Antara Sains Dan Ortodoksi Islam

Antara Sains Dan Ortodoksi Islam
Seyyed Hossein Nasr adalah seorang tokoh pemikir yang unik di dunia Islam. Keunikan pribadi dan pemikiran Seyyed Hossein Nasr karena lahir dari tradisi Sufi-Syi'ah yang dipadu dengan pemikiran Barat modern. Nasr lahir dari keluarga berlatar belakang Sufi terkenal di Persia yang memiliki afiliasi-afiliasi dengan tarekat-tarkat sufi di Persia. Persia, selama ini memang dikenal sebagai gudangnya ilmu, terutama khazanah ilmu-ilmu Islam klasik, semisal filsafat Islam klasik.

Dengan latar belakang seperti itu, Nasr mampu mengapresiasi dengan baik khazanah keilmuan tradisional Islam seperti karya Suhrawardi, ibn Arabi dan Mulla Sadra. Tokoh-tokoh tersebut bahkan kemudian menjadi model dan banyak mempengaruhi pemikirannya. Disamping itu, latar belakang pendidikan Baratnya yang cukup kuat membuatnya mampu mengapresiasi khazanah intelektual Barat.

Kombinasi latar belakang kultural dan intelektual Seyyed Hossein Nasr membuatnya menempati posisi khusus dalam berbicara dan berkarya, mempunyai otoritas dalam berbicara mengenai banyak topik, terutama mengenai perjumpaan Timur dan Barat, tradisi dan modernisasi. Ditambah lagi pergaulannya yang luas, baik dengan muslim maupun non-muslim, menjadikan Nasr sebagai figur yang langka dan jarang ada bandingannya.

Tulisan sederhana ini berusaha mendeskripsikan pemikiran Seyyed Hossein Nasr kaitannya dengan sains modern. Tokoh ini dipilih karena diskusi-diskusi program doktor UIN Sunan Kalijaga angkatan tahun 2005 selama ini, dalam pengamatan saya belum ada yang mengangkat tokoh pemikir dari kalangan ortodoksi Islam, seperti Nasr. Tulisan ini diawali dengan menguraikan latar belakang sosiokultural dan karir inelektual Nasr, diikuti dengan uraian mengenai pokok-pokok pikiran Nasr yang dapat ditangkap dari dua buah karyanya seperti tertera dalam sub judul di atas, baru kemudian dianalisis dengan dua "senter", yaitu model-model inegrasi sains dan agama dan trilogi rastorasionis, rekonstruksionis dan pragmatis. Kedua "senter' ini dimaksudkan untuk mendapatkan peta pemikirann Nasr dalam kaitan dengan agama dan sains.

A. SETTING SOSIO-KULTURAL DAN KARIR INTELEKTUAL NASR
Seyyed Hossein Nasr terlahir pada tanggal 7 April 1933 dan dididik sebagai seorang Syi'ah Iran. Ia berasal dari keluarga cendekiawan terkenal. Ayah dan kakeknya adalah fisikawan di kerajaan Iran, disamping keduanya juga terkenal di kalangan muslim Syi'ah sebagai tokoh sufi.

Seyyed Hossein Nasr ketika kecil tidak banyak perbedaannya dengan anak-anak seusianya, ia belajar pada sekolah dengan standar bangsa Persia. Ayahnyalah yang membuat Nasr kecil lebih banyak memberikan inspirasi dan semangat. Virus semangat yang disuntikkan ayahnya membuat Nasr begitu antusias pergi ke Amerika ketika usianya masih 12 tahun. Ia masuk sekolah Peddie di Haghtown, New Jersey, dan ketika tahun 1950 ia lulus berhasil memenagkan piala Wyclifte yang merupakan penghargaan tertinggi bagi siswa berprestasi. Pada sekolah inilah Nasr bersemangat menghimpunpengetahuan tentang sains, searah Amerika, peradaban Barat dan Kristologi.

Berbeda dengan ketika ia belajar pada Sekolah Menengah di Peddie, pada tahun kedua kuliah strata satu-nya pada jurusan fisika, ia merasa tertekan dan bosan karena menurutnya terlalu berlebihan dalam mengagungkan sisi ilmiah dan cenderung positivisme. Ia menganggap banyak pertanyaan mengenai masalah-masalah metafisik yang menjadi minatnya, tidak mendapat tempat di jurusan fisika tersebut. Oleh karena itu dia mulai meragukan apakah fisika dapat menghantarkan manusia kepada hakekat ralitas fisik Satu-satunya orang yang bisa sedikit memberikan jawaban terhadap kegelisahan Nasr adalah Bertnard Russell, filosof Inggris yang suka mengadakan diskusi dengan para mahasiswa di tempat Nasr menuntut ilmu.

Pengalaman pahit Seyyed Hossein Nasr ketika studi S-1 membuatnya harus mengambil keputusan mengambil bidang lain unuk studi lanjutnya. Ia mulai menekuni dan membaca secara intensif buku-buku dalam rumpun ilmu humaniora. Lebih-lebih ketika ia bertemu dengan professor Giorgio de Santillana, filosof sains dan sejarawan dari Italia, Nasr banyak mempelajari filsafat yunani, filsafat Eropa, Hinduisme dan pemikiran Barat Modern. Nasr kemudian menekuni konsentrasi geologi dan geofisik pada Program Pascasarjana di Universitas Harvard. Setelah mendapatkan gelar magister geologi dan geofisik tahun 1956, meneruskan studi guna memperoleh Ph.D dalam bidang sejarah ilmu dan filsafat di Universitas Harvard. Selama studi di Harvard yang terakhir ini Nasr banyak berhubungan dengan para penulis dan tokoh philosophia perennis seperti Fritjof Schuon dan Titus Burckhardt, yang banyak memberikan sumbangan dan pengaruh bagi perkembangan intelektual dan spiritualnya. 

Ketika lulus dan mendapat gelar Ph.D Nasr baru berusia 25 tahun. Disertasinya berjudul Conception of Nature in Islamic Thought, diterbitkan oleh Universitas Harvard dengan judul Introduction to Islamic Cosmological Doctrines. Masa-masa penulisan disertasi digunakan juga oleh Nasr untuk menulis sebuah buku yang kemudian diterbitkan dengan judul Science and Civilization in Islam, yang nanti akan kita lihat pada bab berikutnya. 

Seyyed Hossein Nasr setelah purna studi kemudian kembali ke Iran, diangkat menjadi guru besar madya dalam bidang filsafat dan sejarah sains, hampir berbarengan waktunya dengan berlangsungnya pernikahannya dengan seorang wanita dari keluarga terhormat. Pada usianya ke-30 Nasr menjadi orang termuda yang menyandang gelar profesor penuh pada Universitas Teheran. Sesuatu yang baru ditawarkan oleh Nasr pada lembaga ini, yakni bahwa ia menganggap pentingnya pentingnya pengajaran filsafat Islam yang berbasis sejarah dan perspektif Islam. Nasr berpendapat bahwa orang seyogyanya tidak mengharapkan dapat memahami dan mengapresiasi tradisi intelektualnya sendiri dari sudut pandang orang lain, seperti juga tidak mungkinnya seseorang dapat melihat sesuau dengan mata orang lain. Nasr juga menumbuhkan kesadaran dan minat untuk mempelajari filsafat Timur pada program studi filsafat. Nasr juga terlibat dalam program doktor bidang bahasa dan sastera Persia bagi yang bahasa ibunya bukan Persia, banyak asuhan Nasr di bidang ini yang menjadi cendekiawan penting diantaranya dari Amerika William Chittick, dan cendekiawati dari Jepang Sachiko Murata. 

Seyyed Hossein Nasr menjabat sebagai rektor Universitas Aryamehr, universitas sains dan teknik terkenal di Iran, tahun 1972-1975. Shah Reza Pahlevi, penguasa Iran saat itu, menginginkan agar Nasr mengembangkan Universitas Aryamehr dengan model perguruan tinggi terkenal di Amerika tetapi mempunyai dasar yang kuat pada kebudayaan Iran. Nasr membawa perguruan tinggi ini membuka program pascasarjana dengan bidang filsafat ilmu dengan landasan filsafat ilmu Islam, untuk pertama kalinya di dunia Islam, bahkan di dunia pada umumnya. 

Seyyed Hossein Nasr di sela-sela kesibukannya masih sempat menimba ilmu hikmah, di bawah master-master otoritatif di Iran. Diantara guru-guru terhormat itu adalah Sayyid Muhammad Kazim Assar, seorang alim yang mempunyai otoritas dalam bidang hokum Islam dan filsafat, yang merupakan sahabat ayah Nasr, Allamah Sayyid Muhammad Husain Tabatabai dan Sayyid Abu Hasan Qazwin, ahli hukum Islam yang menguasai juga matematika, astronomi dan filsafat dengan baik. Terlihat bahwa Nasr telah mendapatkan pendidikan Barat Modern dan dikombinasikan dengan pendidikan Timur Tradisional. Kombinasi langka ini mmbuat dirinya berada pada posisi langka ketika berbicara dan menulis, yang menguasai banyak isu yang terkait dengan perjumpaan Barat-Timur, tradisi dan modernitas.

Nasr juga menulis secara aktif ketika berada di Iran dalam bahasa Inggris, Perancis dan Arab. Disertasinya ditulis kembali dalam bahasa Persia yang kemudian mendapat penghargaan raja Iran. Nasr juga menulis buku-buku Suhrawardi dan Mulla Sadra dalam bahasa Persia dan karya Ibnu Sina dan al-Biruni dalam bahasa Arab. 

Kiprah Seyyed Hossein Nasr tidak terbatas pada Iran saja tetapi merambah dunia "luar" baik kawasan muslim maupun bukan. Ia pernah menjadi direkrut Caultural Institute, dimana Iran, Pakistan dan Turki menjadi anggotanya. Di Beirut iamendirikan Aga Khan Chair of Islamic Studies pada Universitas Amerika di Beirut (1964-1965). Mskipun tinggal di Amerika, Nasr sering keluar dan berhubungan dengan negara lain. Tahun 1977 ia menyampaikan Kevorkian Lectures dalam seni Islam di New York, ia berbicara mengenai seni dan Islam. Pada tahun 1979, ketika meletus Revolusi Iran, Nasr pindah ke Amerika, dan mulai aktif lagi menulis di sana. 

Tahun 1980 ia aktif menulis dan berdiskusi dalam forum prestisius yang disebut Gifford Lectures, karena diikuti oleh para ilmuwan terkemuka, dan Nasr adalah orang Timur dan orang Islam pertama yang mendapatkan kesempatan berharga tersebut. Karyanya Knowledge and The Sacred adalah judul yang telah dipresentasikannya di forum Gifford Lectures tersebut. Nasr mengungkapkan bahwa Knowledge and The Sacred merupakan hadiah dari langit karena penulisannya dapa diselesaikan dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Sebenarnya banyak sekali karya Seyyed Hossein Nasr selain yang disebutkan di atas, tetapi karena mengingat berbagai keterbatasan, tidak mungkin diampilkan dan diulas semua di sini. Oleh karena itu dicukupkan disini agar bisa lebih banyak mengulas pemikiran Nasr di dalam buku yang menjadi pusat perhatian artikel ini.

B. SAINS DAN ISLAM PERSPEKTIF SEYYED HOSSEIN NASR
Kaum modernis Islam umumnya mempunyai kecenderungan ingin menunjukkan kesesuaian antara Islam dengan sains modern. Dianara bukti yang mendukungya adalah kenyataan bahwa sains pernah berkembang di bumi Islam dan dapat mempertahankan kecemerlangannya selama hampir lima abad. Maka sering dijumpai kesimpulan kaum modernis bahwa Islam pasti mendukung sains modern. Argumen kaum Islam modernis ini ditanggapi oleh para pemikir Islam ortodoks, diantaranya adalah Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh yang paling berpengaruh di kalangan ini.

Seyyed Hossein Nasr tidak sepakat dengan argumen umum kaum modernis tentang kesesuaian Islam dengan sains tersebut. Menurutnya mereka secara sewenang-wenang mengubah agama Islam agar sesuai dengan tujuan akhir mereka sendiri. Dia dengan keras mencela:

tulisan-tulisan apologetik kaum modernis Islam yang ingin berdamai dengan modernisme dan mau melakukan apa saja untuk menunjukkan bahwa Islam bagaimanapun juga adalah agama 'modern' dan, berbda dengan Kristen, sama sekali tidak bertentanagan dengan sains.

Menurut Nasr tulisan-tulisan kaum Islam modernis yang mengklaim Islam sesuai dengan sains modern, yaitu sains yang dianggap dipelopori oleh Galileo dan Newton, jelas-jelas mengandung cacat. Kesalahan mereka, menurut Nasr, adalah bahwa ilm dalam bahasa Arab yang berarti menuntut ilmu sesuai dengan kewajiban agama, sengaja diubah agar menjadi sains dan pengetahuan sekuler. Nasr menganggap keliru karena term ilm, tidak hanya menyangkut masalah duniawi teapi juga menyangkut pengetahuan tentang Tuhan, dan lain-lain hal gaib lainnya. Jika mengikuti pandangan kaum Islam modernis, menurut Nasr, berarti menggerogoti tauhid.

Menurut Nasr seorang ilmuwan yang secara konsisten menggunakan peralaan dan eknik-teknik sains modern, jika tidak hati-hati akan menghancurkan struktur agama Islam. Masalahnya, sains modern hanya mengandalkan akal dan pengamatan sebagai wasit penentu kebenaran. Bagi ortodoksi Islam, sejenis Nasr, ini sama sekali tidak dapat diterima. Hal ini sangat berbeda dengan sains zaman dulu. Mengenai sains zaman dulu Nasr mempunayi pendapat yang baik:

tidak pernah menjadi tanangan bagi Islam seperti halnya sains modern. Para pelajar Islam di madrasah-madrasah tradisional tidak berhenti melaksanakan shalat waktu mereka mempelajari aljabar Khayyam atau risalat al-kimia dari Jabir ibn Hayyan. Tidak seperti pelajar-pelajar zaman sekarang yang begitu banyak kehilangan semangat beragama mereka setelah mempelajari matematika dan kimia modern.

Jika kita ingat perbedaan mendasar kerangka konseptual sains abad pertengahan dan abad modern, sesungguhnya pemikiran Syyed Hossein Nasr tersebut tidaklah sulit dipahami. Ilmuwan abad pertengahan, baik yang Islam maupun Kristen, bekerja dalam batas-batas, paradigma teologis. Sains harus menemukan perintah ketuhanan dari alam semesta yang ciri-cirinya sudah ditetapkan oleh apa yang diyakini sebagai wahyu. Secara umum., sains secara prinsip dipandang sebagai cara untuk menggambarkan kebenaran teologis. Maka sains, sebagai kaki tangan teologi, harus membuktikan bahwa iman didukung oleh alasan dan faka-fakta fisik. 

Sains modern dalam pandangan Nasr, terutama yang berkembang di Barat, sejak Renaissance telah menciptakan bentuk dan paradigma baru yang merupakan manifesasi corak pemikiran rasionalistis dan antroposentris serta sekularisasi kosmos. Ilmu dalam konsepsi Barat seperti inilah yang disebut oleh Nasr telah menempati mode khusus, yaitu sama sekali tidak berhubungan dengan Kesucian.

Sekularisasi ilmu yang terjadi di Barat, antara lain dilatarbelakangi oleh pecahnya kesatuan gereja Kristen bersamaan dengan gelombang Renaissance. Gelombang sekularisasi tersebut menggempur peradaban Barat pada waktu itu sehingga mistisisme Kristen, yang dimotori antara lain oleh Lutherian, tidak dapat mencegah dahsyatnya gelombang sekularisasi tersebut. Pemikiran yang bercorak rasional dan empiris juga ikut menymbangkan peran bagi proses sekularisasi ilmu di Barat. Empirisme yang berkembang di Barat, terutama di Inggris, membuat fungsi suci intelek tidak lagi berguna. Isaac Newton, bapak fisika klasik yang menulis Principia, ketika mempropagandakan rasionalisme ilmu juga turut berperan dalam proses desakralisasi ilmu. 

Menurut analisis Seyyed Hossein Nasr Descartes adalah orang yang sangat banyak memberikan andil terhadap desakralisasi ilmu di Barat. Ketika Descartes membuat basis baru bagi ilmu, dengan memunculkan kesadaran individu sebagai subjek berpikir, cogito ergo sum, dimaknai secara profan dan sama sekali tidak meruuk kepada "Aku" ilahi. Menurut Nasr habitus baru yang dimunculkan Descartes ini berbeda jauh dengan tradisi para Sufi Islam yang menafikan banyak hal profan dan muncullah "Aku" ilahi. mengacu pada diri manusia, yang memiliki makna semu dalam pandangan orang arif. Descartes dalam kondisi ini, demikian Nasr, telah menempatkan pengalaman dan kesadaran berpikir sebagai landasan onto

Kata "aku" dalam ucapan Descartes logi, epistemologi serta sumber kepastian. Akibat dari pengaruh pikiran Descartes ini banyak orang yang menjadikan pikiran individu sebagai standar dan mengubah arah filsafat menjadi bentuk rasionalisme murni. Implikasi dari bentuk pemikiran seperti ini sering obyek diketahui lain sama sekali dengan yang dikehendaki obyek tiu sendiri, dan sering pula banyak persoalan yang direduksi sekedar menjadi "it" atau "thing" dalam dunia yang mekanistik, padahal mungkin saja jika melihanya dari sudut pandang lain "it" atau "thing" trsebut sangat sarat dengan nilai-nilai sakral. 

Proses desakralisasi sesungguhnya telah terjadi jauh sebelum masa Renaissance dan masa Descartes, yakni sejak masa Yunani kuno. Pentingnya jiwa simbolis yang diserukan Plato, pengosongan kosmos dari unsur suci pada agama Olympia yang membawa kepada filsafat naturalistik, munculnya rasionalisme dan transformasi lain, adalah beberapa bukti proses desakralisasi ilmu di Barat ini.

Lebih mencolok lagi proses sekularisasi di Barat ketika kita melihat kasus ibnu Sina dan ibn Rusyd. Filsafat ibn Sina di dunia Islam menjadi basis penting bagi penekanan kembali sakralitas pengetahuan dan intelek seperti versi Suhrawardi, tetapi ketika karya-karya ibn Sina sampai di Barat dia berupah hanya sekedar menjadi potongan-potongan pengetahuan yang bercorak rasionalistik. Begitu juga dalam kasus ibn Rusyd, ia kelihatan lebih rasional dan sekuler di Barat ketimbang ibn Rusyd asli yang dibaca di dunia Arab. 

Seyyed Hossein Nasr memandang proses desakralisasi ilmu di Barat antara lain diandai dengan pereduksian intelek menjadi akal (reason) dan intelligence dibatasi dengan sekedar cunning dan cleverness, yang semua itu merusak teologi, termasuk teologi natural, baik di kalangan Islam maupun Kristen. Pencabutan pengathuan dari karakter sucinya dan menumbuhkan ilmu profan, membuat orang lupa akan keunggulan spiritual dalam berbagai tradisi, maka ilmu pengetahuan Barat yang profan menjadi sentral sementara intuisi dan unsur-unsur yang bercorak ilahi menjadi periferal.

Pemikiran sekuler yang terjadi pada desakralisasi ilmu tersebut merambah uga pada bidang-bidang lain. Bahkan sampai kepada bahasa pun terkena pengaruh desakralisasi ini. Bahasa-bahasa yang berkembang di Barat kehilangan ragam makna mendalam karena pengaruh desakralisasi ini.

Pandangan Nasr yang kritis terhadap perkembangan ilmu di Barat, membawanya pada penilaian bahwa ilmu di Barat mengalami kritis yang, dalam pandangannya, membawa ancaman serius sebagai akibat skularisasi. Nasr melihat sisi lemah sains di Barat dengan kacamata perennisnya, kemudian untuk solusinya ia menawarkan konstruksi ilmu Islam sebagai alternatif, yang dianggapnya mampu mengatasi krisis kemanusiaan yang diderita manusia modern.

Ilmu Islam menurut Nasr bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja. Munculnya ilmu Islam merupakan persinggungan dan interaksi mendalam dengan pradaban lain seperti Yunani, Persia, India, Kalde, dan Cina. Ketika berjumpa dengan berbagai peradaban tersebut umat Islam terbuka terhadap berbagai perkembangan ilmu dan peradaban tetapi juga menyeleksinya dengan seksama sehingga gabungan dari keterbukaan dan daya selektif yang ketat itu melahirkan corpus baru yang unik. 

Secara ontologism ilmu Islam didasarkan pada metafisika simbolis. Alam yang terbentang luas ini, dalam pandangan Nasr, harus dipahami secara simbolis,sehingga hubungan dengan realitas yang lebih tinggi tidak hilang. Alam semesta tidak bisa direduksi menjadi sekedar fakta empiris, tetapi lebih dari itu harus membantu intelektual manusia untuk sampai kepada berbagai eksistensi, bukan hanya sebagai fakta mati tetapi ia juga sebagai simbol, sebagai cermin yang memantulkan wajah agung sang pencipta.

Dalam tataran epistemologi ilmu Islam berlandaskan pada iluminasi akal dan intelek. Intelek adalah alat, akal adalah aspek pasifnya dan refleksinya pada diri manusia. Intelek adalah dasar akal, akal perlu dilatih secara sehat untuk dapat sampai kepada intelek. Itulah sebabnya ahli fisika muslim menyatakan bahwa ilmu rasional secara alamiah akan mmbimbing manusia sampai kepada yang ilahi.

Intelek, dalam pandangan Nasr, adalah kapasitas batin,namun sering dikaitkan dengan fungsi analitis pikiran sehingga dianggap tidak ada sangkut pautnya dengan sifat kontemplatif. Pereduksian makna ini sering menimbulkan semangat manusia untuk menaklukkan alam semesta. Padahal seharusnya, demikian Nasr, hubungan antara ilmuwan dengan alam bersifat intelektif, tidak abstrak, tidak analitis dan tidak sentimental.

Terma intelek dalam pemahaman Nasr berkaitan dengan terma lain seperti qalb, fu'ad, dan bashirah. Qalb, sebagaimana fu'ad, memiliki muatan makna yang identik dengan sesuatu alat untul memahami realitas dan nilai-nilai. Sehingga konsep intelek dalam terminology Islam berbeda dengan reason, karena intelek dalam pengertian Islam tidak semata-mata berkaitan dengan rasionalisme tetapi juga berhubungan erat dengan persoalan wahyu, sehingga bagi seorang muslim kegiatan ilmiah tidaklah harus menjauhkan dirinya dari ibadah dan Tuhan.

Struktur keilmuan seperti tersebut di atas adalah pondasi yang paling kuat dan telah terbukti keampuhannya ketika berhadapan dengan peradaban-peradaban lain. Sesungguhnya konstruksi model ini juga tidak bertentangan dengan konstruksi peradaban lain yang berlandaskan wahyu, karena konstruksi keilmuan itu nerupakan "heart of all revelations".

Perbedaan mendasar konstruksi ilmu di Barat dengan Islam, jika di Barat sains identik dengan teknologi dan aplikasinya, sebaliknya sains dalam pandangan Islam, disamping bermakna seperti pengertian sains dalam perspektif Barat juga bermakna pengetahuan yang berkaitan dengan apiritualitas. 

C. PETA PEMIKIRAN SEYYED HOSSEIN NASR
Ada banyak model yang diajukan orang untuk integrasi sains dan agama. Model-model itu dapat diklasifikasikan dengan menghitung jumlah konsep dasar yang menjadi komponen utama model itu. Jika hanya ada satu, model itu disebut model monadic.Jika ada dua, tiga, empat atau lima kompoonen, model itu masing-masingnya bisa disebut sebagai model-model diadik, triadik, tetradik dan pentadik. Berikut ini akan dibahas secara singkat masing-masing model tersbut.

Model pertama yang popular di kalangan fundamentalis, religius maupun sekuler. Fundamentalis religius memandang bahwa agama adalah keseluruhan yang mengandung semua cabang ilmu dan kebudayaan. Sedangkan yang sekuler memandang bahwa agama sebagai salah satu cabang kebudayaan. Dalam fundamentalisme religius, agama dianggap sebagai satu-satunya kebenaran, sains hanyalah salah satu cabang kebudayaan, sementara bagi fundamentalisme sekuler kebudayaanlah yang merupakan ekspresi manusia dalam mewujudkan kehidupan yang berdasarkan sains sebagai satu-satunya kebenaran.

Dengan model monadik totalistik semacam ini tidak mungkin terjadi koeksistensi antara sains dan agama, karena keduanya menegasikan eksistensi atau kebenaran lainnya. Maka hubungan antara kedua sudut pandang ini, tidak bisa tidak berupa konflik, seperti yang dikonsepsikan Barbour atau Haught mengenai hubungan sains dan agama.

Gambar Model Monadik Totalistik

Mengingat kelemahan model monadik tersebut, diajukanlah model kedua, yaitu model diadik. Ada beberapa varian model kedua ini. Varian pertama mengatakan bahwa sains dan agama merupakan dua kebenaran yang setara. Sains membicarakan fakta alamiah, sedangkan agama membicarakan nilai-nilai ilahiah. Secara geometris dapat didiagramkan model ini sebagai dua buah lingkaran yang tidak berpotongan. Model ini dapat disebut sebagai model diadik kompartementer.

Gambar Model Diadik Independen/kompartementer

Varian kedua model diadik ini mungkin dapat dinyatakan oleh gambar sebuah lingkaran yang terbagi oleh sebuah garis lengkung menjadi dua bagian yang bentuk dan luasnya sama, seperti pada simbol Tao dalam tradisi Cina. Berbeda dengan model interpendensi, dalam varian kedua antara sains dan agama adalah bagian yang tak terpisahkan. Seorang tokoh yang patut dipertimbangkan dalam kaitan ini adalah Fritjof Capra ketika ia mengeluarkan sebuah ungkapan: "sains tak membutuhkan mistisisme dan mistisisme takmembutuhkan sains. Akan tetapi,manusia membutuhkan keduanya". Varian kedua ini adalah model diadik komplementer.

Gambar Model Diadik Komplementer

Varian ketiga dapat dilukiskan secara diagram dengan dua buah lingkaran sama besar yang saling berpotongan. Jika kedua lingkaran itu menggambarkan sains dan agama, akan terdapat sebuah kesamaan. Kesamaan itulah yang merupakan bahan dialog antara sains dan agama. Misalnya Maurice Buccaille mnemukan sejumlah data ilmiah di dalam kitab suci Al-Qur'an. Atau para ilmuawan yang menemukan sebuah bagian pada otak yang disebut sebagai "The God Spot" yang dipandang sebagai pusat kesadaran religius manusia. Model ini dapat disebut sebagai model diadik dialogis.

Gambar Model Diadik Dialogis

Model ketiga adalah model triadik sebagai koreksi terhadap model diadik independent. Dalam model triadik ada unsur ketiga yang menjembatani sains dan agama. Jembatan itu adalah filsafat. Model ini diajukan oleh para kaum teosofis yang bersemboyan "There is no religion higher than Truth". Kebenaran atau "Truth" adalah kesamaan antara sains, filsafat dan agama.

Model ketiga ini merupakan perluasan saja dari model diadik komplementer dengan memasukkan filsafat sebagai komponen ketiga yang letaknya diantara sains dan agama.

Sebagai koreksi terhadap model diadik dan triadik komplementer, telah dikembangkan sebuah model tetradik. Salah satu interpretasi dari model diadik komplementer adalah identifikasi komplementasi "sains/agama" dengan komplementasi "luar/dalam". Pemilahan "luar/dalam" identik dengan pemilahan "objek/subjek" dalam perspektif epistemology. Menurut Wilber, pemilahan ini tidak mencukupi lagi untuk memahami fenomena budaya.

Wilber kemudian memasukkan komplementasi baru untuk melengkapi komplementasi-komplementasi modernis terdahulu. Komplementasi itu adalah komplementasi "satu/banyak", yang oleh Wilber disebut "individual/sosial". Dengan adanya dua komplementasi, yang lama dan yang baru, maka realitas budaya dibagi menjadi empat kuadran dimana satu lingkaran dipecah oleh dua buah sumbe komplementasi yang saling tegal lurus satu sama lainnya: horizontal dan vertikal. Pada diagram empat kuadran Wilber ini sumbu individual/sosial diletakkan secara horizontal, dengan individualitas di sebelah kiri dan sosialitas di sebelah kanan, dan sumbu interior/eksterior pada arah vertical dengan interioritas di sedelah kiri dan eksterioritas di sebelah kanan.

Menurut Wilber kuadran kiri atas bwerkaitan dengan subjektivitas, yang menjadi topic bagi psikologi Barat dan mistisisme Timur, dan kuadran kanan atas berkaitan dengan objektivitas yang menjadi topic bagi ilmu-ilmu kealaman atau sains. Sedangkan kiri bawah berkaitan dengan intersubjektivitas yang menjadi topic bahasan humaniora atau kebudayaan. Sementara itu, kuadtran kanan bawah menmyangkut interobjektivitas yang mempelajari gabungan objek-objek yang disebut Wilber sebagai masyarakat atau teknologi. Dengan demikian, ada empat kuadran keilmuan, yaitu ilmu-ilmu kealaman (kanan atas), ilmu-ilmu keagamaan (kiri atas), ilmu-ilmu kebudayaan (kiri bawah) dan ilmu-ilmu keteknikan (kanan bawah). 

Jika dilihat dengan ketiga model di atas pemikiran Seyyed Hossein Nasr kelihatannya cenderung masuk dalam kategori model perama. Bagi Nasr agama, yang diwakili oleh eologi, adalah segala-galanya. Sains dan ilmu-ilmu lain tidak boleh keluar dari kerangka dan dalam rangka membela teologi. 

"Senter" kedua tenang trilogi Restorasionis, Rekonstruktionis dan Pragmatis perlu dikemukakan di sini untuk melihat formulasi pemikiran Nasr. Konstruksi trilogi yang dipakai adalah apa yang telah dibangun oleh Pervev Hoodbhoy.

Pertumbuhan pesat sains modern mengundang anggapan dari banyak pihak, termasuk umat Islam. Beberapa diantara tanggapan itu ada yang masuk dalam kategori restorasionis, rekonstruktionis dan pragmatis. Ketiga kategori kelompok tanggapan terhadap sains tersebut dilihat secara sepintas dalam tulisan ini untuk "menyorot" pemikiran Seyyed Hossein Nasr, sehingga peta pemikirannya dalam hal sains modern mudah dipahami.

Pertama, Kaum Restorasionis. Kaum restorasionis adalah kelompok yang paling bersemangat mengembalikan kejayaan Islam di masa lampau. Kelompok ini juga berargumen bahwa kemunduran umat Islam saat ini karena mereka tidak mampu memegang fikrah dan thariqah Islam secara istiqamah. Menjamurnya gerakan fundamenalis pada sekita tahun 1970-1980-an adalah manifestasi yang paling nyata dari gerakan kaum restorasionis ini. 

Salah satu contoh gerakan kaum restorasionis adalah gerakan Jemaat-e Islami di Pakistan, suatu kelompok politik-agama yang mendapatkan dukungan dari masyarakat urban kelas menengah dan para mahasiswa. Walaupun belum pernah mendapat kemenangan dalam pemilu di Pakistan tetapi pengaruh kelompok ini sangat kuat di Pakistan. Maryam Jameelah, seorang Yahudi Amerika yang masuk Islam, adalah juru bicara Jemaat-e Islami yang paling cakap tentang masalah-masalah sains dan modernias. Jameelah berpandangan bahwa semua ideology modernis dicirikan dengan pemujaan manusia. Pemujaan manusia paling sering muncul di bawah kedok sains. Kepada modernis ditayangkan bahwa kemajuan dalam sains pada akhirnya akan menganugerahkan pada mereka kekuatan ilahi. Bagi Maryam Jameelah umat Islam seyogyanya tidak perlu "mengejar Barat" karena sifat sains Barat jahat dan tidak bertuhan. Masa lampau Islam jauh lebih baik, sementara modernitas tidak menghasilkan apapun kecuali kerusakan.

Kedua, Kaum Rekonstruksionis. Posisi kaum rekonstruksionis sangat sangat bertentangan dengan posisi ortodoks yang sangat anti-sains dan anti modernisme. Rekonstruksionis secara esensial menafsirkan kembali keimanan untuk mendamaikan tuntuan peradaban modern dengan ajaran dan tradisi Islam. Kelompok ini berpandangan bahwa Islam di masa Nabi dan masa khulafa' al-Rasyidin adalah Islam yang progersif, revolusioner, liberal dan rasional. Maka kelompok yang dogmatis reaksioner dianggap taqlid dan menolak inovasi (ijtihad).

Diantara tokoh kaum rekonstruksionis adalah Syed Ahmad Khan (1817-1898) dan Syed Ameer Ali (1849-1924). Ahmad Khan berpendapat bahwa Al-Qur'an harus ditafsirkan ulang berkaitan dengan realitas yang berubah. Sementara Ameer Ali berpendapat bahwa Islam adalah agama revolusioner, rasional dan berorientasi maju. 

Ketiga, Kaum Pragmatis. Kaum pragmatis sesungguhnya merupakan juml;ah terbesar dari umat Islam, tetapi kelompok ini lebih banyak memilih bungkam terhadap masalah modernitas dan sains. Merekalebih suka memperlakukan persyaratan-persayaratan agama dan keimanan sebagai sesuatu yang secara esensial tidak langsung berkaitan dengan masalah kehidupan politik ekonomi, atau dengan sains dan pengetahuan secular lainnya. Kaum pragmatis merasa puas dengan keyakinan samara bahwa Islam dan modernitas tidak bertentangan, tetapi mereka enggan menguji masalah-masalah tersebut dengan lebih mendalam. Salah satu contoh tokoh pro modernis dan pro sains adalah Jamaluddin al-Afghani (1838-1897).

Jika dilihat dengan snter trilogi ersebut di atas tampak bahwa pemikiran Seyyed Hossein Nasr berada pada kategori perama, yaitu kelompok restorianis. Hal ini wajar saja mengingat Nasr adalah tokoh terkemuka ortodoksi Islam, sehingga sangat mudah dipahami jika pola berpikirnya berada dalam frame restorianis.

Panduan Ilmu Cahaya Kitabullah

Panduan Ilmu Cahaya Kitabullah
Untuk mencapai suatu tujuan hidup sejak awal diperlukan niat ikhlas yang dirumuskan dengan jelas, do’a khusu’ yang dekat ijabah serta kendaraan pembawa baraqah yang mampu menerbangkan amal ibadah keharibaan ridhoNya. 

Pengalaman, ilmu dan wawasan diperlukan untuk menyederhanakan permasalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama dan terbukanya kemampuan melihat kemungkinan berkembangnya kreativitas dan akselerasi solusi. Kesemuanya itu tiada lain merupakan rahmah, baraqah dan innayah Allah swt. yang dilimpahkan kepada manusia yang menjelma sebagai keseluruhan ni’mah panduan berupa jalan lurus, kendaraan pembawa, cahaya penerang jalan serta rambu-rambu penyelamat perjalanan. Kebahagiaan hidup di dunia menyimpan berbagai masalah, ujian, cobaan serta kesenangan fana. Substansi bahagia akan menjelma menjadi kebahagiaan hakiki dunia – akhirat manakala manusia menempuh jalan yang telah ditetapkanNya ‘dinnul haq – sirathal mustaqim’ yang diterangi cahaya kebenaran, dilengkapi dengan sinyal-sinyal panduan keselamatan yang terdapat di dalam Al Qur’anul Karim dan Sunnah Rasulullah saw.

Dalam Kata Sambutan terbitnya terjemahan buku “Irsyadul Ibaad Ilaa Sabilir Rasyaad”, Dr. KH. Ali Yafie antara lain menulis: “Tiap orang menempuh jalan hidupnya mulai saat ia lahir dari kandungan ibunya sampai saat ia tutup usia. Ia akan selamat dalam perjalanannya itu kalau ia berhati-hati dan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pencipta kehidupn itu (Al Khaliq ‘Azza wa Jalla) yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia telah menjelaskan dalam Al Qur’an, Surah Al An’am, ayat 153:

“Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus, maka itulah yang kamu ikuti dan jangan mengikuti jalan-jalan yang lain sehingga mencerai-beraikan kalian (menyimpang dari jalan lurus itu). Yang demikian itu diwasiatkan kepada kalian semoga kalian senantiasa berhati-hati”.

Islam itulah jalan yang lurus menuju keselamatan abadi dan kebahagiaan yang kekal. Islam telah memberikan kepada manusia panduan yang lengkap bagaimana kita harus menempuh jalan kehidupan di dunia ini supaya selamat dan seterusnya selamat serta bahagia dalam kehidupan yang kekal abadi di akhirat”.

Irsyadul Ibaad Ilaa Sabiilir Rasyaad berisi ajaran Ilmu Taukhid dan berbagai permasalahan Fiqih (Masailul Fiqhiyah) yang disertai contoh kejadian melalui daya tarik Hikayat. Walaupun nampak agak fantastis, kisah-kisah yang disajikan akan membantu pencapaian tingkat penghayatan yang diperlukan untuk memandu kearah pengamalan ajaran atau menghindari kemungkinan sesat jalan; sehingga tepat kalau diterjemahkan sebagai Panduan ke Jalan Kebenaran.

Menurut Imam Al Ghazali dalam “Ihya Ulumiddin” dikatakan bahwa kumpulan kebagusan akhlak dan tawadlu’ itu ialah perjalanan hidup (sirah) Nabi saw. Maka seyogianyalah diikuti (teladan) Nabi Muhammad saw. Dan dari padanyalah seyogianya dipelajari.

Abu Umamah Al Bahili ra. berkata: “tatkala Muhammad saw. diutus, lalu iblis mendatangkan tentaranya, lalu tentara itu berkata: “Sesungguhnya telah diutus seorang Nabi dan telah muncul suatu ummat”. Iblis bertanya: “Mereka itu mencintai dunia?”

Mereka menjawab: “Ya!”
Lalu Iblis menyambung: “Jikalau benar mereka itu mencintai dunia, niscaya aku tidak hiraukan (tidak jadi masalah) walaupun mereka tidak menyembah berhala. Sesungguhnya aku akan datang kepada mereka (pada waktu) pagi dan sore dengan tiga perkara: mengambil harta dari bukan haknya; membelanjakan harta pada bukan haknya; dan menahan harta dari haknya. Dan semua kejahatan timbul dari yang tiga ini!”

Ummat membutuhkan Panduan Ilmu.
Karunia Allah dibagikan kepada ummat manusia sesuai amanah yang diembannya. Sama halnya dengan amanah kekayaan harta benda, amanah ilmu tidak diterima persis sama antara seorang dengan seorang lainnya, ada yang diberi kemampuan besar dalam menyerap dan menganalisis permasalahan ada yang diberi kemampuan sedang atau kecil. Besar kecilnya kemampuan intelektual berhubungan dengan tingginya tingkat kecerdasan yang diamanatkan Allah kepada seseorang. Semakin cerdas seseorang semakin besar pertanggungan jawabnya pada yaumal hisab kelak, dalam memandu ummat sesuai ilmu yang dibutuhkan. Pertanyaan akan berkembang dari kesungguhan upaya mencari ilmu, menyerap dan menganalisis serta membagikannya pada yang lain sehingga usaha mengimplementasikannya bagi kepentingan ummat menjadi semakin sederhana dan mudah. Semakin banyak harta benda dan semakin tinggi tumpukan ilmu yang tersimpan sebagai hasanah kebanggaan dan kebakhilan pribadi akan menjadi beban berat yang dapat menggagalkan keberhasilan dalam ujian penentu yaumal akhir. Naudzubillah min dzalik(a)!

Para ahli tafsir berpendapat bahwa substansi ayat-ayat Al Qur’an disamping meliputi aspek Akidah, Ibadah, Akhlak dan Sejarah juga mengandung isyarat-isyarat Ilmu Pengetahuan yang memberi amanat kepada ilmuwan dan ulama untuk melakukan studi dan eksperimen. Sebagian besar dari padanya berkaitan dengan alam semesta mulai dari kejadiannya, komponen materinya, ukuran kuantumnya, kecepatan mobilitasnya hingga pada eksistensi dan misterinya dimana logika manusia dan perangkat penelitian tidak mungkin lagi menjangkaunya.

Dalam pengetahuan agama, ilmu yang membahas alam semesta baik dari sudut asal materi maupun proses kejadiannya dikenal sebagai Ilmu Kauniah, yang secara etimologis berarti keadaan atau alam semesta. Di dalam Kitab Sucial Qur’an terdapat tidak kurang dari 750 ayat yang berkaitan dengan atau membahas alam semesta, dimana alam terbagi dua kategori yakni as samawat yang berarti langit dan al ard yang berarti bumi.

Manusia pertama yang mendapat pelajaran tentang langit dan bumi adalah Nabi Adam as. yang kemudian diwariskan pada generasi-generasi penerus ummat manusia berikutnya.

Ilmu yang berkaitan dengan as samawat secara garis besar terdiri dari ilmu astronomi dan ilmu metafisika, sedangkan ilmu al ard terdiri dari ilmu al ulum al insaniyyah (manusia dan kemanusiaan), al ulum al hayawaniyyah (kehidupan binatang /fauna) dan al ulum an nabatiyyah (kehidupan tumbuh-tumbuhan /flora).

Ayat-ayat yang berkaitan dengan asal kejadian alam semesta hingga berakhirnya pada yaumal kiyamah tercantum dalam kitab suci Al Qur’an, antara lain surat Fushilat ayat 11 yang berbunyi:

“Kemudian Dia menuju pada (penciptaan) langit, dan langit itu (masih merupakan) asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu berdua (menurut perintahKu) dengan suka hati atau dengan terpaksa”. Keduanya berkata:”Kami datang dengan suka hati”.

Betapa kepatuhan alam semesta kepada Allah swt. yang ditunjukkan pada ayat tersebut, dimana pada waktu itu planet-planet masih berujud asap, kemudian membentuk galaxy dengan masing-masing solar system (tata surya) yang terdiri dari planet-planet dan asteroids. Planet pada tata surya kita memiliki sembilan planet termasuk bumi dimana planet yang paling dekat dengan matahari (solar) disebut merkurius dan yang terjauh bernama pluto.

Apabila posisi eksistensi planet bumi dilihat dari keseluruhan galaksi-galaksi yang terdapat dalam ruang jagad-raya (macrocosmos), maka bumi akan nampak sebagai sebutir debu yang berada diantara billiunan butir debu lainnya. Allahu Akbar.

Ilmu pengetahuan pertama kali menjelaskan proses kejadian alam semesta melalui teori Kabut dari Kant dan Laplace serta teori Big Bang yang menggemparkan para ilmuwan pada waktu itu. Bukannya tidak mungkin teori ini terinspirasi oleh ayat-ayat dalam Al Qur’an, mengingat teori ini bersandar pada asumsi dan penelitian yang relatif terbatas, sedangkan obyeknya berada pada masa tak terhingga.

Dalam surat Anbiyaa ayat 30, Allah swt. berfirman:

“Apakah orang-orang kafir itu tidak melihat bahwasanya langit dan bumi itu keduanya (dahulu) adalah berpadu (menjadi satu) lalu Kami pisahkan antara keduanya, dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka apakah mereka tidak beriman?”

Mengembangkan Ilmu menuntut Kesabaran Penelitian dan Eksperimen.
Untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan kemajuan peradaban dibutuhkan semangat dan usaha sungguh-sungguh dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Upaya ini tidak hanya menuntut daya intelektualitas dan penyediaan dana dan peralatan yang memadai, tapi juga menghendaki sikap tekun, kerja keras serta tidak kenal menyerah, yang dalam bahasa agama disebut sebagai sikap sabar. Proses kemajuan ilmu pengetahuan hanya dapat bergerak bila didalamnya cukup tersedia energi dedikasi yang mampu menggerakkan proses penelitian, pengembangan dan eksperimentasi. Para pelaku yang kurang memiliki research dedication tidak mungkin terlibat dalam mekanisme penelitian yang sebenarnya, jangkauan terjauh yang mungkin dicapai adalah predikat-predikat yang diperlukan dalam upaya pengakuan eksistensi dan pengkayaan kemajemukan ‘artificial layers’. 

Untuk mencapai keberhasilan suatu ‘Problem Solving Technique’ diperlukan Operation Research yang memiliki tingkat originalitas, validitas cukup memadai serta memenuhi persyaratan realitas sebagai ‘acceptable implementation research’. Keberhasilan rangkaian proses ini pada akhirnya bergantung pada kemampuan tim peneliti dan komunikasi dengan sumber informasi serta rasa tanggung jawab dari mereka yang berkewajiban dalam implementasi hasil penelitian dan eksperimentasi yang direkomendasikan.

Komunitas yang jujur dan berdedikasi akan menikmati keuntungan dari adanya komitmen tinggi yang dibangun diatas jaring-jaring interaktif Sektor Riil dengan Dunia Ilmu Pengetahuan. Perkembangan Sektor Riil banyak bergantung pada keberhasilan Dunia Ilmu Pengetahuan dalam menyumbangkan hasil penelitian (terapan) yang berkualitas dan applikatip, sedangkan kemajuan pendidikan dan penelitian sangat memerlukan kontribusi energi dari benefit yang diperoleh Sektor Riil selaku pengguna (users) hasil proses penelitian dan percobaan-percobaan ilmiah tepat pakai. Kedua peran jaring interaktif, Dunia Ilmu Pengetahuan dan Sektor Riil akan lebih diharapkan manfaat kehadirannya dalam meningkatkan kualitas hidup dan memacu produktivitas komunitas ummat sehingga tercapai keuntungan timbal balik (‘reciprocal benefit’) dan kemaslahatan bersama.

Dalam bidang ilmu terapan seorang ilmuwan bernama Hamdy A Taha (“Operations Research” An Introduction) menyatakan: 

“As a problem-solving technique, OR must be viewed as both a science and as art. The science aspect lies in providing mathematical techniques and algorithms for solving appropriate decisions problems. Operations research is an art because success in all the phases that precede and succeed the solution of a mathematical model depends largely on the creativity and personal abilities of the decision-makin analysts. Thus gathering of the data for model construction, validation of the model, and implementation of the obtained solution will depend on the ability of the OR team to establish good lines of communication with the source of information as well as with the individuals responsible for implementing recommended solutions”.

Kiranya cukup mengagumkan dan sangat bermanfaat rintisan sains yang dilakukan ilmuwan-ilmuwan muslim beberapa abad yang lalu, dimana sejarah ilmu pengetahuan telah mencatat penelitian dan penemuan-penemuan yang dilakukan oleh Ibnu Haitam, Al Kindi, Al Farabi, Al Biruni, Ibnu Sina, Al Mas’udi, Ibnu Rusydi, Al Kazwini dan masih banyak lagi yang bergerak dalam disiplin ilmu masing-masing yang melandasi serta memberi sumbangan besar pada perkembangan sains modern seperti ilmu matematika, fisika, optika, kimia, kedokteran, astronomi, geografi, sejarah, bahasa, sastera, ekonomi (syari’ah) dan sebagainya.

Seorang ahli fisika abad pertengahan bernama Ibnu Haitam yang lahir di Basra pada tahun 354H/965M mengawali lahirnya teori-teori fisika, matematika dan astronomi, disamping mengembangkan pemikiran-pemikiran dibidang filsafat dan menjadi perintis ilmu baru optika sehingga menjadi studi yang teratur dengan rumus-rumus yang jelas. Hasil penemuan dan pemikirannya hampir semuanya diterjemahkan kedalam berbagai bahasa Eropa terutama ilmu matematika dan fisika, sehingga dengan mudah menyebar ke seluruh dunia dalam memberi sumbangan bagi perkembangan teori dan penelaahan, berbagai aplikasi dan model penelitian dari kedua disiplin ilmu tersebut.

Ibnu Haitam banyak menyumbangkan pemikiran baru melalui kombinasi rumus matematis dengan model fisik eksperimen agar mudah dimengerti, sehingga dia dijuluki ahli fisika teoritis -eksperimental. Berbagai percobaan ilmiah dilakukannya antara lain 

menentukan gerak rektilinier cahaya, sifat bayangan, penggunaan lensa camera obscura, dan berbagai fenomena optika lainnya. Dia pula yang banyak mempraktekkan pembuatan lensa dan cermin lengkung dengan menggunakan mesin bubut yang dimilikinya.

Penemuannya yang mengagumkan para ilmuwan waktu itu adalah bahwa cahaya yang bergerak di udara berjalan di atas garis lengkung (melengkung), sehingga dia berkesimpulan kita dapat melihat cahaya bulan dan matahari sebelum keduanya benar-benar muncul di cakrawala, dan sebaliknya kita masih bisa melihatnya walaupun keduanya sudah terbenam di kaki langit.

Perjalanan karir Ibnu Haitam sebagai cendekiawan fisika tidak selamanya menyenangkan, tatkala dia menerima tawaran penguasa Fatimiah di Mesir yang bernama Al Hakim bin Amirillah (386H – 411 H) untuk mengendalikan banjir Sungai Nil dengan ilmu pengetahun yang dimilikinya. Kedatangannya disambut secara meriah dengan upacara kebesaran. Namun dia tidak berhasil menyusun proposal pengendalian banjir yang diharapkan dapat memperbaiki sistim irigasi dan pertanian Mesir. Untuk menghindari kemarahan penguasa Fatimiah, Ibnu Haitam meninggalkan tempat kerjanya dengan berpura-pura sakit ingatan. Untuk waktu lama tidak diketahui keberadaan ilmuwan itu, hingga suatu ketika dia kembali ke Cairo sebagai pengajar ilmu matematika hingga akhir hayatnya pada tahun 430 H dalam keadaan sangat sederhana. Meskipun demikian dunia ilmu pengetahuan menerima warisan scientific heritage yang sangat bernilai berupa hampir 200 karya ilmiah bidang fisika, matematika, astronomi dan filsafat hasil pemikiran, penelitian dan eksperimen ilmuwan besar Islam yang bernama Ibnu Haitam.

Ilmuwan muslim berikutnya yang menarik untuk diketengahkan bernama Al Biruni kelahiran Khawarizmi,Turkmenistan tahun 362H dan wafat di Ghazna pada usia 86 tahun. Ketika tinggal di Jurjan kehidupan Al Biruni terbilang beruntung karena penguasa setempat sangat tertarik pada ilmu pengetahuan sehingga Al Biruni mendapat perhatian dan penghormatan tersendiri.

Ketika pindah ke Ghazna sebuah kota di sebelah selatan Kabul, Al Biruni tinggal di istana Mahmud Gaznawi, bahkan mendapat kesempatan mengunjungi negeri-negeri Hindu beberapa kali dalam rangka wisata ilmiah. Disana dia mengadakan penelitian sejarah, kebudayaan dan agama, dan berhasil meluncurkan sebuah buku ilmiah berjudul Al Hind, dimana sebelumnya dia harus menguasai bahasa Sanskerta untuk mendukung keberhasilan penelitiannya.

Untuk mengembangkan kemampuannya menguasai berbagai ilmu, Al Biruni berusaha mempelajari beberapa bahasa antara lain Arab, Persia, Sanskerta, Yunani, Ibrani dan Suryani. Bidang yang paling ditekuninya adalah fisika, ilmu falak dan filsafat, dimana untuk memperluas wawasannya dalam bidang fisika paripatetik dan ilmu falak dia sering berkirim surat pada sahabatnya seorang ahli filsafat dan kedokteran yang hidup semasa dengannya yakni Ibnu Sina. Seperti tertera dalam suratnya yang ditujukan kepada Ibnu Sina, dia menyatakan bahwa gerak eliptis lebih mungkin daripada gerak melingkar pada pergerakan planet-planet.

Dalam bidang filsafat Al Biruni banyak terpengaruh oleh pemikiran tokoh-tokoh filsafat Islam terkemuka seperti Al Farabi, Al Kindi dan Al Mas’udi.

Meskipun dia seorang ilmuwan multi disiplin, penguasaannya pada bidang fisika cukup kuat, sehingga dipandang sebagai seorang sarjana fisika yang terkemuka dalam periode sejarah Islam, disamping kemampuannya dalam bidang geografi, matematika, mineralogi, astronomi, astrologi dan sejarah. Bahkan karyanya dalam elemen astrologi mendapat tempat terhormat diantara deretan literatur-literatur ilmiah, dimana selama beberapa abad tetap digunakan sebagai referensi standard oleh perguruan-perguruan tinggi.

Dapat diketengahkan pula disini apa yang dilakukan oleh seorang ilmuwan Islam Klasik, keturunan Arab bernama Al Kazwini berasal dari Kufah Irak Persia, yang hidup dari tahun 600 H – 682 H / 1203 M – 1283 M. Seorang scientist yang menguasai berbagai bidang sains awal dan mengabdikan hidupnya pada Allah swt. melalui berbagai penelitian dan percobaan ilmiah, seperti ilmu falak, geografi, geologi, mineralogi, botani, zoologi dan etnografi.

Buku Al Kazwini yang paling terkenal berjudul “Ajaib al Makhluqat wa Garaib al Maujudat” (Keajaiban Mahluk dan Keanehan Alam) yang pada bagian pertama menguraikan tentang ruang angkasa yang berisi benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang serta penghuninya yaitu para malaikat. Bagian ini dilengkapi dengan perhitungan waktu dan penanggalan Arab Suriah.

Pembahasan tentang alam fisika yang terdiri dari empat unsur yakni udara, air, tanah dan api) serta materi lainnya berupa meteor, angin, iklim, laut dan sungai menempati bagian kedua dari karyanya tersebut. Selain itu dia menguraikan struktur formasi pegunungan dan lembah serta sebab-sebab terjadinya gempa bumi. Dikemukakannya bahwa makhluk terbagi dalam tiga kategori yakni alam mineral, alam flora (tumbuhan) dan alam makhluk yang bernyawa yakni manusia dan binatang. Dalam menguraikan manusia Al Kazwini melengkapi diskripsinya dengan illustrasi anatomi yang artistik disamping gambar tumbuh-tumbuhan dan binatang; tidak luput dari imajinsinya adalah kehidupan mahkluk hidup lain yakni jin dan iblis. Semua uraiannya diperkaya dengan tabel-tabel geometri dan perspektif illustrasi yang menarik sehingga memudahkan penelusuran pemikiran teori-teorinya.

Tidak mengherankan kalau buku-bukunya banyak memberikan sumbangan pemikiran dan inspirasi bagi pengembangan ilmu falak selanjutnya, karena dipandang paling komprehensip dan sistimatis. Ia telah berhasil dalam menghimpun berbagai teori dan informasi ilmu falak sebelumnya dan memadukannya dalam tatanan dan penyajian yang lebih bermutu serta mudah dicerna walaupun sering muncul ketidak orisinalitasnya.

Tanggung Jawab Moral Pelestarian Lingkungan

Tanggung Jawab Moral Pelestarian Lingkungan
Masalah pemeliharaan atau pelestarian lingkungan hidup bukanlah hanya sekedar masalah sosial, seperti masalah ekonomi, masalah politik, masalah estetika, dan lain sebagainya. Jauh lebih dari itu, masalah lingkungan hidup merupakan masalah moral, sehingga menuntut suatu pertanggungjawaban moral. Kalau disebut sebagai masalah moral berarti mengandung suatu kewajiban dasar dan mengikat bagi manusia, untuk memperlakukan alam secara baik dan penuh tanggung jawag. Namun fakta menunjukkan bahwa lingkungan, yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia, sudah diambang kepunahan. Kepunahan alam terjadi karena ulah manusia sendiri, yang dengan rakusnya melakukan tindakan eksploitasi tak terkendali terhadap alam. Alam telah diperlakukan secara sewenang-wenang demi tujuan pribadi atau kelompok, yang umumnya berjangka pendek saja, yaitu tujuan ekonomis semata. Kerusakan lingkungan hidup telah membawa banyak bencana bagi manusia diberbagai belahan dunia, dan hal itu akan berlangsung terus manakala manusia tidak segera merubah sikapnya terhadap alam. Maka untuk itu demi kelestarian alam manusia harus bisa menumbuhkan perasaan mendalam bahwa melukai alam bagaikan melukai diri kita sendiri.

A. Alam diambang kepunahan
Dari berbagai data yang ada dapat terlihat bahwa alam memang sedang menuju pada tahap-tahap yang semakin kritis dalam proses kepunahan. Ada banyak masalah serius yang menunjukkan dimensi global pencemaran lingkungan hidup, beberapa diantaranya dapat disebutkan dibawah ini.

1. Akumulasi bahan beracun
Industri kimia telah membuang limbahnya kedalam sungai atau laut. Hal itu telah membawa akibat antara lain, ikan sudah semakin tidak layak untuk dikonsumsi karena kadar merkuri atau bahan kimia yang dibuang telah merembes kedalamnya. Pestisida yang digunakan untuk meningkatkan produksi pangan, telah masuk dalam rantai makanan manusia sampai ke air susu ibu(ASI) yang diminum oleh bayi. Beberapa herbisida seperti Silver, diketahui mengandung dioksin, yang merupakan racun kuat dan dapat mengakibatkan kanker. Fosfat dari deterjen cuci membuat alga dalam air bertambah banyak dan oksigen berkurang, sehingga memusnahkan bentuk kehidupan didalam air. Jenis plastik polstyrene, sulit hancur secara alami, sehingga akan membebani lingkungan. Adanya berita-berita tentang negara-negara industri maju yang mengekspor limbahnya yang berupa bahan beracun berbahaya ke negara-negara miskin, dengan imbalan pembayaran yang menggiurkan bagi negara-negara miskin. Risiko besar untuk lingkungan terjadi oleh penggunaan tenaga nuklir, yang tetap terbuka kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan, dan limbah nuklir seperti plutonium yang mengandung radioaktif selama ribuan tahun dan sangat membahayakan kesehatan manusia.

2. Efek rumah kaca
Energi yang menerangi Bumi datang dari Matahari. Sebagian besar energi yang membanjiri planet kita ini adalah radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar; walaupun sebagian tetap terperangkap di atmosfer Bumi. Gas-gas tertentu di atmosfer termasuk uap air, karbondioksida, dan metana, menjadi perangkap radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Dampak pemanasan global
Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.

Cuaca
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya Matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
Tinggi muka laut

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Hewan dan tumbuhan
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Kesehatan manusia
Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.

Perdebatan tentang pemanasan global
Tidak semua ilmuan setuju tentang keadaan dan akibat dari pemanasan global. Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah temperatur benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang keadaan di masa depan. Kritikan seperti ini juga dapat membantah bukti-bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan berargumen bahwa siklus alami dapat juga meningkatkan temperatur. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di beberapa daerah.

Para ilmuan yang mempertanyakan pemanasan global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim. Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad ke-20; bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an. Kedua, jumlah total pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, troposphere, lapisan atmosfer terendah, tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi, pendukung adanya pemanasan global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.

Kurangnya pemanasan pada pertengahan abad disebabkan oleh besarnya polusi udara yang menyebarkan partikulat-partikulat, terutama sulfat, ke atmosfer. Partikulat ini, juga dikenal sebagai aerosol, memantulkan sebagian sinar Matahari kembali ke angkasa luar. Pemanasan berkelanjutan akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena adanya kontrol terhadap polusi yang menyebabkan udara menjadi lebih bersih.

Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi disebabkan penyerapan panas secara besar oleh lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memberikan hasil analisa baru tentang temperatur air yang diukur oleh para pengamat di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan pemanasan: temperatur laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat Celsius (0,3 derajat Fahrenheit) daripada temperatur rata-rata 50 tahun terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukup berarti.

Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit mendeteksi lebih sedikit pemanasan di troposphere dibandingkan prediksi model. Menurut beberapa kritikus, pembacaan atmosfer tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan Bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari 2000, sebuah panel yang ditunjuk oleh National Academy of Sciences untuk membahas masalah ini mengakui bahwa pemanasan permukaan Bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposphere yang lebih rendah dari prediksi model tidak dapat dijelaskan secara jelas.

Pengendalian pemanasan global
Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.

Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.

Menghilangkan karbon
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbondioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.

Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbondioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbondioksida sama sekali.

Persetujuan internasional
Protokol Kyoto
Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.

Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.

Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.

Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbondioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbondioksida.

Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.

Salah satu hal yang sangat mengkhawatirkan sekarang ini adalah naiknya suhu permukaan bumi akibat efek rumah kaca (greenhouse effect). Menurut perkiraan para ahli, setiap tahun dilemparkan lima milyar ton karbondioksida kedalam atmosfer. Seperti halnya kaca di rumah kaca, gas-gas yang disebut gas rumah kaca itu memerangkap gelombang panas, sehingga terjadilah peningkatan suhu secara global. Akibat yang tidak dapat dihindarkan dari pemanasan ini, es dan salju di kutub utara dan selatan mencair, yang menyebabkan permukaan air laut akan naik. Diperkirakan dalam tahun 2100 permukaan air laut akan naik antara 1,4 sampAI 2,2 meter. Dan kalau hal ini berlangsung terus dalam keadaan yang lebih buruk, maka akan terjadi bencana serius bagi umat manusia, seperti: kota-kota atau pemukiman yang dibangun di pinggir laut akan tergenang, seperti Jakarta Utara, dan negara-negara yang terletak di tempat-tempat rendah seperti Negeri Belanda dan Bangladesh, akan hilang dari muka bumi.

3. Perusakan lapisan ozon
Bumi dikelilingi oleh lapisan ozon (O3) dalam atmosfir yang konsentrasinya paling besar berada pada ketinggian kira-kira 20-30 kilometer di atas permukaan bumi. Lapisan ozon sangat penting untuk melindungi kehidupan terhadap sinar ultraviolet matahari, dimana 80% penyinaran ultraviolet dari matahari disaring olehnya. Dari hasil pengukuran melalui satelit tampak semakin menipisnya lapisan ozon. Sejak tahun 1970-an terbentuk ”lubang” ozon di atas Antartika (kutub selatan). Tahun 1997 Ilmuwan Selandia Baru melaporkan lubang ozon itu sudah mencapai luasan 25 juta kilometer persegi, 60 persen lebih besar dari hasil pengukuran tahun 1980. Kerusakan lapisan ozon itu diakibatkan oleh beberapa sebab yang berbeda. Tapi menurut para ahli, penyebab paling berpengaruh adalah pelepasan bahan CFC (klorofluorokarbon) ke dalam udara. CFC adalah bahan kimia yang banyak dipakai dalam kaleng penyemprotan aerosol, lemari es, dan alat AC, dan juga dalam ”karet” busa. Kerusakan lapisan ozon mengakibatkan radiasi ultrviolet dari matahari bisa mencapai permukaan bumi, yang akan membawa pengaruh negatif bagi kesehatan manusia dan kehidupan pada umumnya di bumi. Beberapa masalah yang ditimbulkan oleh radiasi itu, antara lain: penyakit kanker kulit, penyakit mata katarak, penurunan sistem kekebalan tubuh, kerusakan bentuk-bentuk hidup dalam laut dan tanaman di darat.

4.Hujan asam
Pada kawasan industri padat, seperti Kanada dan bagian utara Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Swedia dan Finlandia, sejak beberapa dekade terakhir ini terjadi hujan asam (acid rain). Asam dalam emisi industri bergabung dengan air hujan dan mencemari daerah yang luas, merusak hutan dan pohon-pohon lain, mencemari air danau, merusak gedung-gedung dan sebagainya. Bagi manusia, hujan asam bisa mengakibatkan gangguan saluran pernafasan dan paru-paru.

5.Deforestasi dan penggurunan
Penggunaan kayu untuk berbagai keperluan telah mendorong penebangan hutan secara tak terkendali, yang menyebabkan hutan semakin cepat berkurang. Juga untuk membuka lahan pertanian yang baru terjadi pembabatan hutan yang semakin meluas. Ini dilakukan oleh penduduk setempat yang jumlahnya semakin bertambah, maupun oleh perusahaan nasional dan internasional yang ingin membuka lahan baru untuk lahan peternakan atau perkebunan. Penebangan hutan (deforestation) secara besar-besaran mempunyai dampak penting atas lingkungan hidup, karena dengan demikian maka salah satu fungsi hutan, yakni meresap karbondioksida yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil pada industri ataupun kendaraan bermotor, sutu penyebab penting terjadinya efek rumah kaca. Selain itu tingkatan air tanah menurun terus karena berkurangnya hutan yang berkedudukan untuk menjaga kadar air dalam tanah.

6.Punahnya keanekaan hayati.
Kekayaan alam ini sebagian besar ditentukan oleh banyaknya spesies yang hidup di dalamnya. Keanekaan hayati (biodiversity) adalah jenis-jenis kehidupan (spesies) yang memiliki makna sangat penting untuk segalam aspek kehidupan manusia, seperti makanan, obat-obatan, dan sebagainya. Swalah satu akibat besar dari kerusakan lingkungan hidup adalah kepunahan spesies yang semakin bertambah setiap waktu. Dan spesies hidup yang punah sekarang akan hilang lenyap dari muka bumi untuk selamanya. Yang memiliki andil besar terhadap kemusnahan spesies hidup ini adalah penggunaan peptisida dan herbisida yang semakin intens. Menurut perkiraan para ahli, kira-kira 7 persen dari jumlah spesies di daerah non tropis kini telah punah dan di daerah tropis 1 persen. Dengan adanya penebangan yang semakin banyak di hutan tropis, maka angka kepunahan ini akan bisa cepat berubah ke arah yang lebih buruk lagi.

B. Manusia sebagai Agen Perubahan
1.Manusia mempengaruhi lingkungan
Sebenarnya, perubahan-perubahan alami yang merupakan proses dinamis yang dialami bumi dari semula telah terjadi dengan sendirinya. Bumi sejak semula sudah mengenal kenaikan dan penurunan muka air laut yang disebabkan oleh perubahan suhu secara global. Di berbagai tempat juga terjadi erosi, banjir, kekeringan, perubahan total di suatu kawasan, dan sebagainya. Semua peristiwa alami itu terjadi dengan sendirinya, tanpa dirasa sebagai suatu hal yang merugikan. Akan tetapi, dengan kehadiran manusia, berbagai perubahan yang terjadi di bumi tidak lagi hanya berlangsung secara proses alami. Manusia telah turut memperkaya bahkan telah berperan sebagai agen perubahan, yang menyebabkan proses alami di bumi tidak lagi berlangsung sebagaimana adanya.

2.Melestarikan keseimbangan lingkungan
Bahwa terjadinya perubahan di lingkungan sebenarnya tidak menjadi masalah, asalkan perubahan yang dilakukan membawa suatu keseibangan baru yang semakin berkualitas. Pembangunan bagaimanapun juga selalu membawa perubahan, termasuk juga menganggu keseimbangan lingkunagan. Maka pembangunan sebenarnya merupakan ”gangguan” pada keseimbangan lingkungan, untuk membawanya pada keseimbangan baru yang semakin berkualitas. Oleh karena itu kita perlu hati-hati dengan kata ”melestarikan lingkungan”. Menurut kamus Poerwadarminta (1976) kata lestari berarti tetap selama-lamanya, kekal, tidak berubah seperti sediakala; melestarikan berarti membiarkan tetap tidak berubah. Dalam usaha pembangunan, kita tidak dapat melestarikan lingkungan dalam pengertian itu. Yang harus kita lestarikan bukanlah lingkungan itu sendiri atau keseimbangan lingkungan agar tetap seperti itu. Yang harus kita lestarikan adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung pembangunan dan tingkat hidup yang lebih tinggi.

C. Penyebab Terjadinya Kerusakan Alam
Kalau diamati lebih dalam, maka dapat disebutkan beberapa hal penting yang dapat dianggap sebagai kondisi pemicu terjadinya berbagai kerusakan lingkungan. 

1. Pola pendekatan yang merusak 
Kehidupan manusia yang mengageni perubahan yang berlangsung di bumi ini sebenarnya tidak harus berwujud pengrusakan bagi lingkungan, melainkan dapat juga berwujud engolahan, yang menjadikan bumi sebagai hunian yang semakin baik dan indah bagi kehidupan. Akan tetapi, manusia tidak secara konsisten memainkan peran seperti itu. Pola pendekatan manusia modern terhadap alam merupakan pendekatan teknokratis (dari kata Yunani tekne = keterampilan dan krattein = menguasai). Pendekatan ini mengedepankan penggunaan teknologi yang semakin canggih untuk menguras isi bumi dan menguasainya. Pendekatan teknokratis berangkat dari sikap yang hanya memandang alam sebagai sekadar sarana untuk memnuhi kebutuhan manusia. Alam dipandang sebagai tumpukan kekayaan dan energi, yang dapat dimanfaatkan oleh manusia seberapa dia sanggup mengalinya. Dengan kemampuan teknologi yang dia rancan semakin canggih, manusia dapat membongkar alam ini untuk mengambil apa saja yang dia perlukan, sedangkan yang tidak dia perlukan dibuang atau dibiarkan begitu saja. 

2.Terkait bidang perekonomian modern 
Berbagai masalah lingkungan yang didorong oleh penguasaan ilmu dan teknologi sangat terkait dengan bidang perekonomian modern yang berpolakan kapitalistik, dengan tujuan utama produksi untuk perolehan laba perusahaan. Hanya perusahaan yang memperoleh laba besar yang dapat bertahan dalam persaingan yang semakin bebas dan ketat. Dalam persaingan demikian biasanya perusahaan meningkatkan labanya dengan cara menekan biaya produksi serendah mungkin. Itu jugalah yang dilakukan oleh pengusaha ketika mengeksploitasi kekayaan alam. Dengan biaya serendah mungkin – yang dicurahkan hanya untuk bisa menggali kekayaan alam – maka usaha perbaikan dan pemulihan kembali keadaan alam, menjadi terabaikan. Yang dilakukan adalah sekedar mengambil apa yang perlu, lalu sesudah itu meninggalkannya begitu saja. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh banjir, misalnya, sering kali disebabkan oleh penebangan hutan seperti di lereng-lereng gunung, untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian atau pemukiman baru. Akibat penebangan yang dilakukan secara liar, air tidak bisa meresap ke dalam tanah, yang berubah menjadi banjir. Begitu juga dengan polusi udara yang diakibatkan oleh asap pdari berbagai pabrik raksasa dan berbagai substansi kimiawi beracun, dan segala bentuk sampah lain yang dibuang begitu saja atau dialirkan ke dalam sungai, dan dihembuskan melalui cerobong-cerobong pembuangan ke dalam atmosfer. Demi biaya serendah-rendahnya maka pengolahan sampah dan berbagai limbah pabrik dan industri tidak lagi diperhatikan. 

3.Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi 
Dengan adanya kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia bukan lagi hanya mengalami kemajuan di bidang pertanian, tetapi juga di berbagai bidang kehidupan lainnya. Dengan kemajuan yang dicapainya manusia mulai mengembangkan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam, sebagai alternatif di luar bidang pertania. Abad ke delapan belas dan sembilan belas merupakan awal terbentuknya masyarakat industri yang telah merintis suatu gerakan raksasa dalam penggunaan energi dengan penemuan cara menguraikan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas bumi. Dari penemuan-penemuan itu telah dihasilkan berbagai jenis produksi yang dimanfaatkan produksi yang dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan peningkatan taraf hidup manusia. Akan tetatpi, bersamaan dengan berbagai manfaat yang diperoleh dari kemajuan tersebut, telah terjadi serangkaian krisis lingkungan hidup, mulai dari yang berskala kecil hingga yang berskala besar. Sebagai contoh, Kebocoran Pabrik Pestisida milik Union Carbide d kota Bhpal, India, dan musibah reaktor nuklir di Chernobyl, Uni Soviet. Kasus Bhopal terjadi 20 tahun silam, tepatnya pada malam hari 3 Desember 1984. Kebocoran besar terjadi pada sebuah tangki penyimpanan bahan gas di pabrik pestisida milik perusahaan Amerika Serikat, Union Carbide. Tangki yang bocor itu memuntahkan 40 ton gas beracun, yang kemudian terbang bersama angin keluar dari lokasi pabrik. Menurut catatan resmi, gas beracun yang bergerak liar itu langsung menewaskan 1.750 orang penghuni pemukiman padat di sekitar pabrik. Mereka tewas akibat menghirup gas panas yang membakar paru-paru. Sekitar 2.500 orang tewas pada hari berikutnya. Dan menurut beberapa kelompok korban, setidaknya ada 8.000-an warga yang tewas dalam beberapa hari setelah kejadian itu, serta ribuan lainnya tewas kemudian akibat berbagai penyakit yang timbul akibat racun itu. Bisa diyakini bahwa ada ribuan orang yang menderita buta dan ratusan ribu orang yang mengalami gangguan kesehatan lainnya. Yang jelas, hingga hari ini puluhan warga dikabarkan masih dalam kondisi sakit yang kronis akibat kejadian itu. Dampak dari peristiwa tersebut masih terasa hingga sekarang, sebagaimana dilaporkan oleh seorang penulis Perancis, Dominique Lapierre5, yang hadir secara langsung di India dalam rangka memperingati tragedi pabrik paling buruk di dunia itu. Dilaporkan bahwa lokasi di sekitar lokasi di sekitar tragedi Bhopal, yang menewaskan ribuan orang 20 tahun silam itu, sampai hari ini masih tercemar racun. Warga yang tinggal di daerah pemukiman padat di sekitar lokasi tragedi itu masih juga ’dihukum’, karena terpaksa minum air yang sangat beracun. Sebuah penelitian telah dilakukan atas sponsor BBC dan menemukan bahwa tingkat kontaminasi pada sampel air yang berasal dari sekitar lokasi pabrik adalah 500 kali lebih tinggi dari batas maksimum yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO (World Health Organization).

4.Pertambahan penduduk yang semakin pesat 
Jumlah penduduk dunia masih terus bertambah denga laju rata-rata sekitar 1,6 persen/ tahun atau sekitar 80 juta orang/ tahun. Mereka ini semua memerlukan tambahan produksi pangan , energi, rumah, dan kebutuhan hidup lain. Ironisnya sebagian besar pertambahan penduduk terjadi di negara-negara sedang berkembang dan negara miskin, yang tidak mampu unuk mendukung kehidupan mereka sendiri. Sebagai akibatnya, terjadilah kerusakan lingkungan yang semakin parah di negara miskin itu. Di banyak negara miskin, eksploitasi sumber daya alam semaksimal mungkin dikarenakan untuk menutup utang luar negerinya, misalnya hutan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan daging yang murah di amerika Serikat, beribu hektar hutan tropis di amerika latin di ubah menjadi daerah peternakan tanpa memperhatikan pencagaran tanah. Maka erosi beratpun terjadi.

5.Paham antroposentrime
Hal yang juga dapat dianggap sebagai penyebab kerusakan lingkungan akibat eksploitasi tak terkendali oleh ulah manusia adalah paham manusia sendiri tentang dirinya dalam berhadapan dengan alam.Paham antroposentrisme masih dipegang manusia. Demikian juga pemikiran dan moral lingkungan hidup tetap terpusatkan pada manusia (human centered ethic). Manusia menjadi jantung perhatian dalam pembahasan tentang lingkungan hidup. Hal yang menjadi pertimbangan utama adalah peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia di dalam alam semesta.

6.Pudarnya nilai-nilai tradisional
Contoh kasus di Indonesia: Meskipun sering dikatakan bahwa masyarakat merusak linkungan, akan tetapi kesuburan sawah-sawah dan kelestarian hutan-hutan di Nusantara selama ribuan tahun pengolahan membuktikan bahwa nenek moyang kita menguasai seni menggunakan sambil memelihara. Masyarakat Dayak membakar hutan untuk membuka lahan baru, namun demikian mereka masih menggunakan cara-cara mencegah terjadinya musibah kebakaran hutan (memperhitungkan arah angin, memilih lokasi areal untuk dibakar dan sebagainya). Bencana terjadi karena nilai-nilai tradisional itu tidak terlihat pada para transmigran asal daerah lain yang membakar sebagian hutan tanpa perhitungan yang baik, sehingga kebakaran hutan tidak bisa dikuasai lagi. Pada musim kemarau panjang tahun 1982-1983 terjadi kebakaran besar-besaran di Kalimantan Timur antara oktober 1982 dan April 1983 yang menghanguskan sekitar 3,6 hektar hutan. Ini dianggap kebakaran hutan terbesar dalam sejarah umat manusia. Majalah Tempo, 19 september 1987 melukiskan kerugian materi yang ditimbulkan api selama delapan bulan itu sebagai sungguh memilukan. Kerugian total ditaksir sekitar 122 juta m3, belum terhitung kerugian akibat menyusutnya peran ekologisnya,. Ketika hujan deras turun, Juli 1984, desa-desa sepanjang sungai Mahakam tergenang. Tak ada lagi pepohonan besar yang ”menangkap” air.

7. Keterbatasan kemampuan bumi Akibat dari semua kebijakan yang berpedoman pada kemajuan tekhnologi, ekonomi, dan produktivitas adalah terganggunya keseimbangan lingkungan hidup. Daya regenaerasi alam tidak dapat berkembang sewajarnya karena tidak mampu mengimbangi laju eksploitasi yang dilakukan oleh manusia. Demikian juga daya dukung bumi mengalami kejenuhan (ecological over stress) akibat terus menerus dikuras diluar batas kewajaran. Penggunaan sumber-sumber daya alam secara tak terkendali oleh negara-negara kaya dan adikuasa, yang mengandalkan teknologi nuklir, dan kimia, telah memberikan gambaran yang negatif terhadap masa depan manusia dan lingkungan hidup.

8. Desakan tuntutan kebutuhan hidup 
Hal lain yang menyebabkan tindakan eksploitasi terhadap lingkungan yang tak terhindarkan adalah apabila manusia dihadapkan pada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang utama, untuk memenuhinya manusia akan memilih cara yang lebih mudah untuk dilakukan. Tuntutan hidup telah mengharuskan, misalnya membuka lahan tanpa harus mengedepankan pertimbangan lingkungan.

D. Munculnya Kesadaran Lingkungan
Adanya kesadaran yang mendalam pada manusia bahwa manusia dan lingkungan berkaitan sangat erat, dan sangat bergantung pada alam. Hal ini mendorong tumbuhnya kemauan manusia untuk mengetahui lebih banyak tentang alam, hingga akhirnya memunculkan suatu disiplin ilmu yang disebut ecology, yang diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbakl balik antara manusia dan lingkungannya. Beberapa peristiwa penting kesadaran dan komitmen manusia terhadap lingkungan hidup dapat disebutkan sebagai berikut ini:

1. World Environmental Movement (1972)
Perhatian atas krisis lingkungan hidup tidak lagi hanya menjadi urusan masing-masing negara atau perorangan. melainkan sudah menjadi keprihatian masyarakat dunia secara bersama. Gerakan kesadaran ekologi secara internasional diprakarsai oleh PBB dengan mengadakan konferensi Gerakan Lingkungan Hidup Sedunia (World Environmental Movement) di Stocholm , Swedia pada 5-16 Juni 1972, yang kemudian setiap tahun diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. PP juga membentuk badan khusus yang menangani masalah lingkungan hidup yaitu United Nations Environmental Programme (UNEP). Sejak saat itu, gerakan ekologi telah melibatkan berbagai negara di dunia dan juga lembaga-lembaga non-pemerintah (LSM).

2 Konferensi Rio de Janerio (1992)
Konferensi Rio de Janerio (yang sering disebut juga KTT Bumi) dapat dianggap sebuah tonggak sejarah dalam penanganan masalah-masalah lingkungan. Ini adalah sebuah babak baru perjuangan manusia menghadapi masalah-masalah lingkungan dalam memasuki abad ke-21, yang dibangun berdasarkan kesadaran akan pentingnya pengaitan strategi-strategi penanganan masalah-masalah lingkungan ke dalam kebijak pengembangan ekonomi suatu negara, bahkan pengembangan ekonomi dunia.

KTT Bumi (Earth Summit) tentang lingkungan dan Pembangunan yang dikenal dengan nama United Nations Conference of Environmental and Development (UNCED) mengambil tema ”Think globally, act locally”, yang menekankan perlunya semangat kebersamaan untuk mengatasi berbagai masalah yang ditibulkan oleh benturan mantara upaya-upaya melaksanakan pembangunan di satu pihak dan melestarikan sumber daya alam dipihak lain. Kesepakatan yang dicapai dalam KTT tersebut tertuang dalam beberapa dokumen penting, yakni: Agenda 21, Prinsip-prinsip Kehutanan, Konvensi Perubahan Iklim, dan konvensi Keanekaragaman hayati. Denagan demikian secara politis telah diletakkan dasar bagi kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Dari serangkaian kesepakatan yang dicapai dalam KTT terdapat tiga masalah global paling mendesak dalam memasuki abad 21, yang menuntut penanganan bersama seacara serius, yakni: perubahan iklim akibat kecerobohan manusia, menghilangnya keragaman hayati, dan perlunya pembatasan jumlah penduduk serta perubahan pola konsumsi masyarakat modern. Efektifitas dari penanganan ketiga masalah pokok tersebut sedang dikaji terus menerus mmelalui kebijakan dan tindakan konkrit yang diambil kemudian di masing-masing negara.

3. Protokol Kyoto (1977)
Protokol Kyoto, yang merupakan hasil perundingan yang berjalan selama empat tahun, dan diadopsi tahun 1997, dapat dilihat sebagai tonggak lanjutan keseriusan berbagai negara untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran totalnya. Elemen-elemen utama protokol Kyoto adalah target kuantitatif dan waktu penurunan emisi gas serta mekanisme pencapaian target tersebut protokol kyoto merupakan dasar bagi negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca gabungan mereka paling sedikit 5 persen dari tingkat emisi 1990 menjelang periode 2008-2001, diperkirakan, jika pola konsumsi, gaya hidup, dan pertambahan penduduk tidak berubah, 100 tahun yang akan datang konsentrasi CO2 akan meningkat menjadi 580 ppmv atau dua kali lipat dari zaman pra industri, akibatnya maka dalam kurun waktu 100 tahun mendatang suhu rata-rata bumi akan meningkat hingga 4,5 derajat Celcius.

4. Implementasinya di Indonesia
Kesadaran ekologi di Indonesia sudah muncul pada dekade 1960-1n, mengikuti apa yang berkembang di dunia internasional dan sekaligus sebagai reaksi wajar atas pembangunan yang sedang giat dilaksanankan di dalam negeri. Kesadaran ekologi di negeri ini tidak hanya melibatkan pemerintah, melainkan juga bebagai kalangan swasta, seperti LSM-LSM bahkan lembaga-lembaga keagamaan. Dari pihak pemerintah, kesadaran ekologi terutama dikembangkan oleh Departemen Kependudukan dan Lingkungan Hidup dengan memberlakukan Undang-Undang Lingkungan Hidup (UULH).Di dalam UULH itu dapat ditemukan salah satu upaya pemerintah mengatasi masalah lingkungan hidup, yaitu melali AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan). Ketika Indonesia meratifikasi protokol Kyoto, maka secara legal protokol ini menjadi bagian sistem hukum nasional yang harus diimplementasikan dalam berbagai kebijaksanaan dan pedoman pelaksanaannya

Mengajar Dan Belajar Dalam Standar Proses Pendidikan

Mengajar Dan Belajar Dalam Standar Proses Pendidikan 
Mengajar adalah suatu perbuatan yang kompleks ( a highly complexion process). Di sebut kompleks karena di tuntut dari adanya kemampuan pprofesional, personal, dan sosio cultural secara terpadu dalam proses belajar- mengajar. Di katakan kompleks juga karena di tuntut penguasaan materi dan metode, teori dan praktik dalam interaksi siswa. Di katakan kompleks juga karena mengandung unsur-unsur seni, ilmu, teknologi, pilihan nilai, dan keterampilan dalam proses belajar- mengajar.

Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang menungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional yang ingin di capai, materi yang di ajarkan, guru dan siswa yang harus memainkan peranannya dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang di lakukan, serta sarana dan prasarana belajar-mengajar yang tersedia.

Setiap sistem lingkungan atau setiap peristiwa belajar-mengajar mempunyai profil yang unik, yang mengakibatkan tercapinya tujuan-tujuan yang berbeda. Atau, kalau di katakan secara terbalik, untuk mencapai tujuan belajar tertentu harus di ciptakan sistem lingkungan yang tertentu pula.

Tujuan belajar yang pencapaiannya di usahakan secara eksplisit dengan tindakan instruksional tertentu di namakan instruksional effect. Sedangkan tujuan – tujuan yang merupakan penggiring, yang tercapainya karena siswa menghidupi suatu sistem lingkungan belajar tertentu di namakan nurturant effect.

Proses pembelajaran itu sendiri menurut Standar Proses Pendidikan merupakan kegiatan yang tidak hanya menekankan peran guru di dalamnya, tetapi siswa harus di jadikan subjek atau prilaku dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu paradigma yang keliru tentang pembelajaran selama itu harus di ubah dan di sesuaikan dengan Standar Proses Pendidikan ( SPP ).

MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM STANDAR PROSES PENDIDIKAN
A. MENGAJAR
1. Konsep mengajar
Konsep mengajar dalam proses perkembangannya masih di anggap sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan ilmu pengetahuan. Pandangan semacam ini masih umum di gunakan di kalangan pengajar. Hasil penelitian dan pendapat para ahli sekarang lebih menyempurnakan konsep tradisional di atas.

Mengajar menurut pengertian mutakhir merupakan suatu perbuatan yang kompleks. Perbuatan mengajar yang kompleks dapat di terjemahkan sebagai penggunaan secara integratif sejumlah komponen yang terkandung dalam perbuatan mengajar untuk menyampaikan pesan pengajaran.

1. 1 Mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran
Sebagai proses menyampaikan atau menanamkan ilmu pengetahuan, maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut :

1.1.1 Proses pengajaran berpusat pada guru
Dalam kegiatan pengajaran, guru memegang peran yang sangat penting. Guru menentukan segalanya. Mau di apakan siswa? Apa yang harus di kuasai siswa? Bagaimana cara melihat keberhasilan mengajar? Semuanya tergantung guru. Oleh karena itu begitu pentingnya peran guru maka proses pembelajaran baru akan berlangsung jika ada guru.

1.1.2 Siswa sebagai objek belajar
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi ajar. Mereka di anggap sebagai organisme pasif yang belum memahami apa yang harus di pahami, sehingga melalui proses pembelajaran mereka di tuntut memahami segala sesuatu yang di berikan guru.

1.1.3 Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu
Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu, misalnya di dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehingga siswa hanya belajar jika hanya ada kelas yang telah di desain sedemikian rupa untuk tempat pembelajaran.

1.1.4 Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran
Keberhasilan suatu proses pembelajaran di ukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang di berikan di sekolah.

1.2 Mengajar sebagai proses mengatur lingkungan
Terdapat beberapa karakteristik dari konsep mengajar sebagai proses mengatur lingkungan. Antara lain :

1.2.1 Mengajar berpusat pada siswa (Student centered)
Mengajar tidak di tentukan oleh selera guru, akan tetapi sangat di tentukan oleh siswa itu sendiri. Hendak belajar apa siswa dari topik yang di pelajari, bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya guru yang menetukan tetapi juga siswa

1.2.2 Siswa sebagai subjek belajar
Siswa tidak hanya di anggap sebagai organisme pasif yang hanya sebagai penerima informasi, akan tetapi di pandang sebagai organisme yang aktif yang memiliki potensi untuk berkembang.

1.2.3 Proses pembelajaran berlangsung di mana saja
Siswa dapat menggnakan berbagai tempat untuk belajar. Karena tempat juga sangat menunjang proses pembelajaran. Intinya pembelajaran bukan hanya di laksanakan di dalam kelas tetapi di laksanakan sesuai dengan keadaan.

1.2.4 Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan
Tujuan pembelajaran bukan hanya agar siswa menguasai materi pelajaran, tetapi lebih luas dari pada itu bahwa tujuan belajar adalah agar siswa merubah pola perilakunya menuju arah yang lebih baik.

2. Pengertian mengajar
Menurut S Nasution (2000); Mengajar adalah suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadilah proses belajar. Di katakan juga mengajar adalah menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar mengajar bagi siswa. 

3. Perlunya perubahan paradigma tentang mengajar
Apakah mengajar sebagai proses menanamkan ilmu pengetahuan masih berlaku dalam abad teknologi sekarang ini ? Bagaimana seandainya pengajar tidak berhasil menanamkan pengetahuan kepada orang yang di ajarnya juga di anggap orang tersebut telah mengajar? Lalu, kalau begitu apa kriteria keberhasilan mengajar ? Apakah mengajar hanya di tentukan oleh seberapa besar pengetahuan yang telah di sampaikan ?

Pandangan mengajar yang hanya sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan itu di anggap sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. Hal itu dapat kita lihat dari tiga alasan penting. Alasan inilah yag kemudian menuntut perlu terjadinya perubahan paradigma mengajar, dari mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran kepada mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.

Pertama, siswa bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini, tetapi mereka adalah organisme yang sedang berkembang. Guru tidak lagi memposisikan diri sebagai sumber belajar yang bertugas menyampaikan informasi, tetapi harus berperan sebagai pengelola sumber belajar untuk di manfaatkan siswa itu sendiri.

Kedua, Ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecenderungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Belajar tidak hanya sekadar menghafal informasi, menghafal rumus-rumus, tetapi bagaimana menggunakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berfikir.

Ketiga, penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru tentang konsep perubahan tingkah laku manusia. Manusia pada hakikatnya memiliki potensi dan dengan dasar potensi itulah manusia bisa mengembangkan dirinya. Dengan kata lain bahwa siswa bukan lagi di jadikan objek pasif tetapi siswa harus aktif dalam melakukan kegiatan belajar.

Ketiga hal di atas menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajar jangan di artikan sebagai proses menyampaikan materi pembelajaran, tetapi lebih di pandang sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang di milikinya.

4. Makna mengajar dalam Standar Proses Pendidikan
Mengajar dalam konteks standar proses pendidikan tidak hanya sekadar menyampaikan materi ajaran, akan tetapi juga di maknai sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar. Makna lain yang demikian sering di istilahkan dalam pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam proses belajar siswa harus di jadikan pusat dari kegiatan. Hal ini di maksudkan untuk membentuk watak, peradaban dan peningkatan mutu kehidupan peserta didik. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang di harapkan. Pemberdayaan di arahkan untuk mendorong pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya setiap individu mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar.

Dalam imlementasinya, walaupun istilah yang di gunakan “pembelajaran”, tidak berarti guru menghilangkan perannya sebagai pengajar, sebab secara konseptual pada dasarnya mengajar itu juga bermakna membelajarkan siswa. Mengajar – belajar adalah dua istilah yang memiliki makna tidak dapat di pisahkan. Mengajar adalah suatu aktifitas yang dapat membuat siswa belajar. Keterkaitan antara belajar dan mengajar menurut Jhon dewey ( Wina sanjaya , 2009) adalah “teaching is to learning as selling and buying”. 

Dalam konteks pembelajaran, sama sekali tidak berarti memperbesar peran siswa di satu pihak dan mengecilkan peran guru di pihak lain. Dalam istilah pembelajaran, guru tetap harus berperan secara optimal, demikian halnya dengan siswa. Perbedaan dominasi dan aktifitas di atas, hanya menunjukan kepada perbedaan tugas-tugas atau perlakuan guru dan siswa terhadap materi dan proses pembelajaran. Sebagai contoh, ketika guru menentukan proses belajar dengan menggunakan metode buzz group (diskusi kelompok kecil), yang lebih menekankan kepada aktifitas siswa maka tidak berarti peran guru mejadi kecil. Ia akan tetap di tuntut berperan secara optimal agar proses pembelajaran dengan metode itu bisa berjalan. Demikian juga ketika guru menggunakan pendekatan ekspositori dalam pembelajaran, tidak berarti peran siswa menjadi kecil. Mereka harus tetap berperan secara optimal dalam rangka menguasai dan memahami materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru.

Dari uraian di atas, maka tampak jelas bahwa istilah pembelajaran itu menunjukan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru. Di sini jelas, proses pembelajaran yang di lakukan siswa tidak mungkin terjadi tanpa perlakuan guru. Yang membedakannya hanya terletak pada peranannya saja.

Bruce well (1980) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran semacam ini. Antara lain : 
  • Proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa 
  • Berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus di pelajari 
  • Dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial 

Dari berbagai penjelasan di atas, maka makna pembelajaran dalam konteks standar proses pendidikan di tunjukkan oleh beberapa ciri yang di jelaskan sebagai berikut : 
  • Pembelajaran adalah proses berfikir 
  • Proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak 
  • Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat 
B. BELAJAR
1.Makna Belajar
Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan di awali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat di uraikan sebagai berikut : 
  • Cronbach memberikan definisi : Learning is shown by a change in behavior as a result of experience 
  • Harold spears memberikan batasan : Learning is to observe , to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. 
  • Geoch mengatakan : Learning is a change in performance as a result of practice. 
Dari ketiga definisi di atas maka dapat di terangkan bahwa belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subjek melakukan sesuatu, jadi tidak terkesan verbalistik.

Dapat Juga di lihat dari arti luas bahwa belajar adalah kegiatan psiko – fisik menuju kepada perkembangan yang seutuhnya. Dalam arti sempit dapat di katakan bahwa belajar adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagaian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. 

Namun secara rinci belajar dapat di katakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. 

2. Faktor- faktor yang mempengaruhi belajar
2.1. Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat mempengaruhi proses dan hasil belajar, tidak usah dipertanyakan kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu maka cenderung tidak dapat diharapkan bahwa dia akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut. Sebaliknya kalau seseorang belajar dengan penuh minat, maka diharapkan bahwa hasilnya akan lebih baik. 

2.2. Kecerdasan
Telah menjadi hal yang cukup populer bahwa kecerdasan besar peranannya dalam berhasil dan tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti sesuatu program pendidikan. Orang yang lebih cerdas pada umumnya akan lebih mampu belajar dari pada orang yang kurang cerdas di dalam lingkungan. 

2.3. Bakat
Bakat adalah suatu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Hal ini dekat dengan persoalan intelligensia yang merupakan struktur mental yang melahirkan “kemampuan” untuk memahami sesuatu. 

Hampir tidak ada orang yang membantah, bahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu. Akan tetapi banyak sekali hal-hal yang menghalangi untuk terciptanya kondisi yang sangat diinginkan oleh setiap orang. Dalam lingkup perguruan tinggi misalnya, tidak selalu perguruan tinggi tempat seorang belajar menjanjikan studi yang benar-benar sesuai dengan bakat orang tersebut.

2.4. Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu atau kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat.. Jadi motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar.

2.5. Kemampuan-kemampuan Kognitif
Kemampuan-kemampuan kognitif yang utama adalah persepsi, ingatan, dan berfikir. Kemampuan seseorang dalam melakukan persepsi, dalam mengingat, dan dalam berfikir besar pengaruhnya terhadap hasil belajar.

3. Prinsip- prinsip belajar
Belajar itu sangat kompleks. Hal itu dapat di ketahui dari prinsip-prinsip belajar yang akan di paparkan sebagai berikut : 
  • Agar seseorang benar-benar belajar maka ia harus memiliki suatu tujuan 
  • Tujuan itu harus timbul dari / atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena paksaan orang lain 
  • Orang itu harus bersedia mengalami bermacam- macam kesukaran dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya 
  • Belajar itu harus terbukti dari perubahan perilakunya 
  • Selain tujuan pokok yang hendak di capai, di perolehnya pula hasil-hasil sampingan. Misalnya ia tidak hanya bertambah terampil membuat soal-soal ilmu pengetahuan alam tetapi memiliki minat yang lebih untuk bidang studi itu. 
  • Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat 
  • Seseorang belajar secara keseluruhan 
  • Dalam belajar seseorang memerlukan bimbingan dan bantuan dari orang lain 
  • Untuk belajar di perlukan “Insight” 
  • Di samping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang juga ingin mencapai tujuan lain 
  • Adanya kemauan dan hasrat. 
4. Arti penting belajar
4.1. Arti penting belajar bagi perkembangan manusia
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Di sebabkan oleh kemampuan berubah karena belajarlah maka manusia dapat berkembang lebih jauh dari pada makhluk-makhluk lainnya sehingga ia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Boleh jadi, karena kemampuan berkembang melalui belajar itu pula manusia secara bebas dapat mengeksploitasi , memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting bagi hidupnya.

Banyak sekali bentuk-bentuk perkembangan yang terdapat dalam diri manusia yang bergantung pada belajar, misalnya perkembangan kecakapan bicara.

4.2. Arti penting belajar bagi kehidupan manusia
Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan sekelompok manusia di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan tersebut, kenyataan tragis bisa pula terjadi karena belajar.

Meskipun ada dampak negatif dari belajar namun kegiatan belajar memiliki arti penting, bahwa belajar berfungsi sebagai alat mempertahankan kehidupan manusia. Bahkan di dalam Al-qur’an juga berkali –kali di tekankan agar manusia mau belajar, karena dengan belajar maka manusia bisa mengerti arti kebesaran Allah SWT.

5. Teori-teori belajar
5.1 Teori Behaviorisme 
Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :

5.1.1 Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. 
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum - hukum belajar, diantaranya: 
  • Law of Readiness; Hubungan antara stimulus dan respon akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. 
  • Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering di pakai dan akan semakin berkurang apabila tidak di gunakan. 
  • Law of effect; Hukum ini menunjuk pada kuat atau lemahnya hubungan stimulus respon tergantung kepada akibat yang di timbulkannya. 
5.1.2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya : 
  • Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara stimulan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. 
  • Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun. 
5.1.3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya : 
  • Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. 
  • Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. 
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

5.2 Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Pendekatan teori kognitif lebih menekankan pada arti penting proses internal. Dikemukakan oleh Piaget bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

5.3 Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

5.4 Teori Belajar Gestalt
Teori ini berbeda dengan teori-teori terdahulu, menurut Teori gestalt belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Menurut teori ini bahwa belajar bukanlah mengulang-ulang yang harus di pelajari, tetapi mengerti/ mendapatkan insight. 
 

Kumpulan Artikel News Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger