Pengertian Dan Tujuan Anthropometri Dan Data Anthropometri

Pengertian Dan Tujuan Anthropometri Dan Data Anthropometri
Istilah Anthropometri berasal dari kata “anthro” yang berarti manusia dan “metri”yang berarti ukuran. Anthropometri merupakan suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar, dan sebagainya) berat dan lain-lain yang berbeda antara satu dengan lainnya. Secara luas, antropometri akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia.

Anthropometri dan Aplikasinya dalam Perancangan Fasilitas
Kerja
Data anthropometri yang diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal:
• Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dan lain-lain)
• Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan lain sebagainya
• Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/ meja komputer, dan lain-lain
• Perancangan lingkungan kerja fisik

Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa data anthropometri akan menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan/ menggunakan produk tersebut. Dengan ini, maka perancang produk harus mampu mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangannya tersebut.

Secara umum, sekurang-kurangnya 90% : 95% dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk haruslah mampu menggunakannya dengan selayaknya. Contohnya adalah kursi mobil – di mana dirancang secara fleksibel, dapat digerakkan maju-mundur dan sudut sandarannya dapat pula dirubah untuk menciptakan posisi yang nyaman.

Pada dasarnya peralatan yang dibuat dengan mengambil referensi dimensi tubuh tertentu jarang sekali bisa mengakomodasikan seluruh range ukuran tubuh dari populasi yang akan memakainya. Kemampuan penyesuaian (adjustability) suatu produk merupakan satu prasyarat yang amat penting dalam proses perancangannya; terutama untuk produk-produk yang berorientasi ekspor.

Data Anthropometri dan Cara Pengukurannya
Pada umumnya, manusia berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga perancang produk harus memperhatikan beberapa faktor.

Pada pengukuran ini, tubuh diukur dalam berbagai posisi standart dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Istilah lain dari pengukuran tubuh dengan cara ini adalah “static anthropometry”. Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala, tinggi/ panjang lutut pada saat berdiri/ duduk, panjang lengan dan sebagainya. Ukuran dalam hal ini diambil dengan percentile tertentu seperti 5-th dan 95 th percentile.

• Pengukuran Dimensi Fungsional Tubuh (Functional Body Dimensions)
Pada pengukuran ini dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan. Hal yang paling penting ditekankan dalam pengukuran dimensi fungsional tubuh adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan erat dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Jadi pengukuran dilakukan pada saat tubuh melakukan gerakan-gerakan kerja atau dalam posisi yang “dinamis”. Cara pengukuran semacam ini akan menghasilkan data “dynamic anthropometry”. Anthropometri dalam posisi tubuh melaksanakan fungsinya yang dinamis akan banyak diaplikasikan dalam proses perancangan fasilitas ataupun ruang kerja. Contohnya adalah perancangan kursi mobil di mana di sini posisi tubuh pada saat melakukan gerakan mengoperasikan kemudi, tangkai pemindahan gigi, pedal, dan juga jarak antara dengan atap mobil maupun dashboard harus menggunakan data “dynamic anthropometry”.

Prinsip-prinsip dalam Perancangan Produk/ Fasilitas Kerja
Agar rancangan suatu produk nantinya dapat sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka diperlukan prinsip-prinsip yang diambil dalam aplikasi data anthropometri, yaitu antara lain:
a. Prinsip Perancangan Produk Bagi Individu Dengan Ukuran Yang Ekstrim
Pada prinsip ini, rancangan produk dibuat agar dapat memenuhi 2 sasaran produk, antara lain:
• Dapat sesuai untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil apabila dibandingkan dengan rata-ratanya.
• Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang ada).

Agar dapat memenuhi sasaran pokok tersebut, maka ukuran yang diaplikasikan ditetapkan dengan cara:
• Untuk dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan produk umumnya didasarkan pada nilai percentile yang terbesar seperti 90-th, 95-th atau 99-th percentile.

Contoh: pada penetapan ukuran minimal dari lebar dan tinggi pintu darurat.
• Untuk dimensi maksimum yang harus ditetapkan adalah berdasarkan nilai percentile yang paling rendah (1-th, 5-th,10-th percentile) dari distribusi data anthropometri yang ada.

Contoh: Dalam penetapan jarak jangkau dari suatu mekanisme kontrol yang harus dioperasikan oleh seorang pekerja.

Secara umum, aplikasi data anthropometri untuk perancangan produk atau fasilitas kerja akan memetapkan nilai 5-th percentile untuk dimensi maksimum dan 95-th percentile untuk dimensi minimum.

b. Prinsip Perancangan Produk Yang Bisa Dioperasikan Di Antara Rentang Ukuran Tertentu
Pada prinsip ini, rancangan dapat diubah-ubah ukurannya sehingga cukup fleksible dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh.

Contoh yang paling umum dijumpai adalah perancangan kursi mobil di mana dalam hal ini letaknya dapat digeser maju/ mundur dan sudut sandarannya dapat berubah-ubah sesuai dengan yang diinginkan.

Data anthropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai 5-th sampai dengan 95-th percentile.

c. Prinsip Perancangan Produk Dengan Ukuran Rata-rata
Pada prinsip ini, rancangan produk didasarkan terhadap rata- rata ukuran manusia. Produk dirancang dan dibuat untuk mereka yang berukuran sekitar rata-rata, sedangkan bagi mereka yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan sendiri.

Berkaitan dengan aplikasi data anthropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa saran yang diberikan sesuai dengan langkah- langkah sebagai berikut:

• Pertama kali terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh yang mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut.
• Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut.
• Tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai rancangan produk tersebut.
• Terapkan prinsip ukuran yang harus diikuti (misal: apakah rancangan tersebut untuk ukuran individual yang ekstrim, rentang ukuran yang fleksibel ataukah ukuran rata-rata).
• Pilih prosentase populasi yang harus diikuti.
• Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya pilih/ tetapkan nilai ukurannya dari tabel data anthropometri yang sesuai.

Metoda Pengukuran Anthropometri
Metoda Ukur Dengan Anthropometer
Dalam metoda ini, pengukuran dilakukan dengan mengunakan data anthropometri, di mana ketika kita akan merancang produk, digunakan perhitungan yang sudah baku yaitu dengan menggunakan persentil, baik percentile besar (90-th, 95-th, 99-th) maupun percentile kecil (5-th,10-th) tergantung dengan produk yang akan kita desain.

Contoh: mendesain sebuah pintu. Data rata-rata tinggi orang Indonesia sudah tersedia sehingga kita tinggal menghitungnya saja yaitu dengan menggunakan persentil besar (95-th) sehingga orang yang memiliki tinggi di atas rata-rata pun dapat melewati tinggi pintu tersebut apalagi untuk orang yang pendek.

Metoda Ukur Tukang Jahit
Dalam metoda ini, pengukuran dilakukan dengan mengukur satu - persatu sumber data, setelah itu baru kita olah menjadi data yang dapat digunakan sebagai patokan untuk membandingkan sesuatu.

Contoh: (contoh diatas); dengan menggunakan metoda ukur tukang jahit kita dapat mengira-ngira berapa tinggi pintu tersebut dengan cara mengukur satu persatu orang yang akan lewat pintu tersebut. Setelah diolah menjadi data, ukuran dari sumber data tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk membuat pintu di tempat yang lain. Apabila kita mengukur dengan menggunakan metode ini, ketika kita mendesain sesuatu produk harus sesuai dengan pengguna produk tersebut (pemakainya).

Studi Gerakan (Motion Study)
Definisi Studi Gerakan
Studi gerakan atau lazimnya disebut dengan motion study adalah suatu studi dasar tentang gerakan-gerakan yang dilakukan pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dengan demikian diharapkan agar gerakan- gerakan yang kurang efektif dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sehingga akan diperoleh waktu kerja yamg lebih efektif. Studi gerakan dikembangkan oleh sepasang suami istri. Frank dan Lilian Gilberth.

Studi gerakan yang dikembangkan oleh Frank dan Lilian Gilberth, umumnya diklasifikasikan ke dalam dua macam studi, yaitu :

1) Visual Motion Study
Melakukan pengamatan secara langsung (visual) terhadap operasi kerja yang sedang berlangsung dan untuk memudahkan dalam melakukan pengamatan Frank dan Lilian Gilberth menguraikan gerakan-gerakan dasar kerja ke dalam 17 gerakan dasar therblig, kemudian dibuat suatu peta yang dikenal sebagai Peta Proses Operasi (Operation Proses chart) dengan mengaplikasikan simbol-simbol therbligs. Selanjutnya melakukan analisa terhadap gerakan-gerakan kerja yang ada dengan mendasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi gerakan.

2) Micromotion Study
Dalam pelaksanaannya akan membutuhkan biaya yang lebih tinggi daripada Visual Motion Study dan biasanya dipergunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung cepat dan berulang-ulang. Analisa dapat dilakukan lebih detail karena menggunakan peralatan khusus (movie camera) untuk merekam gerakan-gerakan kerja yang berlangsung.

Visual Motion Study
Bila kita mengamati suatu pekerjaan yang sedang berlangsung, hal yang sudah pasti terlihat adalah gerakan-gerakan yang membentuk kerja tersebut. Setiap pekerjaan mempunyai uaraian/ elemen gerakan yang berbeda-beda antara satu pekerjaan dengan pekerjaan yang lain, sehingga untuk memudahkan penganalisaan terhadap gerakan-gerakan yang dipelajari, Frank B. Gilberth beserta istrinya Lilian Gilberth, menguraikan gerakan ke dalam 17 gerakan dasar atau elemen gerakan yang dinamakan therbligs. Pengertian dari setiap elemen gerakan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Mencari (Search).
Elemen gerakan mencari merupakan gerakan dasar dari pekerjaan untuk menemukan lokasi objek, yang bekerja dalam hal ini adalah mata.

2. Memilih (Select).
Memilih merupakan gerakan untuk menemukan suatu objek yang tercampur, tangan dan mata adalah dua bagian badan yang digunakan untuk melakukan gerakan ini.

3. Memegang ( Grasp).
Gerakan untuk memegang objek, biasanya didahului oleh gerakan menjangkau dan dilanjutkan oleh gerakan membawa. Therblig ini merupakan gerakan yang efektif dari suatu pekerjaan dan meskipun sulit untuk dihilangkan dalam beberapa keadaan masih dapat dikurangi.

4. Menjangkau (Reach).
Pengertian menjangkau dalam therblig adalah gerakan tangan berpindah tempat tanpa beban, baik gerakan mendekati maupun menjauhi objek.

5. Membawa (Move).
Elemen gerakan membawa juga merupakan gerak perpindahan tangan, tetapi dalam gerakan ini tangan dalam keadaan dibebani dan biasanya didahului oleh gerakan memegang kemudian dilanjutkan oleh melepas atau dapat juga oleh pengerahan (position).

6. Memegang atau Memakai (Hold).
Pengertian memegang atau memakai disini adalah memegang tanpa menggerakkan objek yang dipegang tersebut, perbedaan dengan memegang yang terdahulu adalah perlakuan terhadap objek yang dipegang.

7. Melepas (Released load).
Elemen gerak melepas terjadi apabila seorang pekerja melepaskan objek yang dipegangnya, gerakan ini relatif lebih singkat dibandingkan dengan gerakan yang lain.

8. Pengarahan (Position).
Therblig merupakan gerakan mengarahkan suatu objek pada suatu lokasi tertentu, yang biasanya didahului oleh gerakan mengangkut dan diikuti oleh merakit (assemble).

9. Pengarahan Sementara (Pre Position).
Mengarahkan sementara merupakan elemen gerakan mengarahkan pada suatu tempat sementara, yang tujuannya untuk memudahkan pemegangan apabila objek tersebut akan dipakai kembali dan mengurangi elemen gerak siklus kerja berikutnya.

10. Memeriksa (Inspection).
Therblig ini merupakan pekerjaan memeriksa objek untuk mengetahui apakah objek telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Elemen ini dapat berupa gerakan melihat seperti untuk memeriksa warna, meraba untuk memeriksa kehalusan permukaan, mencium, mendengarkan, dan kadang-kadang merasa dengan lidah.

11. Merakit (Assemble).
Perakitan adalah gerakan untuk menggabungkan satu objek dengan objek lainnya, sehingga menjadi satu kesatuan. Gerakan ini biasanya didahului oleh salah satu therblig membawa atau mengarahkan dan dilanjutkan oleh therblig melepas.

12. Lepas Rakit (Desassemble).
Therblig ini merupakan kebalikan dari therblig diatas, disini dua bagian objek dipisahkan dari kesatuan.

13. Memakai (Use).
Yang dimaksud dengan memakai disini adalah bila satu atau kedua tangan dipakai untuk menggunakan alat.

14. Kelambatan yang Tak Terhindar (Unavoidable delay).
Kelambatan yang dimaksudkan disini adalah kelambatan yang diakibatkan oleh hal-hal yang terjadi diluar kemampuan pengendalian si pekerja. Hal ini timbul karena ketentuan cara kerja yang mengakibatkan satu tangan menganggur sedangkan tangan yang lainnya bekerja.

15. Kelambatan yang Dapat Dihindarkan (Avoidable delay).
Kelambatan ini disebabkan oleh hal yang ditimbulkan sepanjang waktu kerja oleh pekerjanya, baik disengaja maupun tidak disengaja.

16. Merencana (Plan).
Merencana merupakan proses mental, dimana operator berpikir untuk menentukan tindakan yang akan diambil selanjutnya. Waktu therblig ini lebih sering terjadi pada seorang pekerja baru.

17. Istirahat untuk Menghilangkan Fatique (Rest to overcome fatoque).
Hal ini tidak terjadi pada setiap siklus kerja, tetapi secara periodik. Therblig yang efektif adalah semua elemen dasar yang berkaitan langsung dengan aktivitas pekerjaan. Therblig yang tidak efektif dan tidak berkaitan langsung dengan aktivitas pekerjaan dapat dihilangkan dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasar dari analisa operasi kerja dan ekonomi gerakan.

Ekonomi Gerakan
Di dalam menganalisa dan mengevaluasi metode kerja guna memperoleh metode kerja yang lebih efisien, maka perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip ekonomi gerakan (The Principles of Motion Economy). Prinsip ekonomi gerakan dapat dipergunakan untuk menganalisa gerakan-gerakan kerja setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun kerja dan bisa juga untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja lainnya.

Adapun prinsip-prinsip ekonomi gerakan yang dimaksudkan untuk mendapatkan suatu sistem kerja yang terancang baik sehingga memudahkan dan menyamankan gerakan-gerakan kerja untuk sejauh mungkin menghindarkan atau melambatkan datangnya kelemahan (fatique), untuk menganalisa gerakan-gerakan setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun kerja dan bisa pula untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh dari suatu sistem kerja ke stasiun kerja lainnya. Prinsip-prinsip ekonomi gerakan dapat dihubungkan dengan tiga hal, yaitu :
1. Tubuh manusia dengan gerakannya.
2. Pengaturan tata letak tempat kerja.
3. Perancangan peralatan kerja yang digunakan

Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Penggunaan
Badan/ Anggota Tubuh Manusia
1) Kedua tangan sebaiknya memulai dan mengakhiri gerakan pada saat yang sama.
2) Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur pada saat yang sama, kecuali pada saat istirahat.
3) Gerakan kedua tangan, akan lebih mudah jika satu terhadap yang lainnya simetris dan berlawanan arah (agar kedua tangan mencapai keseimbangan).
4) Gerakan tangan atau badan sebaiknya dihemat.

Maksudnya hanya menggerakkan tangan atau bagian badan yang diperlukan saja untuk melakukan pekerjaan sebaik-baiknya.

contohnya gerakan tangan dapat diklasifikasikan dalam tingkat gerak sebagai berikut :
- Gerakan jari.
- Gerakan jari, telapak tangan.
- Gerakan jari, telapak tangan, tangan bagian depan.
- Gerakan jari, telapak tangan, tangan bagian depan, dan lengan atas.
- Gerakan jari, telapak tangan, tangan bagian depan, lengan atas dan bahu.
5) Sebaiknya pegawai memanfaatkan keadaan untuk membantu pekerjaannya, dan pemanfaaat ini timbul karena berkurangnya kerja otot dalam bekerja.
6) Gerakan yang patah-patah, banyak perubahan arah akan memperlambat gerakan, dan perubahan arah gerakan dalam suatu pekerjaan akan memperlambat waktu penyelesaian kerja.
7) Gerakan balistik (gerak yang bebas) akan lebih cepat, menyenangkan, dan lebih teliti daripada gerakan yang dikendalikan, yaitu gerakan yang terjadi pada suatu pekerjaan dimana memerlukan dua otot yang berlawanan kerjanya (menulis; terdapat dua otot yang saling tahan, yaitu jari dan jempol).
8) Pekerjaan hendaknya dirancang semudah mungkin dan jika perlu irama kerja harus mengikuti irama yang alamiah bagi pegawai. Irama adalah suatu pengulangan yang teratur dari suatu siklus kerja oleh operator.
9) Usahakan sedikit mungkin gerakan mata. Objek-objek yang kecil, memerlukan gerakan mata untuk mengerjakannya. Seringkali antara tangan dan mata terjadi koordinasi dimana fungsi mata sebagai pengarah tangan. Rasa lelah yang dirasakan dan dialami oleh mata akan menjalar ke seluruh badan dengan cepat.

Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Tempat Kerja Berlangsung
1) Tempat-tempat tertentu yang tak sering dipindah- pindah harus disediakan untuk semua peralatan dan bahan sehingga dapat menimbulkan kebiasaan tetap (gerak rutin).
2) Letakkan bahan dan peralatan pada jarak yang dapat dengan mudah dan nyaman dicapai pekerja sehingga mengurangi usaha mencari-cari. Oleh karena itu semua bahan dan peralatan sedapat mungkin harus diatur tata letaknya menurut prinsip ini.

Bersangkutan dengan jarak jangkauan terdapat dua pengertian, yaitu :
- Daerah kerja normal : adalah daerah di depan pekerja yang dapat disapu oleh kedua tangan bagian depan dengan tidak menggerakan lengan bagian atas.
- Daerah kerja maksimum : adalah daerah yang dapat dijangkau oleh tangan jika direntangkan secara penuh.
3) Tata letak bahan dan peralatan kerja diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan urut-urutan gerakan yang terbaik.
4) Tinggi tempat kerja (mesin, meja kerja, dan lain- lainnya) harus sesuai dengan ukuran tubuh manusia sehingga pekerja dapat melaksanakan kegiatannya dengan mudah dan nyaman. Disini prinsip-prinsip anthropometri mutlak harus dipelajari pada saat akan merancang fasilitas kerja tersebut.
5) Kondisi ruangan pekerja seperti penerangan, temperatur, kebersihan, ventilasi udara, dan lain- lainnya yang berkaitan dengan persyaratan ergonomic harus pula diperhatikan benar-benar sehingga dapat diperoleh area kerja yang nyaman, aman dan mampu menumbuhkan motivasi kerja yang lebih baik.

Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Desain Peralatan Kerja Yang Dipergunakan
1) Kurangi sebanyak mungkin pekerjaan tubuh (manual) apabila hal tersebut dapat dilaksanakan dengan peralatan kerja.
2) Usahakan menggunakan peralatan kerja yang dapat melaksanakan berbagai macam pekerjaan sekaligus, baik yang sejenis maupun yang berlainan.
3) Siapkan dan letakkan semua peralatan kerja pada posisi tepat dan cepat untuk memudahkan pemakaian atau pengambilan pada saat diperlukan tanpa harus bersusah payah mencari-cari. Desain peralatan juga dibuat sedemikian rupa sehingga memberi kenyamanan genggaman tangan saat digunakan.
4) Jika tiap jari melakukan pekerjaan tertentu seperti pekerjaan mengetik misalnya, maka beban untuk masing-masing jari tersebut harus dibagi seimbang sesuai energi dan kekuatan yang dimilki oleh masing- masing jari.

Prinsip-Prinsip Pengaturan Komponen Pada Suatu Area Kerja
o Frequency of Use Principle
→ Merupakan prinsip pengaturan komponen pada suatu area kerja berdasarkan frekuensi penggunaannya. Semakin sering digunakannya komponen tersebut, maka peletakkan komponen tersebut semakin dekat terhadap operator.

o Use Principle
→ Merupakan prinsip pengaturan komponen pada suatu area kerja berdasarkan penggunaannya atau fungsi dari komponen tersebut. Misalnya dalam area kerja perakitan bentuk sepatu setengah jadi, pada work station 3 tidak diperlukan gunting, sedangkan pada work station 1 membutuhkan gunting, sehingga pada pengaturan komponen pada area kerja ini, gunting diletakkan pada work station 3.

o Sequence of Use Principle
→ Merupakan prinsip pengaturan komponen pada suatu area kerja berdasarkan urutan penggunaan komponen tersebut. Urutan yang dibuat pada pengaturan ini harus dibuat seefektifitas mungkin agar gerakan-gerakan yang dilakukan ekonomis (hanya seperlunya saja) sehingga tidak terjadi gerakan-gerakan yang tidak penting atau tidak diperlukan.

o Importance Principle
→ Merupakan prinsip pengaturan komponen pada suatu area kerja berdasarkan prinsip kepentingan daripada komponen tersebut. Semakin penting penggunaan komponen tersebut dalam suatu perakitan , maka pengaturan atau peletakkan komponen tersebut lebih strategis (lebih dekat dengan operator).

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Kumpulan Artikel News Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger