Pengertian Dan Lingkup Pengendalian Hayati

Pengertian Dan Lingkup Pengendalian Hayati 
Sejak istilah “pengendalian hayati” pertama kali digunakan oleh Harry S. Smith pada 1919, banyak pengertian diberikan terhadap istilah tersebut. Smith mula-mula memberikan pengertian kepada pengendalian hayati sebagai penggunaan musuh alami yang diintroduksi maupun yang dimanipulasi dari musuh alami setempat untuk mengendalikan serangga hama. Dari sudut pandang praktis, pengendalian hayati dapat dibedakan menjadi: 
1) Introduksi musuh alami yang tidak terdapat di daerah yang terinfestasi hama 
2) Peningkatan secara buatan jumlah individu musuh alami yang telah ada di wilayah yang terinfestasi hama dengan melakukan manipulasi sehingga musuh alami yang ada dapat menimbulkan mortalitas yang lebih tinggi terhadap hama. 

Pengertian pengendalian alami yang diberikan oleh Smith tersebut kemudian diperluas oleh P. de Bach pada 1964 dengan membedakan pengendalian alami dan pengendalian hayati: 
1) Pengendalian alami adalah upaya untuk menjaga populasi organisme yang berfluktuasi dalam batas atas dan batas bawah selama suatu jangka waktu tertentu melalui pengaruh faktor lingkungan abiotik maupun biotik 
2) Pengendalian hayati adalah kemampuan predator, parasitoid, maupun patogen dalam menjaga padat populasi organisme lain lebih rendah daripada padat populasi dalam keadaan tanpa kehadiran predator, parasitoid, atau patogen. 

De Bach membedakan pengendalian alami dari pengendalian hayati, tetapi harus dicermati bahwa: 
1) Tidak jelas perbedaan antara pengaruh faktor lingkungan biotik dalam pengendalian alami dengan pengaruh predator, parasitoid, atau parasit dalam pengendalian hayati 
2) Pengendalian alami menurut de Bach juga mencakup pengaruh faktor lingkungan abiotik 

Pada 1962, Bosch dan kawan-kawan memodifikasi pengertian pengendalian alami dan pengendalian hayati yang dikemukakan de Bach menjadi: 
1) Pengendalian hayati alami (natural biological control) sebagai pengendalian yang terjadi tanpa campur tangan manusia. 
2) Pengendalian hayati terapan (applied biological control) sebagai manipulasi musuh alami oleh manusia untuk mengendalikan hama.

Bosch dan kawan-kawan membedakan tiga kategori pengendalian hayati terapan sebagai berikut: 
1) Pengendalian hayati klasik melalui introduksi musuh alami untuk mengendalikan hama 
2) Augmentasi musuh alami melalui upaya untuk meningkatkan populasi atau pengaruh menguntungkan yang diberikan oleh musuh alami 
3) Konservasi musuh alami melalui upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk melindungi dan menjaga populasi musuh alami. 

Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian pengendalian hayati diperluas menjadi mencakup faktor-faktor seperti ketahanan tanaman, autosterilisasi, manipulasi genetik, pengendalian budidaya, dan bahkan penggunaan pestisida generasi ketiga semacam zat pengatur tumbuh serangga. Namun dalam perkembangan lebih lanjut, pengertian luas tersebut kembali ditinggalkan dan yang digunakan adalah pengertian menurut Bosch dan kawan-kawan dengan perubahan istilah pengendalian hayati alami menjadi pengendalian alami (natural control) dan pengendalian hayati terapan menjadi pengendalian hayati (biological control). Weeden dan kawan-kawan dari Universitas Cornell, AS, misalnya, memberikan pengendalian hayati sebagai penggunaan mahluk hidup semacam predator, parasitoid, dan patogen dengan melibatkan campur tangan manusia untuk mengendalikan hama, penyakit, dan gulma. Universitas Negara Bagian Michigan, AS, memberikan pengertian yang kurang lebih sama, yaitu upaya yang dilakukan manusia untuk memanipulasi musuh alami yang terdiri atas predator, parasitoid, patogen, dan pesaing hama (pest competitor) atau sumberdayanya untuk mendukung pengendalian hama dalam arti luas 

Pada 1987, Komisi Ilmu Pengetahuan, Keteknikan, dan Kebijakan Publik (the Committee on Science, Engineering and Public Policy, COSEPUP) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan AS, Lembaga Keteknikan AS, dan Lembaga Kedokteran AS menganjurkan penggunaan definisi luas pengendalian hayati sebagai penggunaan organisme alami atau hasil rekayasa, gen, atau hasil rekayasa gen untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh organisme hama dan dampak positif yang ditimbulkan oleh organisme bermanfaat seperti tanaman, pohon hutan, ternak, serta serangga dan organisme bermanfaat lainnya. Definisi yang diperluas ini ditolak oleh Divisi Pengendalian Hayati UCB karena tidak dapat memberikan perbedaan yang jelas dengan metode pengendalian hama lainnya dalam hal ciri utama pengendalian yang bersifat self-sustaining tanpa harus diberikan masukan secara terus menerus dan tergantung padat populasi dalam mekanismenya mengendalikan hama. Divisi Pengendalian Hayati UCB mempertahankan pengertian pengendalian hayati sebagaimana diberikan oleh DeBach sebagai kinerja parasitoid, predator, atau patogen dalam menekan padat populasi organisme lain pada taraf yang lebih rendah daripada tanpa kehadiran musuh alami tersebut. 

Pengertian pengendalian hayati yang digunakan dewasa ini dan mudah diingat adalah yang diberikan oleh Midwest Institut for Biological Control, AS, yang mendefinisikan pengendalian hayati sebagai tiga kelompok yang masing-masing terdiri atas tiga unsur (three sets of three). Ketiga kelompok yang dimaksudkan mencakup “siapa” (who), yaitu musuh alami yang digunakan sebagai agen pengendali, “apa” (what), yaitu tujuan pengendalian hayati, dan “bagaimana” (how), yaitu cara musuh alami digunakan untuk mencapai tujuan pengendalian hayati. Kelompok “siapa” terdiri atas unsur-unsur predator, parasitoid, dan patogen, kelompok “apa“ terdiri atas unsur-unsur reduksi, prevensi, dan penundaan, serta kelompok “bagaimana” terdiri atas unsur-unsur importasi, augmentasi, dan konservasi. Sebagaimana akan diuraikan pada bab-bab selanjutnya, pengertian three sets of three tersebut tentu saja bukan merupakan harga mati, melainkan hanya untuk mempermudah mengingat. Kelompok “apa” ternyata tidak hanya terdiri atas unsur-unsur predator, parasitoid, dan patogen, tetapi juga pemakan gulma (weed feeders) dalam pengendalian hayati gulma dan antagonis dalam pengendalian hayati penyakit tumbuhan.

Lingkup Materi Kuliah Pengendalian Hayati 
Sebelum mempelajari pengendalian hayati secara rinci sebagaimana akan diuraikan pada bab-bab selanjutnya, terlebih dahulu perlu diperoleh gambaran sekilas (overview) mengenai pengendalian hayati. Gambaran sekilas tersebut diperlukan sebagai panduan untuk mengaitkan satu bab dengan bab lain sehingga dengan mempelajari secara rinci bab demi bab, gambaran utuh pengendalian hayati tidak menjadi kabur. 

Pengendalian hayati yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya pada dasarnya merupakan materi yang disajikan untuk memberikan kompetensi dasar atau pengantar mengenai pengendalian hayati serangga hama, patogen, dan gulma pertanian dalam konteks sebagai salah satu komponen dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Untuk memudahkan pemahaman dan mempertahankan keterkaitan antar topik, materi akan disajikan dalam bab-bab yang dikelompokkan menjadi bagian-bagian: 
1) Pendahuluan dan dasar-dasar ekologis, yang berisi bab-bab yang akan menguraikan sejarah dan pengertian pengendalian hayati, dasar-dasar dinamika populasi, dinamika interaksi predator-mangsa dan interaksi parasitoid-inang, dan dinamika interaksi patogen-inang. 
2) Pengenalan Agen Pengendali Hayati yang berisi bab-bab yang akan menguraikan pengenalan predator, pengenalan parasitoid, pengenalan patogen dan antagonis, serta pengenalan pemakan gulma. 
3) Pengembangan dan penerapan pengendalian hayati yang berisi bab-bab yang akan menguraikan prosedur pengembangan pengendalian hayati klasik, prosedur pengembangan pestisida hayati, prosedur konservasi musuh alami, serta penerapan dan evaluasi pengendalian hayati. 

Sebagaimana telah diuraikan pada bagian pengertian dan lingkup pengendalian hayati, pengendalian hayati merupakan upaya manusia dalam memanipulasi musuh alami untuk mengendalikan hama dalam arti luas. Ini berarti bahwa pengendalian hayati merupakan tindakan manipulasi ekosistem dalam kaitan dengan interaksi antara populasi musuh alami dengan populasi hama yang menjadi sasarannya. Interaksi tersebut perlu dipahami sebagai dasar memahami cara kerja pengendalian hayati secara utuh. 

Musuh alami mencakup seluruh mahluk hidup yang memanfaatkan mahluk hidup lain untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Pengendalian alami berkaitan dengan peranan musuh alami tersebut dalam menekan populasi hama dalam arti luas sebagaimana adanya tanpa campur tangan manusia. Musuh alami yang sama yang secara sengaja melalui importasi, augmentasi, dan konservasi dimanfaatkan untuk mengendalikan hama disebut agen pengendali hayati (biological control agent). Dalam buku-buku teks berbahasa Indonesia mengenai pengendalian hayati, istilah biological control agent diindonesiakan menjadi “agensia pengendali hayati”. Namun pengindonesiaan istilah Inggris “agent” menjadi “agensia” tidak sesuai dengan kaidah pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia (“president” diindonesiakan menjadi “presiden” dan bukan “presidensia”, “antagonist” menjadi “antagonis” dan bukan “antagonisia”). Istilah “agensi” juga tidak tepat karena dalam bahasa Inggris kata “agency” mempunyai makna yang berbeda dengan kata “agent” sebagaimana digunakan dalam istilah biological control agents. Oleh karena itu, istilah yang selanjutnya akan digunakan untuk mengacu kepada musuh alami yang digunakan secara sengaja untuk mengendalikan hama dalam arti luas adalah agen pengendali hayati. 

Sebagaimana telah diuraikan dalam sejarah pengendalian hayati, pengendalian hayati pertama-tama digunakan terhadap binatang hama. Dalam pengendalian binatang hama, agen pengendali yang lazim digunakan terdiri atas predator, parasitoid, dan patogen sehingga komponen “apa” dalam pengertian pengendalian hayati yang diberikan oleh Midwest Institut for Biological Control hanya terdiri atas tiga unsur. Kini pengendalian hayati telah dilakukan terhadap binatang hama, penyakit tumbuhan, dan gulma sehingga tiga unsur tersebut harus diperluas dengan antagonis dan pemakan gulma (weed feeder). Dengan pengendalian hayati yang kini mencakup pengendalian binatang hama, penyakit tumbuhan, dan gulma, agen pengendali hayati terdiri atas unsur-unsur: 
1) Predator, yaitu mahluk hidup yang memakan mahluk hidup lain yang lebih kecil atau lebih lemah dari dirinya. Mahluk hidup lain yang dimakan oleh predator disebut mangsa (prey) dan proses pemakanannya disebut predasi. 
2) Parasitoid, yaitu mahluk hidup parasitik yang hidup di dalam atau di permukaan tubuh dan pada akhirnya menyebabkan kematian mahluk lain yang ditumpanginya. Mahluk lain yang ditumpangi parasitoid disebut inang (host) dan proses interaksinya disebut parasitasi. 
3) Patogen, yaitu mahluk hidup parasitik mikroskopik yang hidup di dalam atau di permukaan tubuh dan pada akhirnya menyebabkan kematian mahluk hidup lain yang diserangnya. Mahluk lain yang diserang patogen disebut inang (host).
4) Antagonis, yaitu mahluk hidup mikroskopik yang dapat menimbulkan pengaruh tidak menguntungkan bagi mahluk hidup lain melalui kerusakan fisik, parasitasi, sekresi antibiotik, dan bentuk-bentuk penghambatan lain seperti persaingan untuk memperoleh hara dan ruang tumbuh. 
5) Pemakan gulma, yaitu mahluk hidup pemakan gulma tetapi tidak mamakan tumbuhan lain yang bermanfaat. 

Dalam buku-buku teks pengendalian hayati, sering juga digunakan istilah “parasit” untuk mengacu kepada parasitoid. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa penggunaan parasit hanya untuk mengacu kepada parasitoid dapat menimbulkan kebingungan karena ada parasit yang merupakan patogen atau bahkan antagonis. Istilah “patogen” dalam pengendalian hayati mencakup patogen terhadap binatang hama, terhadap patogen penyebab penyakit tumbuhan, dan terhadap gulma. 

Mengingat pengendalian hayati dilakukan dengan memanfaatkan mahluk hidup lain untuk mengendalikan hama dalam arti luas maka banyak kalangan menganggap pengendalian hayati sebagai metode pengendalian yang sekali dilakukan maka akan berlangsung terus dengan sendirinya sehingga biayanya murah. Dalam kenyataannya, pengertian murah dalam pengendalian hayati bersifat sangat relatif dan kontekstual. 

Meskipun demikian, pengendalian hayati memang memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan metode pengendalian lainnya. Kelebihan tersebut adalah sebagai berikut: 
1) Dalam skala aplikasi oleh petani, pengendalian hayati (khususnya pengendalian hayati klasik) merupakan metode pengendalian yang relatif murah. Namun pengembangan pengendalian hayati pada umumnya klasik memerlukan biaya dan sumberdaya lain dalam jumlah yang sangat besar. 
2) Pengendalian hayati merupakan metode pengendalian yang aman bagi lingkungan dan bagi kesehatan manusia. Pengendalian hayati aman bagi lingkungan karena tidak berbahaya bagi mahluk hidup bukan sasaran sehingga tidak menimbulkan resurgensi hama maupun ledakan hama kedua. Pengendalian hayati aman bagi kesehatan manusia karena mahluk hidup yang digunakan bukan merupakan mahluk hidup yang berbahaya bagi kesehatan manusia. 
3) Pengendalian hayati tidak mendorong terjadinya hama, patogen penyakit tumbuhan, maupun gulma yang resisten seperti halnya yang dapat terjadi dalam pengendalian kimiawi. 

Selain kelebihan tersebut, pengendalian hayati juga mempunyai keterbatasan. Keterbatasan yang penting adalah sebagai berikut: 
1) Pengendalian hayati tidak mungkin dilakukan untuk mengeradikasi hama sasarannya sebab kelangsungan hidup agen pengendali hayati, khususnya pengendalian hayati klasik, tergantung pada ketersediaan hama sasarannya sebagai bahan makanan bagi kelangsungan hidupnya 
2) Efektivitas pengendalian hayati umumnya memerlukan waktu yang lama dan bersifat relatif dalam kaitan dengan ambang ekonomi yang harus ditetapkan terlebih dahulu. 
3) Pengembangan pengendalian hayati merupakan pekerjaan yang memerlukan dukungan sumberdaya yang besar dalam bentuk tenaga ahli, fasilitas, dana, dan waktu tanpa ada jaminan keberhasilan. 

Pengendalian hayati modern merupakan salah satu metode pengendalian yang masih reltif baru. Sebagai metode pengendalian yang relatif masih baru, penerapannya seringkali menghadapi banyak kendala, baik teknis maupun non-teknis. Namun sebagai metode yang relatif masih baru, pengendalian hayati merupakan metode pengendalian yang banyak dibicarakan dan banyak tersedia sumberdayanya di internet. Hampir seluruh universitas di AS menyediakan situs khusus mengenai pengendalian hayati, selain juga situs yang disediakan oleh organisasi pengendalian hayati. Situs-situs internet tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi tambahan untuk dapat lebih memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan pengendalian hayati. 

Pengendalian hayati: Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
Filosofi pengendalian alami dan hayati
Pada awalnya, manusia memahami bahwa setiap jenis organisme akan mempunyai musuh alami yang secara alamiah akan mengendalikan populasi organisme tersebut. Fakta ini kemudian diistilahkan oleh manusia, pengendalian alami (Natural Control). Bagaimana dengan pengendalian hayati? Samakah artinya?

Pengendalian hayati (Biological Control) sifatnya lebih dekat dengan kepentingan manusia. Artinya, pengendalian organisme yang mengganggu manusia dengan musuh alaminya disebut pengendalian hayati. Di dalam definisi ini terkandung dua kata penting, yaitu hama dan manusia. Artinya, jika organisme tersebut tidak “mengganggu” atau “merugikan” manusia, maka setiap musuh alami yang menyerang dan makan padanya tidak disebut sebagai agensia pengendali hayati, tetapi agensia pengendali alami. Di dalam pengendalian hayati juga terjadi campur tangan manusia, meliputi manipulasi jenis, keragaman, dan kemelimpahan musuh alami yang cocok.

Sejarah pengendalian hayati
Sejarah pengendalian hayati hampir sama tuanya dengan upaya awal manusia untuk bercocok tanam. Misalnya, pada tahun 300-an M tercatat bangsa Cina sudah menggunakan semut rangrang (Oecophylla smaragdina) untuk melindungi tanaman jeruk Mandarin dari hama. Di dunia Barat, kesuksesan praktek pengendalian hayati dicapai pada akhir abad ke-19, yaitu dengan kesuksesan kumbang Rodolia cardinalis menekan perkembangan populasi hama kutu kapas, Icerya purchasi.

Selanjutnya, semenjak awal abad ke-20, upaya pengendalian hayati sudah mulai memperhatikan sisi ekologis dan ekonomis dari agroekosistem. Pasalnya, upaya pemanfaatan musuh alami tidak selalu berhasil. Misalnya, penggunaan pestisida ditengarai menurunkan populasi musuh alami, sehingga kekuatan penekanan pada organisme pengganggu menjadi berkurang. Penelitian terkini juga mengungkapkan kompleksitas hubungan antar organisme, termasuk kompetisi antar jenis predator, yang dapat mempengaruhi keberhasilan penekanan populasi organisme pengganggu oleh musuh alami.

Rodolia cardinalis, pemangsa kutu Icerya purchasi

Bagaimana memanfaatkan musuh alami untuk mengendalikan organisme pengganggu?

Pada aras teknis, muncul sebuah pertanyaan: Bagaimana memanfaatkan musuh alami secara efektif?

Pemanfaatan organisme musuh alami dapat dilakukan dengan teknik pemasukan (importasi) dari tempat lain (disebut pula introduksi), konservasi (menjaga potensi musuh alami di satu wilayah), dan augmentasi (penambahan jumlah individu musuh alami yang sudah ada di satu wilayah). Teknik augmentasi dapat berupa inokulatif (menambahkan sejumlah musuh alami), inundasi (menambahkan musuh alami dalam jumlah sangat banyak untuk memperkuat tekanan terhadap organisme pengganggu), atau suplemen, jika musuh alami benar-benar sangat rendah populasinya.

Untung-rugi pengendalian hayati
Definisi pengendalian hayati adalah pemanfaatan jenis musuh alami tertentu untuk mengendalikan jenis organisme pengganggu tertentu. Jenis musuh alami yang dipilih tersebut bisa berupa pemangsa (predator), parasitoid, maupun patogen yang menyerang organisme pengganggu. Beberapa ahli juga memasukkan pemanfaatan “pestisida” yang tidak berbahaya bagi organisme berguna sampai penggunaan musuh alami, termasuk patogen yang sering diformulasikan sebagai pestisida (hayati).

Pengendalian hayati dianggap oleh banyak kalangan sebagai salah satu komponen pengelolaan organisme pengganggu yang aman dan efektif. Namun benarkah demikian?

Seperti disebutkan di atas, bahwa organisme musuh alami juga mempunyai sifat bioekologi yang cukup rumit. Misalnya, kecenderungan organisme karnivora untuk memangsa organisme karnivora yang lain, dibandingkan dengan memangsa organisme herbivora, atau sifat polifaga dari organisme musuh alami, atau bahkan kanibalisme. Sifat-sifat ini dalam kondisi tertentu akan menurunkan tingkat kemempanannya selaku organisme pengendali hayati.

Penelitian penulis pada hubungan antar jenis afidofaga (pemakan kutu afid), yaitu kumbang koksi dan lalat syrphid, menjelaskan bahwa kedua jenis afidofaga ini saling berkompetisi dan saling memangsa (diistilahkan dengan Intraguild Predation atau pemangsaan di dalam satu guild). Artinya, jika di dalam agroekosistem yang kita kelola terdapat sekian banyak jenis organisme musuh alami, tidak secara otomatis akan menjamin keberlangsungan pengendalian hayati karena masing-masing jenis bisa jadi saling berkompetisi atau memangsa, dan tidak berperan sebagai pemangsa pada organisme pengganggu yang seharusnya dilakukannya.

Jika teknik introduksi digunakan untuk mengendalikan jenis organisme pengganggu, terutama jenis baru yang belum mempunyai kompleks musuh alami, maka harus didahului dengan kajian yang sangat teliti untuk meminimalkan potensi kerusakan ekosistem oleh spesies invasif.

Bagaimana memutuskan untuk menggunakan musuh alami?
Sebenarnya, jika ekosistem pertanian cukup baik, maka kemungkinan untuk memanfaatkan musuh alami cukup besar. Artinya, ekosistem yang tidak “dipadati” oleh bahan-bahan kimia-sintetik semacam pestisida dan pupuk memberikan lingkungan yang “nyaman” bagi musuh alami untuk berkembang biak dan mencari pakan. Di dalam hal ini, dalam kondisi populasi organisme pengganggu tidak cukup mengkuatirkan, maka menyerahkan nasib mereka pada musuh alami adalah tindakan yang paling masuk akal.

Namun, bagaimana jika populasi organisme pengganggu tiba-tiba meledak? Apakah musuh alami bermanfaat? Dalam kondisi yang semacam itu, musuh alami memang dianggap tidak efektif lagi. Jadi, upaya lain harus dilakukan untuk menurunkan populasi organisme pengganggu.

Bagaimana dengan upaya augmentasi inundasi? Cukupkah untuk melawan populasi organisme pengganggu yang menggila? Cara inipun dipandang tidak cukup kuat, karena cara ini dilakukan hanya jika proses penekanan oleh musuh alami sudah berjalan, namun belum cukup cepat. Nah, fungsi augmentasi adalah menambah daya tekan musuh alami terhadap organisme. Namun, jika sudah terlanjur terjadi ledakan, maka musuh alami tidak akan mampu berperan banyak.

Mempersiapkan musuh alami
Pada upaya konservasi, populasi musuh alami dapat dipertahankan dengan cara menanam tumbuhan atau tanaman yang menghasilkan pakan alternatif (nektar dan serbuk sari) dan mengurangi penggunaan bahan-bahan yang dapat meracun dan membunuh musuh alami.

Pada upaya augmentasi, pembiakan massal serangga adalah upaya yang banyak dilakukan. Perlu dicatat, bahwa pembiakan massal adalah sebuah upaya yang cukup sulit, mahal, dan membutuhkan waktu cukup lama. Oleh karena itu, pengendalian hayati kadang-kadang dianggap mahal di awal, meskipun murah di akhir proses, terutama jika proses penekanan organisme pengganggu oleh musuh alami berjalan dengan efektif.

Parasitoid telur, tawon Trichogramma sp. (sumber: http://ampest.typepad.com)

Larva Chrysoperla carnea (foto: Erick Steinert, 2004)

Evaluasi kemapanan dan potensi dampak negatif musuh alami

Salah satu kelemahan dalam bidang pelaksanaan pengendalian hayati adalah evaluasi terhadap (1) kemapanan atau adaptasi musuh alami, dan (2) penilaian dampak negatif musuh alami. Evaluasi pertama dapat dilakukan di lapangan dalam bentuk survei terhadap keberadaan sejak pertama kali dilepaskan sampai dengan waktu tertentu, misalnya setahun atau dua tahun. Evaluasi kedua dapat dilakukan baik di lapangan atau di laboratorium, dan meliputi kajian sifat hubungan jenis musuh alami yang dilepaskan dengan jenis musuh alami yang lain yang ada di lapangan, terutama jenis-jenis lokal. Penelitian sederhana di laboratorium cukup menarik dilakukan, misalnya dengan menggunakan uji predasi atau IGP.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Kumpulan Artikel News Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger