radiasi nuklir atau unsur-unsur radioaktif pada tayangan tersebut, yang terbayang dalam benak kita adalah ledakan bom atom, orang yang terkena kanker dan bayangan-bayangan mengerikan lainnya. Padahal, kalau kita membaca buku fisika atau kimia mengenai radiasi nuklir dan partikel radioaktif (radionuklida), kita akan tahu bahwa sebenarnya yang kita makan, kita hirup dan kita serap sehari-hari juga mengandung hal-hal itu. Jadi radiasi nuklir atau partikel radioaktif bukanlah semata-mata sesuatu yang terpendam di bumi dan diambil orang untuk membuat bom atom atau untuk mencemari lingkungan dengan air radioaktif, seperti yang banyak dipropagandakan.
 

Kumpulan Artikel News Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger