Sejarah Singkat Kehidupan Koperasi Indonesia

Sejarah Singkat Kehidupan Koperasi Indonesia
Perkembangan koperasi di Indonesia berkembang pertama di gerakkan oleh organisasi sosial dan politik. Lalu digerakkan atau dibantu oleh pemerintah Hindia Belanda maupun Republik Indonesia. Dan setelah itu merupakan inisiatif seorang atau kelompok masyarakat dan dunia usaha dari bawah, yang bisa juga atas dorongan lembaga swadaya masyarakat yang nonpolitis sebagai bagian dari masyarakat sipil. Gerakan koperasi tenetu harus mampu menyampaikan informasi secara efektif kepada masyarakat. Misal, penyampaian informasi perlu dilakukan dua arah, sehingga informasi yang diperoleh masyarakat bisa lebih kaya dan memberikan manfaat nyata. Tentu harus ada komitmen yang kuat dari seluruh stakeholder gerakan koperasi, terutama para pengurus, pengawas, dan anggota koperasi itu sendiri. Sedangkan pemerintah, sebagai fasilitator diantaranya bertugas mendorong produktivitas usaha koperasi terhadap sumber-sumber daya produktif. 

Perkembangan koperasi di Indonesia telah banyak mengalami berbagai permasalahan dan tantangan. Menurut sumber bacaan, perkembangan koperasi bersumber dari tiga institusi dan jalur. Pertama, koperasi digerakkan oleh organisasi sosial dan politik. Kedua, koperasi berkembang dengan digerakkan oleh pemerintah dan ketiga, koperasi berkembang dengan digerakkan oleh inisiati seseorang atau sekelompok orang.

Perkembangan ini dapat dikategorikan berdasarkan masa pemerintahan di Indonesia, mulai dari orde lama, orde baru, dan reformasi hingga saat ini. Sebelum masa kemerdekaan, tepatnya ketika zaman pendudukan Jepang, koperasi dijadikan lembaga eksploitasi terhadap rakyat untuk pengadaan pangan dan bahan baku industri dalam rangka pembangunan ekonomi. Setelah kemerdekaan campur tangan pemerintah lebih melunak, mereka menempatkan koperasi dalam kerangka ideologi sosialis. 

Pada masa pemerintahan orde baru, terjadi proses metamorfosis peranan pemerintah dalam pengembangan koperasi. Bebrapa perubahan yang ada yaitu pemerintah menjadikan koperasi sebagai alat kebijaksanaan khususnya untuk mendukung program pembangunan pertanian. Terjadi reformasi organisasi koperasi melalui UU dan peraturan lain yang dibuat oleh pemerintah. Pada masa ini pemerintah melakukan pemberdayaan kapasitas kelembagaan koperasi, menciptakan proyek-proyek pambangunan koperasi, melakukan modernisasi organisasi koperasi dan juga menyeidakan faktor-faktor produksi.

Pada masa orde baru koperasi menjadi “ alat dan bagian internal pembangunan dan perekonomian nasional “ yang dilimpahi fasilitas oleh pemerintahan. Kebijakan yang menempatkan peran pemerintah amat dominan dalam pembangunan koperasi menjadikan gerakan koperasi amar bergantung pada bantuan luar, hal yang bertentangan dengan hakekat koperasi sebagai lembaga ekonomi mandiri. 

Selama ini koperasi dikembangkan dengan dukungan pemerintah dengan basis sektor-sektor primer dan distribusi yang memberikan lapangan kerja terbesar bagi pemnduduk Indonesia. Sebagai contoh sebagian besar KUD sebagai program di sektor pertanian didukung dengan program pembangunan untuk membangun KUD. Di sisi lain pemerintah menggunakan KUD untuk mendukung program pembangunan pertanian untuk swasembada beras seperti yang terjadi pada PJP I.

Secara historis pengembangan koperasi di Indonesia yang telah digerakan melalui dukungan kuat program pemerintah telah dijalankan dalam waktu lama. Tidak mudah bagi koperasi untuk keluar dari kungkungan pengalaman tersebut. Memasuki masa reformasi hingga saat ini, pergeseran ke arah swasta dalam kegiatan perekonomian menjadi tantangan baru bagi pesaing-pesaing usaha termasuk koperasi (Soetrisno, 1999).

Pada masa orde lama hingga orde baru sepertinya koperasi mengalami berbagai permasalahan dalam mengembangkan usaha sesuai dengan jati dirinya. Peran pemerintah begitu dominan, melalui berbagai program pemerintahan. Koperasi dijadikan sebagai ‘alat’ dalam mewujudkan program-program tersebut. Tidak jarang koperasi kian berjalan di luar koridornya. Peranan pemerintah yang berlebihan tidak begitu berdampak positif terhadap perkembangan koperasi, justru sebaliknya.

Koperasi Indonesia akan semakin berkembang jika menangkap secara positif datangnya liberalisasi ekonomi sebagai suatu peluang, karena dengan adanya liberalisasi ekonomi, koperasi diberikan keleluasaan menjadi suatu badan usaha yang tidak hanya menjadi organisasi sosial melainkan berupaya meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui peningkatan sisa hasil usaha secara efektif dan efisien agar dapat memenuhi kebutuhan anggotanya.

Menurut Soetrisno (1999), pendekatan pengembangan koperasi sebagai instrumen pembangunan terbukti menimbulkan kelemahan dalam menjadikan koperasi yang memegang prinsip-prinsip sebagai badan usaha yang kompetitif. Tetapi dalam hal ini upaya pengembangan koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa tetaplah membutuhkan peranan pemerintah. Dukungan pemerintah, khususnya pemerintah daerah tetap diperlukan dalam menjalankan fungsi intermediasi dalam pengembangan koperasi. Pemerintah harus mampu memberikan dukungan dan jaminan bagi keberlangsungan kegiatan koperasi sebagaimana implementasi undang-undang otonomi daerah.

BAGAIMANA KEADAAN KOPERASI INDONESIA SAAT INI ?
Peran dan fungsi koperasi tidak hanya sebatas aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai manifestasi semangat kolektif, kebersamaan, dan prinsip keadilan yang berakar pada masyarakat kita, yaitu gotong royong. Selain itu, model bisnis koperasi merupakan manifestasi konstitusi, yakni UUD 1945 Pasal 33 ayat 1, yang menyatakan perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan. Menjadi tugas kita bersama dan segenap elemen bangsa untuk terus memajukan perkoperasian di Indonesia.

Saat ini koperasi di Indonesia dihadapkan pada dua tantangan utama.Pertama, peningkatan kualitas kelembagaan dan manajemen unit koperasi. Kedua, daya saing unit koperasi juga perlu terus ditingkatkan dan tidak hanya berperan di tingkat nasional, tetapi juga berkelas dunia. Penguatan kedua hal ini akan menambah jumlah koperasi yang mampu berkiprah di kawasan ASEAN. Adapun di dalam negeri akan semakin menguatkan modal sosial (social capital).

Di sejumlah negara Skandinavia, jaringan keanggotaan koperasi terbukti mampu meredam munculnya risiko konflik sosial karena semangat kebersamaan, kekeluargaan, serta keadilan yang mengikat individu maupun anggota badan usaha. Dari sisi kelembagaan, hadirnya UU No 17 Tahun 2012 telah memberikan dasar penguatan manajemen dan kemajuan koperasi di Indonesia. Di dalamnya diatur prinsip-prinsip pendirian, pengelolaan, pengawasan sampai peran Dewan Koperasi Indonesia dan pemerintah untuk meningkatkan peran strategis koperasi.

Sebagai unit usaha, koperasi memerlukan dukungan agar mampu lebih berdaya saing dan dikelola secara modern berdasarkan prinsip kebersamaan dan kekeluargaan. Dengan demikian koperasi akan mampu berperan penting seperti halnya bentuk usaha lain seperti BUMN maupun perseroan. Melalui penguatan kelembagaan dan pembaharuan ketentuan perundang-undangan yang mengatur koperasi, kita berharap koperasi akan memainkan peran yang jauh lebih strategis dalam sistem perekonomian nasional. Sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Inggris, dan Spanyol dapat menjadi benchmark kita untuk memajukan sektor perkoperasian.

Bahkan menurut International Co- Operative Alliance (ICA), terdapat sejumlah negara dengan kontribusi koperasi dalam produk domestik bruto( PDB) cukup besar, bahkan dapat di atas 10 persen, seperti Finlandia, Swiss, Selandia Baru, Norwegia, dan Belanda. Eropa berhasil menempatkan koperasi sebagai entitas usaha bersama yang memegang peranan penting dalam perekonomian negara. Taruhlah contoh dua bank terbesar di Eropa saat ini milik koperasi, yakni Credit Agricole di Prancis dan Rabobank di Belanda.

Bahkan Rabobank Group telah menjadi penyedia layanan keuangan global saat ini dan tersebar di berbagai negara, bersanding dengan bank-bank global seperti ANZ, Citibank, HSBC. Koperasi-koperasi seperti Credit Agricole, Rabobank, SGroup (Finlandia), MD Foods dan Danish Crown (Denmark), The Irish Dairy Board (Irlandia), Kerry Group (Irlandia), Friesland Dairy Foods (Belanda), dan NH Group (Korea Selatan) telah memainkan peran sangat strategis, khususnya di sektor-sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti perkebunan, pertanian, perikanan, dan kehutanan.

Sekitar 70–90 persen mata rantai terkait dengan kebutuhan pangan dan sektor jasa yang dibutuhkan masyarakat banyak disediakan koperasi-koperasi ini. Sebagian di antaranya telah menjelma menjadi raksasa ekonomi yang memiliki pengaruh besar dalam struktur ekonomi politik tidak hanya di negara asalnya, tetapi juga dunia. Penguatan koperasi dalam sistem perekonomian nasional juga dilakukan melalui pembangunan kesadaran masyarakat. Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi telah dicanangkan sejak 2010 dan sampai saat ini telah berkontribusi pada peningkatan jumlah koperasi di Tanah Air.

Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, terdapat kenaikan sebesar 17,4 persen jumlah unit koperasi dari tahun 2009 yang tercatat sebanyak 170.411 unit menjadi 200.808 unit pada Juli 2013. Sementara dari sisi jumlah keanggotaan, terdapat kenaikan 18,8 persen dari 2009 yang tercatat anggotanya sebanyak 29,2 juta orang bertambah menjadi 34,7 juta orang. Dengan jumlah anggota sebanyak itu, kini volume usaha koperasi di pertengahan 2013 telah mencapai Rp115,2 triliun atau tumbuh double digit, 12,09 persen, dari 2012.

Kenaikan jumlah, baik dari sisi unit koperasi, jumlah keanggotaan maupun volume usaha, menunjukkan koperasi telah memainkan peranan yang strategis dalam sistem perekonomian nasional. Pemerintah terus mendorong revitalisasi peran dan kebangkitan koperasi nasional untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkualitas dan berkeadilan. Melalui sejumlah program (termasuk menyediakan akses permodalan melalui KUR dan LPDB), pemerintah memfasilitasi pertumbuhan koperasi agar dapat menjadi entitas usaha yang kuat dan berkontribusi besar bagi proses pembangunan yang sedang berjalan.

Selain itu, intensifikasi serta ekstensifikasi penyuluhan dan pelatihan manajemen serta sistem pengendalian koperasi juga perlu terus kita tingkatkan. Hal ini mengingat masih banyaknya koperasi di Indonesia dalam situasi nonaktif, tetapi memiliki potensi usaha yang sangat baik. Saat ini Indonesia juga menghadapi tantangan kedua di bidang perkoperasian, yaitu memperbanyak jumlah koperasi berkelas dunia.

Koperasi kelas dunia dapat berarti dua hal. Pertama, koperasi yang mampu bersaing dengan perusahaan multinasionalyangberoperasidi pasar domestik. Kedua, koperasi yang memiliki cakupan aktivitas di luar wilayah Indonesia baik dalam hal ekspor, impor maupun investasi. Untuk dapat menjawabkeduatantangantersebut, pemerintah terus menyediakan sejumlah fasilitas tidak hanya permodalan, penyuluhan, manajemen, tetapi juga potensi pengembangan teknologi dan informasi sehingga kapasitas koperasi dapat ditingkatkan sejajar dengan entitas usaha lain di dunia.

Dalam memediasi going global koperasi nasional, pemerintah tidak hanya memonitor perkembanganunit- unitusahakoperasi, tetapi juga melakukan sejumlah uji pemeringkatan demi memicu koperasi untuk terus mengembangkan diri dan mendapat kesempatan memperluas baik pasar maupun kapasitasnya. Beberapa waktu lalu, Koperasi Indonesia (KWSG) membuktikan diri mampu menempati peringkat ke-233 dari 300 koperasi terbaik dunia pada forum International Co-Operative Alliance(ICA) Global 300 bulan November 2013. Tentunya hal ini menjadi kabar positif bagi pengembangan sektor perkoperasian nasional.

Tidak hanya itu, dalam beberapa tahun ke depan koperasi dihadapkan pada fenomena integrasi ekonomi global yang juga menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Untuk itu, pemerintah mencanangkan sepanjang 2012-2017 sebagai gerakan revitalisasi dan kebangkitan koperasi serta mendorong kontribusi yang lebih besar dari koperasi terhadap proses pembangunan yang sedang berjalan.

Kontribusi koperasi dalam struktur dan kultur perekonomian perlu untuk terus ditingkatkan tidak hanya dalam rangka mendorong peng-usahaan bersama, tetapi juga untuk menjadi solusi nasional atas sejumlah soal mulai dari penanganan kemiskinan, pengangguran, dan peningkatan kesejahteraan. Kita tentunya sangat mendambakan koperasi sebagai napas perekonomian nasional sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 dapat terus berkembang dan menjadi motor pembangunan nasional.

Kontribusi dan peran strategis koperasi ini dengan sendirinya akan membantu perluasan kesejahteraan, mereduksi kesenjangan, dan menghadirkan pembangunan yang berkeadilan dan berkualitas. Semoga geliat sektor perkoperasian nasional saat ini dapat menjadi momentum kebangkitan koperasi nasional di tengah ketidakpastian dan runtuhnya premis-premis ekonomi lainnya. Koperasi tentu saja berpotensi menjadi salah satu solusi global masa depan.

APA KENDALA – KENDALA YANG MASIH MENGHAMBAT ?
Masyarakat Indonesia belum sepenuhnya yakin bahwa berkoperasi itu menguntungkan.Padahal mereka yang enggan belum terjun dan menikmati manfaat itu.Bahkan mereka yang sudah dewasa termasuk mahasiswa enggan mempelajari dan memahami keberadaan koperasi sebagai sokoguru perekonomian bangsa.Bagi masyarakat juga belum seluruhnya mengetahui keberadaan dan sejarah koperasi di Indonesia termasuk mereka yang ada di pelosok- pelosok negeri dan yang masih sangat tradisionil.

Koperasi memang fokus menyelamatkan kaum menengah ke bawah dari monopoli kapitalis yang berusaha menguasai pasar.Siapa bilang kaum menengah dan ke bawah tidak bisa sejahtera? Koperasi adalah jawabannya.

Masyarakat yang sekilas mengetahui prinsip koperasi tidak begitu tertarik dengan keuntungan seadanya.Mereka lebih memilih lembaga yang bisa memberikan keuntungan yang lebih besar.Padahal keuntungan koperasi itu ibaratnya double yaitu kita yang kita menyimpan ,kita yang memakai, kita yang untung.

Masyarakat menengah kebanyakan menempatkan dirinya sebagai seorang urban sehingga memandang koperasi hanya sebagai lembaga untuk kumpulan orang-orang biasa saja.Padahal koperasi terbuka untuk siapapun termasuk orang-orang kapitalis.

Pemerintah melakukan aksi yang belum sepenuhnya komplit dan belum mencapai titik-titik rawan ketidakpahaman atas prinsip koperasi.Sebenarnya pemerintah secara terus menerus mengupayakan pengembangan ekonomi melalui berkoperasi namun selalu ada polemik yang sulit untuk diluruskan.Polemik ini berasal dari teknologi dan bisnis yang liberal sehingga mentradisionalkan koperasi.Padahal jika ketiga unsur ini dipersatukan maka seluruh hambatan ekonomi bisa teratasi.

Manfaat Teknologi Informasi Dan Komunikasi

Manfaat Teknologi Informasi Dan Komunikasi
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information and Communicatioan Technology/ICT) di dunia telah semakin luas. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan ICT yang tidak terbatas pada bidang perdagangan saja, melainkan juga dalam bidang-bidang lain, seperti bidang pendidikan, bidang pertahanan dan keamanan negara, sosial dan sebagainya. ICT ini dipergunakan karena memiliki berbagai kelebihan yang menguntungkan dibandingkan cara-cara tradisional. Kelebihan ICT ini dapat dilihat dalam hal kecepatan, kemudahan dan biaya yang lebih murah. Kelebihan ini dapat diilustrasikan dengan kasus sebagai berikut : misalnya A adalah seorang penjual barang yang berada di Indonesia dan B adalah pembeli yang berada di Belanda. Kemudian B berniat membeli barang yang dijual oleh A. Apabila menggunakan cara tradisional maka B harus mendatangi negara tempat A berada untuk membuat perjanjian pembelian atau sebaliknya. Tetapi dengan mempergunakan internet misalnya maka dengan saling mengirimkan email saja perjanjian jual beli ini dapat dibuat.

Dengan kelebihan-kelebihan seperti yang telah diuraikan dengan ilustrasi di atas, maka dapat dikatakan bahwa dengan mempergunakan ICT maka efisiensi dalam gerak kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya dapat terwujud. Efisiensi ini sendiri berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas dari interaksi yang terjadi, karena dengan mempergunakan ICT dalam interaksi yang terjadi maka dengan mempertimbangkan keuntungan-keuntungan yang didapat dari penerapan ICT ini dapat semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas dari interaksi tersebut. Oleh sebab itu ICT banyak diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan manusia, dan dengan keuntungan-keuntungan yang ditawarkan oleh teknologi informasi.

Pengaruh yang sangat kuat dari globalisasi adalah melembaganya citra baru, yaitu perdagangan bebas yang akan memberikan peningkatan kesejahteraan bagi bangsa-bangsa yang konvergen. Dunia baru kita adalah dunia perdagangan dalam arti yang seluas-luasnya, yakni dunia yang tidak mengenal batas-batas geografis satu negara. Pembatas yang ada hanyalah kemampuan kita bersaing dengan para pengusaha di dan dari negara lain baik di dalam negeri maupun di pasar internasional. Seandainya globalisasi berjalan mulus, maka seluruh penduduk di dunia ini akan lebih baik dan sejahtera. Tetapi kenyataannya ketimpangan antara negara industri maju dengan dengan negara lainnya terus melebar. Krisis keuangan dan ekonomi pada tahun 1997 yang melanda sebagian besar negara Asia, makin memperparah ketimpangan yang terjadi. Brand, standards and quality telah menjadi ciri utama globalisasi yang berlaku di mana saja. Dengan terbukanya lalulintas produk dan komoditi, serta rendahnya tenaga kerja di beberapa negara berkembang, maka negara-negara G-8 telah mengembangkan strategi yang mempertahankan hegemoni teknologi dan industri. Mengambil keuntungan dari keadaan tersebut, perusahaan-perusahaan telah memperlebar supply chainnya dengan cara outsourching. Memanfaatkan sumber-sumber murah (low cost) untuk proses produksi, pemilik proprietary technology terpaksa membagi menjadi komponen-komponen agar dapat dibuat dimana saja. Dengan konsep modular yang diterapkan dalam desain , produk serta jasa. Dengan demikian pemilik teknologi masih menguasai keunggulan teknologinya, walaupun desain dan produksi dilakukan di negara-negara dengan tenaga kerja rendah. Bersamaan dengan konsep modular dalam memanfaatkan global supply chain, maka pengetahuanpun semakin di-codified. Hal ini juga berlaku bagi pengetahuan yang telah berkembang dalam masyarakat. Dengan perkembangan tersebut serta didukung makin canggihnya digitalisasi dan komunikasi, akan memudahkan bagi negara-negara berkembang mendapatkan informasi terkini dari perkembangan teknologi. Walaupun demikian globalisasi mengalir terus dengan derasnya, keterbukaan informasi telah menjadikan sebagian masyarakat kita hidup seperti di negara maju lainnya, budaya internasional sudah menyusup ke dalam kehidupan kita. Ditambah lagi dengan keberadaan perusahaan multinasional dan profesional asing yang ikut mempercepat proses perubahan budaya khususnya di kota-kota besar.

Kreativitas dan inovasi merupakan ujung tombak dalam menghadapi persaingan global yang berkembang dinamis. Kreativitas dan inovasi dapat terjadi di semua lapisan masyarakat dan tidak tergantung tingkat pendidikan. Prakondisi yang penting untuk mendukung proses kreativitas dan inovasi adalah tingginya tingkat kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat atau terhadap perubahan lingkungan. Setiap perubahan, reformasi atau transformasi memerlukan penyesuaian. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dinamakan daya adaptasi. Proses perubahan yang sedang kita hadapi baik secara global maupun di negara kita masih berlangsung dengan laju yang semakin cepat. Dalam iklim yang penuh dengan kompetisi, dengan sendirinya akan terjadi proses seleksi. Individu, perusahaan atau bangsa yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyesuaikan perilakunya terhadap perubahan, akan berhasil dalam seleksi tersebut. Konsep daya adaptasi lebih menekankan pada kemampuan menyesuaikan diri melalui learning process terhadap perubahan lingkungan.

Inovasi adalah sesuatu yang baru atau perbaikan penting. Merupakan hasil dari kreasi atau transformasi dari inventions, discoveries, ide, analisa, pengetahuan maupun data/informasi. Inovasi dalam sehari-hari diartikan dalam dua pengertian. Yang pertama, diartikan sesuatu ide, atau obyek baru yang dimanfaatkan oleh seseorang atau masyarakat. Pengertian yang kedua adalah bukan produk atau ide, tetapi bagaimana sesuatu yang baru tersebut dapat terbentuk dan dimanfaatkan dalam masyarakat dalam arti prosesnya. Daya inovasi adalah kemampuan individu atau masyarakat memanipulasi atau mengintervensi lingkungan menurut kepentingan individu atau masyarakat tersebut. Seperti yang sering dikatakan “innovation insome sense called forth or triggered in response to demands” atau sering disebut market pull atau demand pull. Tetapi disisi lain kemampuan ilmu pengetahuan dapat mempengaruhi proses inovasi dan disebut dengan “technical knowledge push” atau “technology push”. Tetapi dengan kemudahan mendapatkan informasi sekarang ini, khususnya dengan perkembangan Institute Computing Technology (ICT), maka “technology push” ini dapat dilakukan dengan lebih mudah dengan memanfaatkan sumber yang hampir tidak terbatas. Terbentuknya inovasi merupakan proses yang kompleks, memanfaatkan hasil-hasil dari kegiatan teknologi. Inovasi teknologi berbentuk sesuatu yang baru, atau merupakan perbaikan penting baik berupa produk, proses maupun service. Hasil inovasi teknologi, biasanya muncul dengan beberapa bentuk, seperti penemuan, desain, data-data baru ataupun pengetahuan baru. Dari hasil temuan tersebut dapat menghasilkan inovasi.Tidak semua inovasi memerlukan penemuan (invention) baru, kadang-kadang hanya merupakan perubahan-perubahan kecil. Penyebaran informasi inovasi teknologi di semua negara dan khususnya di negara industri maju sangat tergantung dari beberapa faktor ekonomi, sosial dan politik dari sistem lingkungan sosial-budaya masyarakatnya. Penyebaran tergantung dari kemampuan pemasaran, distribusi, penjualan, pelayanan purna jual dan cara pendanaan. Penyebaran dimulai dari dengan riset pasar dan perilaku pasar. Perlu diciptakan trend setter atau opinion leader. Di dalam budaya kontemporer barat, yang sangat mempengaruhi penyebaran inovasi teknologi adalah pandangan ”ingin yang baru”,”lebih besar” atau “lebih bagus”. Strategi “new” atau ”improved” dilakukan. Selain itu penyebaran teknologi juga dipengaruhi oleh situasi politik di dalam dan di luar negeri. Beberapa negara telah melakukan konsep costinnovation, untuk bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju, serta memberikan keleluasaan kepada manajemen untuk mengambil keputusan kebutuhan masyarakat dengan image dan standart yang sama di seluruh dunia, menjadikan pasar lokal, regional dan global menyatu.

Dalam proses transformasi yang panjang dari ekonomi sentralistik menuju ekonomi pasar, perusahaan nasional diberi akses untuk memanfaatkan seluas-luasnya aset dan kekayaan intelektual (IP) yang dimiliki negara dengan biaya yang sangat rendah. Sehingga utilisasi aset negara menjadi lebih produktif melalui kombinasi dengan aset swasta dan pasar uang. Sebagai contoh adalah tumbuhnya Lenovo yang dimulai tahun 1984 sebagai perusahaan di dalam ICT yang merupakan bagian dari Chinese Academy of Science. ICT memberikan pinjaman sebagai start up capital. Pada awalnya ruangan kerjapun diberikan oleh ICT, ilmuwan dan engineer yang bekerja. Hal ini dilakukan oleh pemerintah China dalam rangka reformasi sistem IPTEK mereka. China mempunyai berbagai teknologi, pengetahuan dan kemampuan sebagai peninggalan sistem yang lama. Kemampuan tersebut tersebar diberbagai lembaga penelitian dan industri militer. Kemampuan inilah yang memungkinkan perusahaan China membiayai inovasi.

Inovasi dapat diistilahkan sebagai menemukan cara baru untuk menjalankan usaha, termasuk di dalamnya pengembangan produk baru dan cara baru dalam memproduksi atau mendistribusi produk dan jasa. Berikut adalah tabel contoh kegunaan dari strategi bersaing untuk menghadapi setiap faktor persaingan :

Tabel  :

Konsumen
Pemasok
Pesaing
Pendtg baru
Pengganti
Tujuan strategis
Menarik konsumen baru dan mengikat konsumen sekarang dengan switching cost
Mengikat pemasok dengan switching cost
Menghalau rintangan untuk memasuki industri
Membuat rintangan untuk memasuki industri
Membuat produk pengganti menjadi tidak menarik
Strategi keunggulan biaya
Menawarkan harga yang lebih murah
Menolong pemasok menurunkan biaya
Memiliki harga yang lebih rendah dari pesaing
Membuat investasi baru tidak menarik
Membuat penggantiansecara ekonomi tidak mungkin
Strategi perbedaan
Menyediakan kualitas lebih baik
Menolong pemasok meningkatkan pelayanan
Merebut persaingan dengan fitur yang unik
Mempersulit masuknya produk baru
Menyediakan fitur yang ada di produk pengganti
Strategi inovasi
Menyediakan produk baru
Menyediakan layanan pasokan yang unik
Menyediakan produk dan jasa yang berbeda
Memasuki bisnis pendatang baru yang potensial
Memproduksi produk pengganti

Peran Strategis untuk Sistem Informasi
Sistem informasi manajemen (SIM) dapat menolong perusahaan untuk :

1. Meningkatkan efisiensi operasional
Investasi di dalam teknologi sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya (low-cost leadership).

Dengan menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki persaingan pasar. Selain itu, cara lain yang dapat ditempuh adalah mengikat (lock in) konsumen dan pemasok dengan cara membangun hubungan baru yang lebih bernilai dengan mereka.

2. Memperkenalkan inovasi dalam bisnis
Penggunaan ATM (automated teller machine) dalam perbankan merupakan contoh yang baik dari inovasi teknologi sistem informasi. Dengan adanya ATM, bank-bank besar dapat memperoleh keuntungan strategis melebihi pesaing mereka yang berlangsung beberapa tahun.

Perkembangan teknologi web begitu cepat. Web merupakan sistem komunikasi baru, dimana teknik hypertext yang dijadikan sebagai standart. Sejalan dengan itu pembuatan Web-Server untuk menyampaikan atau mendapatkan informasi atau dari publik telah meningkat secara eksponesial. Jadi web merupakan sistem komunikasi dan web dapat dipakai dalam jaringan yang berbeda bahkan dapat dipakai dalam seluruh jaringan. Sejalan dengan kemajuan teknologi web, maka terjadi pula beragam kemajuan orang memanfaatkan aplikasi internet baik ke dalam intranet maupun ke dalam extranet.

Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya. Sebuah contoh yang bagus dari hal ini adalah sistem reservasi penerbangan terkomputerisasi yang ditawarkan kepada agen perjalanan oleh perusahaan penerbangan besar. Bila sebuah agen perjalanan telah menjalankan sistem reservasi terkomputerisasi tersebut, maka mereka akan segan untuk menggunakan sistem reservasi dari penerbangan lain

3. Membangun sumber-sumber informasi strategis
Teknologi sistem informasi memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperolah perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi , menyewa spesialis sistem informasi, dan melatih end users.

Sistem informasi memungkinkan perusahaan untuk membuat basis informasi strategis (strategic information base) yang dapat menyediakan informasi untuk mendukung strategi bersaing perusahaan. Informasi ini merupakan aset yang sangat berharga dalam meningkatkan operasi yang efisien dan manajemen yang efektif dari perusahaan. Sebagai contoh, banyak usaha yang menggunakan informasi berbasis komputer tentang konsumen mereka untuk membantu merancang kampanye pemasaran untuk menjual produk baru kepada konsumen

Perubahan Peranan Sistem Informasi
Sampai pada tahun 1960-an, peran sistem informasi masih sederhana : memproses transaksi, menyimpan data, accounting, dan aplikasi proses data elektronik (electronic data processing) lainnya.

Pada tahun 1970-an, informasi spesifikasi awal produk yang dibuat oleh information reporting systems tidak dapat memenuhi kebutuhan pengambilan keputusan manajemen. Oleh karena itu dibuatlah suatu konsep decision support systems (DSS). Peranan baru ini adalah menyediakan dukungan interaktif kepada menajemen untuk proses pengambilan keputusan mereka.

Pada tahun 1980-an, perkembangan yang cepat dari tenaga proses mikrokomputer, aplikasi perangkat lunak, dan jaringan telekomunikasi menimbulkan apa yang disebut dengan enduser computing. Kemudian konsep executive information systems (ESS) dibangun, dimana sistem informasi ini memberikan jalan yang mudah bagi manajemen atas untuk mendapatkan informasi kritikal yang diinginkan ketika sedang dibutuhkan. Pengembangan dan aplikasi dari teknik kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memberi gebrakan baru dalam sistem informasi bisnis. Sistem pakar atau expert systems (ES) dan sistem berbasis pengetahuan membuat peran baru bagi sistem informasi.

Sebuah peran baru yang penting bagi sistem informasi muncul di tahun 1980-an dan diharapkan terus berlanjut sampai ke tahun 1990-an. Peran tersebut adalah konsep peran strategis (strategic role) dari sistem informasi yang disebut strategic information systems (SIS). Pada konsep ini, sistem informasi diharapkan untuk memainkan peranan langsung dalam mencapai tujuan atau sasaran strategis dari perusahaan. Hal ini memberikan tanggung jawab baru bagi sistem informasi di dalam bisnis.

Sistem Informasi untuk Operasi Bisnis
Peranan sistem informasi untuk operasi bisnis adalah untuk memproses transaksi bisnis, mengontrol proses industrial, dan mendukung komunikasi serta produktivitas kantor secara efisien.

· Transaction Processing Systems
Transaction processing systems (TPS) berkembang dari sistem informasi manual untuk sistem proses data dengan bantuan mesin menjadi sistem proses data elektronik (electronic data processing systems). Transaction processing systems mencatat dan memproses data hasil dari transaksi bisnis, seperti penjualan, pembelian dan perubahan persediaan/inventori. Transaction processing systems menghasilkan berbagai informasi produk untuk penggunaan internal maupun eksternal. Sebagai contoh, TPS membuat permintaan konsumen, cek gaji karyawan, kwitansi penjualan, order pembelian, formulir pajak, dan rekening keuangan. TPS juga memperbaharui database yang digunakan perusahaan untuk diproses lebih lanjut oleh SIM.

· Process Control Systems
Sistem informasi operasi secara rutin membuat keputusan yang mengendalikan proses operasional, seperti keputusan pengendalian produksi. Hal ini melibatkan process control systems (PCS) yang keputusannya mengatur proses produk fisik yang secara otomatis dibuat oleh komputer. Kilang minyak petroleum dan jalur perakitan (assembly lines) dari pabrik-pabrik yang otomatis menggunakan sistem ini.

· Office Automation Systems
Office Automation Systems (OAS) mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mengirim data dan informasi dalam bentuk komunikasi kantor elektronik. Contoh dari office automation (OA) adalah word processing, surat elektronik (electronic mail), teleconferencing.

Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan Manajemen
Sistem informasi manajemen atau SIM (manajement information system) adalah sistem informasi yang dirancang untuk menyediakan informasi akurat, tepat waktu, dan relevan yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan oleh para manajer. Konsep SIM adalah meniadakan pengembangan yang tidak efisien dan penggunaan komputer yang tidak efektif. Konsep SIM sangat penting untuk sistem informasi yang efektif efisien karena :
- Menekankan pada orientasi manajemen (manajement orientation) dari pemrosesan informasi pada bisnis yang bertujuan mendukung pengambilan keputusan manajemen (management decision making)
- Menekankan bahwa kerangka sistem (system framework) harus digunakan untuk mengatur penggunaan sistem informasi. Penggunaan sistem informasi pada bisnis harus dilihat sebagai suatu integrasi dan berhubungan, tidak sebagai proses yang berdiri sendiri.

Secara garis besar SIM terdiri dari 3 macam yaitu : Information reporting systems, decision support systems dan executive information systems

- Information Reporting Systems
Information reporting systems (IRS) menyediakan informasi produk bagi manajerial end users untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan dari hari ke hari. Akses data IRS berisi informasi tentang operasi internal yang telah diproses sebelumnya oleh transaction processing systems. Informasi produk memberi gambaran dan laporan yang dapat dilengkapi (1) berdasarkan permintaan, (2) secara periodik, atau (3) ketika terjadi situasi pengecualian. Sebagai contoh, manajer penjualan dapat menerima laporan analisa penjualan setiap minggunya untuk mengevaluasi hasil penjualan produk.

- Decision Support Systems
Decision Support Systems (DSS), merupakan kemajuan dari information reporting systems dan transaction processing systems. DSS adalah interaktif, sistem informasi berbasis komputer yang menggunakan model keputusan dan database khusus untuk membantu proses pengambilan keputusan bagi manajerial end users. Sebagai contoh, program kertas kerja elektronik memudahkan manajerial end user menerima respon secara interaktif untuk peramalan penjualan atau keuntungan.

- Executive Information Systems
Executive Information Systems (EIS) adalah tipe SIM yang sesuai untuk kebutuhan informasi startegis bagi manajemen atas. Tujuan dari sistem informasi eksekutif berbasis komputer adalah menyediakan akses yang mudah dan cepat untuk informasi selektif tentang faktor-faktor kunci dalam menjalankan tujuan strategis perusahaan bagi manajemen atas. Jadi EIS harus mudah untuk dioperasikan dan dimengerti.

Expert Systems
Adalah sistem pakar merupakan salah satu aplikasi artificial intelligence (AI) yang paling banyak digunakan. Expert systems (ES) adalah sistem informasi berbasis pengetahuan yang menggunakan pengetahuannya untuk bertindak sebagai konsultan ahli dalam area yang spesifik kepada pengguna. ES telah digunakan di dalam berbagai bidang seperti kedokteran, teknik, ilmu fisika dan bisnis. Sebagai contoh, ES digunakan untuk mendiagnosa penyakit, pencairan mineral, menganalisa senyawa kimia dan perencanaan keuangan.

End User Computing Systems
End user computing (EUC) systems adalah sistem informasi berbasis komputer yang secara langsung mendukung aplikasi operasional dan manajerial oleh end users. Dalam EUC systems, end users menggunakan stasiun kerja mikrokomputer dan bermacam perangkat lunak untuk mendapatkan kembali informasi, pendukung keputusan dan pengembangan aplikasi. Sebagai contoh, pengguna dapat mengirim surat elektronik, menggerakkan model analitik atau membangun aplikasi bisnis yang baru.

Sistem informasi dapat memainkan peran yang besar dalam mendukung tujuan strategis dari sebuah perusahaan dapat bertahan dan sukses dalam waktu lama jika perusahaan itu sukses membangun strategi untuk melawan kekuatan persaingan yang berupa : persaingan dari para pesaing yang berada di industri yang sama, ancaman dari perusahaan baru, ancaman dari produk pengganti, kekuatan tawar menawar dari konsumen dan kekuatan tawar menawar dari pemasok. 

Konsep dasar lain yang juga penting dalam mengidentifikasi sistem informasi disebut rantai nilai (value chain). Konsep ini memandang perusahaan sebagai sebuah “rantai” dari aktivitas dasar yang menambah nilai suatu produk atau jasa, sehingga memperluas batas dari nilai tersebut. Konsep rantai nilai ini dapat membantu manajer dalam memutuskan dimana dan bagaimana menggunakan kemampuan strategis dari teknologi sistem informasi. Jadi sistem informasi dapat digunakan untuk aktivitas bisnis secara spesifik yang membantu perusahaan memperoleh keuntungan strategis di pasar. Fungsi dari sistem informasi tidak lagi hanya memproses transaksi, penyedia informasi, atau alat untuk pengambilan keputusan. Sekarang sistem informasi dapat berfungsi untuk menolong enduser manajerial membangun senjata yang menggunakan teknologi sistem informasi untuk menghadapi tantangan dari persaingan yang ketat. Penggunaan yang efektif dari sistem informasi strategis menyajikan end users manajerial dengan tantangan manajerial yang besar.

Kata telematika, berasal dari istilah dalam Bahasa Perancis “TELEMATIQUE” , yang merujuk pada bertemunya sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informis. Istilah Teknologi Informasi sendiri merujuk pada perkembangan teknologi perangkat-perangkat pengolah informasi. Para praktisi menyatakan bahwa TELEMATICS adalah singkatan dari “TELECOMMUNICATION and INFORMATICS” sebagai wujud dari perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah Telematics juga dikenal sebagi “the new hybrid technology” yang lahir karena perkembangan teknologi digital. Perkembangan ini memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu atau populer dengan istilah “konvergensi”. Semula media masih belum menjadi bagian integral dari isu konvergensi teknologi informasi dan komunikasi pada saat itu. Belakangan baru disadari bahwa penggunaan sistem komputer dan sistem komunikasi ternyata juga menghadirkan Media Komunikasi baru. 

Mengamati perkembangan teknologi saat ini seharusnya membangkitkan rasa ingin maju dan berkarya. Saat ini kita melihat berbagai perkembangan menarik tentang teknologi :
1. konvergensi teknologi komputer dan telekomunikasi
2. konvergensi teknologi komunikasi dan inovasi content
3. pergeseran model bisnis dari menjual produk ke menjual jasa

Konvergensi atau menyatunya teknologi komputer dan telekomunikasi informasi makin membesar, menghubungkan simpul-simpul jaringan pemroses yang makin bervariasi, seperti PC, notebook, pocket PC, handphone, pirantikontrol ke mesin produksi, dan lain-lain. Syaratnya adalah pemahaman mengenai kompleksitas proses bisnis dan fitur-fitur produk telekomunikasi dan jejaring komputer. Menyatunya teknologi inovasi content akan mempercepat tersebar dan terbangunnya pengetahuan masyarakat. Content dapat berupa suara, gambar dan teks. Topik content bergantung kebutuhan komunitas. Inovasi content adalah kreasi untuk pengetahuan dalam format yang menarik bagi komunitas dan teknologi informasi yang berkembang.

Dua komponen penting yang boleh dikatakan telah meningkat dengan pesat dalam era globalisasi. Yang pertama adalah impor, ekspor dan kedua adalah pasar modal. Ekspor impor makin bergairah antara lain disebabkan karena berkurangnya hambatan perdagangan di antara negara-negara, sedangkan integrasi pasar modal (uang) dapat dilihat dalam cepatnya proses pinjam-meminjam antar negara, ditandai dengan munculnya IMF (International Monetary Fund).

Lingkungan bisnis dalam ekonomi global :

1. Menjamurnya sejumlah pesaing baru
Dengan globalisasi yang melanda semua negara di dunia, perusahaan-perusahaan memasuki lingkungan bisnis yang berbeda dengan yang sebelumnya. Pesaing bisnis datang tidak datang dari lingkungan domestik, tetapi juga dari mancanegara yang membawa teknologi kerja dan proses kerja mutakhir. Bisnis eceran di Indonesia makin diramaikan oleh kehadiran pebisnis internasional seperti Sogo, Carefour, bisnis fastfood domestik mulai bersaing dengan Kentucky, McDonald, demikian pula pabrik sepatu lokal bersaing dengan Nike, Adidas. Dengan demikian arus globalisasi berdampak terhadap jumlah pesaing.

2. Tekanan-tekanan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas
Pesaingtidak hanya bertambah jumlahnya, melainkan juga mutunya. Perusahaan yang baru muncul, tidak sekedar muncul melainkan muncul dengan produk yang bermutu lebih baik dan harga yang lebih bersaing. Startegi bisnis yang mereka lakukan seringkali mengejutkan pebisnis lama, yaitu kreatif, inovatif dan atraktif.

3. Kesempatan-kesempatan baru
Adanya pasasr bebas dan mobilitas modal, informasi, maka dimungkinkan munculnya gagasan-gagasan baru yang dapat terealisasikan. Hambatan-hambatan perdagangan yang berkurang meningkatkan kegairahan berusaha. Kalaupun gagasan tersebut sulit direalisasikan sendiri, maka kesempatan beraliansi dengan pihak lain terbuka. Demikian pula kesempatan memperoleh modal usaha.

4. Deregulasi
Menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih kompetitif, merupakan hal yang semaki penting. Hal ini dimungkinkan karena regulasi-regulasi yang sebelumnya ada, dikurangi atau bahkan dihapuskan. Deregulasi dalam bidang perbankan, telekomunikasi, penerbangan dan lain-lain. Contoh yang bisa diambil antara lain yang terjadi di Amerika Serikat dan di negara industri lainnya seperti Jepang, Eropa dan Perancis. Mulai dari industri penerbangan sampai perbankan, agar berdaya saing secara nasional dan internasional, pemerintah di negara-negara tersebut mencabut proteksidan aturan tarif

5. Keragaman Tenaga Kerja
Komposisi tenaga kerja sangat beragam. Etnik, kebangsaan, kelamin, keahlian, pendidikan, nilai kerja, agama. Pada tahun 2003 dimana AFTA akan mulai diaktifkan, sudah bisa diduga bahwa banyak tenaga ahli asing yang akan bekerja di Indonesia. Demikian pula akibat perkembangan teknologi kerja, makin bertambah pekerjaan yang diambil alih oleh wanita/pria, dan makin banyaknya pasanga suami istri yang bekerja

6. Sistem sosial, politik, hukum baru
Sistem perdagangan bebas menuntut pula pemerintah yang demokratis, pemathan terhadap HAM, persamaan hak, aliansi perdagangan, tekanan serikat pekerja internasional. Pemerintahan harus dikelola denganbenar dan bersih (good governance dan clean government)

Tanda-tanda era globalisasi atau pasar bebas beserta teknologinya dapat dilihat dari adanya kecenderungan-kecenderungan yang terjadi antara lain :
- Investasi : tidak mengenal batas negara maupun hambatan geografi, lebih dipacu oleh mutu dan kesempatan yang ada/ditawarkan, sebagian besar oleh swasta
- Badan Usaha : cepat dan penuh tanggap terhadap pasar maupun konsumen, bisnis lebih terfokus, berorientasi global, lebih berbasis pada pengetahuan, ramping dan nirbatas, multi sourcing dan aliansi, tergabung dalam jaringan informasi bisnis global
- Proses teknologi : berbasis pada cabang/agen, tidak terpusat, mengorganisir sendiri, manufaktur di lokasi jual, makin menggunakan teknologi cerdas, adanya standar global (ISO), teknologi baru, aman dan bersih.
- Pasar/konsumen : makin berorientasi pada produk global, kompetitif dalam mutu, harga, purna jual serta pelayanan

Tiga Pilar Strategi Pengembangan Sistem Informasi

Tiga Pilar Strategi Pengembangan Sistem Informasi
Menurut Earl (1989), strategi pengembangan sistem informasi meliputi tiga pilar utama, yaitu Information System Strategy (ISS), Information Technology Strategy (ITS), dan Information Management Strategy (IMS). Keterkaitan tiga pilar tersebut diilustrasikan pada Gambar.

Sumber: Earl, Michael J. (1989).
Gambar Tiga Pilar Pengembangan Manajemen Sistem Informasi

Gambar  menjelaskan ISS, ITS, dan IMS mempunyai fokus yang berbeda namun memiliki keterkaitan yang sangat erat sehingga perubahan pada salah satu strategi akan sangat mempengaruhi strategi yang lain. ISS menekankan pada hubungan antara informasi dan kebutuhan bisnis organisasi. ITS fokus pada teknologi yang harus dimiliki dan dikembangkan organisasi. IMS berorientasi pada teknik manajemen yang akan dipergunakan organisasi.

Information System Strategy (ISS)
ISS berkaitan dengan bagaimana mendefinisikan kebutuhan informasi yang mendukung kebutuhan organisasi secara umum, untuk menjamin terjadinya “the flow of information” yang efektif dan berkualitas. Setiap organisasi memiliki kebutuhan informasi yang unik. Keunikan tersebut antara lain terlihat dari 
  1. jenis dan karakteristik informasi, 
  2. relevansi informasi yang dihasilkan, 
  3. kecepatan alir informasi dari satu bagian ke bagian lain dalam organisasi, 
  4. keakuratan informasi, 
  5. target nilai ekonomis informasi yang diperoleh, 
  6. batasan biaya yang harus dikeluarkan dalam pengolahan informasi, dan 
  7. struktur para pengguna informasi. 
Berdasarkan faktor-faktor keunikan tersebut sistem informasi yang dikembangkan oleh rumah sakit misalnya akan berbeda dengan sistem informasi yang dikembangkan oleh bank. Bahkan sistem informasi yang dikembangkan oleh rumah sakit A akan berbeda dengan sistem informasi yang dikembangkan oleh rumah sakit B.

Adanya keunikan informasi pada setiap organisasi, ISS perlu memperhatikan siklus informasi (information cycle) atau siklus pengolahan data (data processing cycles), sebagaimana diilustrasikan pada Gambar.

Sumber: http://dosen.amikom.ac.id.
Gambar Siklus Informasi 


Siklus informasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Data dari setiap kejadian atau aktivitas diinput, untuk selanjutnya diproses berdasarkan model tertentu. Proses tersebut akan menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi penerima (level management) sebagai dasar dalam membuat suatu keputusan atau melakukan tindakan tertentu. Keputusan atau tindakan tersebut akan menghasilkan kejadian-kejadian tertentu yang akan digunakan kembali sebagai data untuk dimasukkan ke dalam model (proses), begitu seterusnya. 

Information Technology Strategy (ITS),
Komponen utama yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah sistem informasi yang efektif dan efisien adalah teknologi informasi. Teknologi informasi merupakan sebuah domain dari produk-produk hasil perkembangan ilmu komputer dan telekomunikasi. Oleh karena itu menurut Jogiyanto (2005:52) ITS berkaitan dengan strategi memilih teknologi sistem komputer (hardware dan software), dan teknologi sistem telekomunikasi yang akan digunakan organisasi.

Pada kenyataannya, saat ini terdapat beragam tipe produk yang berkaitan dengan teknologi informasi. Fenomena yang terlihat sehubungan dengan hal ini adalah berlombanya beribu-ribu perusahaan untuk menciptakan produk-produk yang dapat dijadikan standar internasional pada kelasnya masing-masing. Berdasarkan kenyataan ini sudah terlihat, bahwa perusahaan memerlukan strategi khusus paling tidak dalam memilih teknologi mana saja yang akan dibeli dan dimanfaatkan agar dapat dikembangkan sistem informasi yang dibutuhkan. Alasan lain diperlukannya ITS adalah karena adanya suatu resiko tertentu yang akan menjadi tanggungan perusahaan sehubungan dengan pemilihan suatu teknologi tertentu. Menurut Indrajit (1999) ITS diperlukan karena alasan berikut.
  • Perkembangan teknologi informasi sedemikian cepatnya (tumbuh secara eksponensial) sehingga usia suatu produk tertentu sangat pendek karena tergantikan dengan versi yang baru yang lebih baik; 
  • Untuk satu jenis kelas produk, terdapat beribu-ribu vendor yang menjualnya dengan kelebihan dan kekurangan kualitas produk dan pelayanan yang dimiliki; 
  • Sistem teknologi informasi terdiri dari ratusan komponen berbeda yang disatu sisi saling independen, sementara di sisi lain memiliki ketergantungan yang sangat tinggi; 
  • Perusahaan dapat melihat infrastruktur teknologi informasi ini dari berbagai sudut pendekatan, seperti teknologi informasi sebagai cost center, profit center, investment center, atau service center yang masing-masing memiliki cara penanganan yang berbeda; 
  • Teknologi informasi yang dibangun harus secara signifikan menjawab kebutuhan akan informasi yang telah didefinisikan pada ISS dengan catatan tetap mempertimbangkan keterbatasan perusahaan (misalnya biaya investasi dan kemampuan sumber daya manusia); 
  • Information Management Strategy (IMS)
IMS berkaitan dengan strategi menentukan orang atau unit organisasi yang akan menangani sistem informasi dalam organisasi. IMS menjabarkan strategi organisasi agar target pembentukan sebuah sistem informasi yang handal dengan menggunakan teknologi informasi yang ada dapat diterapkan secara operasional baik untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, sejalan dengan tumbuhnya organisasi di masa mendatang. Tekanan strategi di sini tidak hanya pada siapa yang akan bertanggung jawab terhadap implementasi sistem informasi, tetapi lebih jauh lagi pada bagaimana sistem yang telah dibangun dapat dipelihara dan dikembangkan di kemudian hari. 

Metode Pengembangan Sistem Informasi
Pengembangan sistem informasi dapat dilakukan dengan beberapa cara. Menurut Jogiyanto (2005:433) pengembangan sistem informasi dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah pengembangan sistem informasi konvensional dengan menggunakan siklus hidup pengembangan sistem atau system development life cycle (SDLC). Sistem dikembangkan oleh analis sistem, yaitu orang yang memiliki kemampuan mengembangkan sistem cara profesional. Pengembangan sistem dilakukan melalui tahapan analisis sistem, perancangan sistem, implementasi sistem, dan operasi serta perawatan sistem. 

Cara kedua adalah dengan menggunakan metode baru yang merupakan metode alternatif dari metode SLDC, sehingga dapat disebut dengan metode-metode alternatif (alternatif methods). Husein dan Wibowo (2000:145), Jogiyanto (2005:479), McLeod (2004:133), dan Susanto (2003:313) menyebutkan metode-metode alternatif meliputi (1) Paket (package), (2) Prototipe (prototyping), (3) Pengembangan oleh pemakai akhir (end-user development atau end-user computing), (4) Outsourcing.

1. Paket (package)
Pengembangan sistem dilakukan dengan membeli paket yang sudah tersedia. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih paket adalah spesifikasi paket yang dibutuhkan, ketersediaan paket, dan hasil evaluasi kemampuan paket.

2. Prototyping
Merupakan pengembangan sistem secara bertahap, yaitu dengan mengembangkan prototipe sederhana dulu dan ditingkatkan dari waktu ke waktu sampai sistem selesai dikembangkan.

3. End User Computing
Pengembangan sistem oleh pemakai sistem dan digunakan oleh pemakai sistem itu sendiri. 

4. Outsourcing
Pengembangan sistem dengan bantuan pihak ke tiga dan sekaligus dioperasikan oleh pihak ketiga. Pemakai sistem dapat menggunakan sistem dengan menerima informasi secara periodik oleh pihak ketiga atau dapat menggunakan terminal yang dihubungkan ke tempat pihak ketiga yang mengoperasikan sistem.

Tabel  menunjukkan perbedaan pengembang dan pengguna sistem berdasarkan metode pengembangan sistem yang dipilih oleh organisasi.

Tabel 
Pengembang dan Pengguna Sistem Berdasarkan
Metode Pengembangan Sistem

Metode Pengembangan Sistem
Pengembang
Pengguna
SDLC
Analis sistem
Departemen sistem informasi
Paket
Pihak ketiga
Departemen sistem informasi
Prototyping
Analis sistem
Pemakai sistem
End User Computing
Pemakai sistem
Pemakai sistem
Outsourcing
Pihak ketiga
Pihak ketiga
Sumber:  Jogiyanto (2005:480)

Menurut Wahid (2001) pemilihan metode pengembangan sistem informasi perlu dilakukan dengan tepat agar sistem yang dikembangkan sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan organisasi, tepat waktu dan sesuai dengan anggaran organisasi. Ketepatan pemilihan metode pengembangan sistem oleh organisasi menurut Jogiyanto (2005:476) ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu ketersediaan paket, sumber daya sistem teknologi informasi, dampak dari sistem dan jadwal pemakai sistem. Gambar  merupakan bagan alir yang menunjukkan proses pemilihan metode pengembangan sistem informasi berdasarkan faktor-faktor tersebut.

Sumber: Jogiyanto (2003:478)
Gambar Bagan Alir Pemilihan Metode Pengembangan Sistem

Prioritas pertama pemilihan metode pengembangan sistem adalah paket. Ketersediaan paket merupakan faktor penentu pembelian paket. Jika paket tidak tersedia prioritas kedua jatuh pada outsourcing. Penentuan apakah akan dikerjakan dan dioperasikan oleh pihak ketiga (outsourcing) ditentukan oleh faktor kemampuan sumber daya sistem teknologi informasi (STI) yang dimiliki organisasi. Jika keputusan akan dikembangkan secara internal (in sourcing) biasanya yang dipertimbangkan adalah metode pengembangan End User Computing (EUC). Faktor penentu pengembangan EUC adalah dampak dari sistem yang dikembangkan. Jika dampaknya sempit yaitu hanya pada individu pemakai sistem yang sekaligus pengembang sistem itu saja, maka EUC tepat jadi pilihan. Sebaliknya jika dampaknya luas sampai ke organisasi, pengembangan sistem dengan EUC akan berbahaya, karena jika terjadi kesalahan dampaknya akan berpengaruh pada pemakai sistem lainnya atau pada organisasi secara luas.

Metode berikutnya yang perlu dipertimbangkan setelah EUC adalah metode prototyping. Pertimbangan memilih metode ini adalah jadwal pemakaian sistem. Metode ini tepat digunakan untuk mengembangkan sistem yang harus segera dioperasikan, karena jika tidak permasalahan yang harus diselesaikan menjadi basi dan proses pengambilan keputusan menjadi terlambat. Jika jadwal pemakaian sistem masih lama, dalam arti sistem tidak harus segera dioperasikan, metode SDLC tepat menjadi pilihan.

Pengembangan Sistem Informasi dengan Paket
Pada banyak organisasi cara yang mudah untuk memperoleh sistem aplikasi adalah dengan cara membeli paket software-nya. Banyak bank dan perusahaan membeli hampir semua software aplikasi yang berhubungan dengan aktivitas usahanya. Paket merupakan pengembangan sistem informasi alternatif. Paket ini dikembangkan oleh pihak ketiga, yaitu analis sistem penjual paket. Paket yang sudah dibeli dapat dioperasikan oleh departemen sistem informasi atau langsung digunakan oleh pemakai sistem.

Sekarang ini banyak paket yang tersedia di pasaran karena banyak aplikasi bisnis yang bersifat umum seperti aplikasi akuntansi, keuangan dan aplikasi-aplikasi lainnya. Paket yang tersedia dapat berupa program aplikasi yang sederhana, sampai ke program aplikasi yang lengkap dan kompleks. Jika paket tersedia, perusahaan tidak perlu merancang dan menulis sendiri program aplikasinya.

Pemilihan Paket
Jogiyanto (2005:481) mengemukakan tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih paket yaitu (1) spesifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan, (2) ketersediaan paket, dan (3) mengevaluasi kemampuan paket. Paket yang dipilih harus yang paling baik dalam arti yang kemampuan paketnya paling memenuhi kebutuhan perusahaan. Beberapa kriteria perlu diperhatikan dalam mengevaluasi kemampuan paket. Menurut Laudon (dalam Jogiyanto, 2005:481) paket dapat dievaluasi dengan menggunakan kriteria berikut.
1. Fungsi yang ditawarkan.
a. Apakah fungsi-fungsi yang ditawarkan oleh paket sesuai dengan yang diinginkan ?
b. Fungsi-fungsi mana yang dapat digunakan jika harus dilakukan modifikasi paket?
c. Berapa luas modifikasi yang harus dilakukan?
d. Fungsi-fungsi mana yang tidak dapat didukung oleh paket?
e. Seberapa baik paket mendukung kebutuhan sekarang dan besok?

2. Fleksibilitas.
a. Seberapa mudah paket dapat dimodifikasi?
b. Fitur-fitur apa yang dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan?
c. Apakah penjual mau memodifikasi paket untuk klien?

3. Kemudahan dipakai.
a. Seberapa mudah paket digunakan oleh pemakai?
b. Berapa banyak pelatihan harus dilakukan untuk dapat menggunakannya?
c. Seberapa banyak pemakai diizinkan untuk dapat mengendalikan paket?

4. Perangkat keras dan perangkat lunak dukungan.
a. Komputer jenis apa yang harus dipakai?
b. Sistem operasi apa yang dibutuhkan?
c. Seberapa cepat CPU dan seberapa banyak simpanan yang dibutuhkan?

5. Karakteristik file dan basis data.
a. Struktur basis data apa yang digunakan oleh paket?
b. Apakah pemakai dapat mengakses data langsung dari basis data?
c. Apakah basis data dapat diintegrasikan dengan basis data yang lainnya?
d. Apakah klien dapat memodifikasi struktur dari basis data?

6. Instalasi.
a. Seberapa mudah menginstal paket?
b. Seberapa mudah mengkonversi dari sistem lama ke sistem yang baru?

7. Perawatan.
a. Apakah perawatan paket harus dilakukan oleh penjual atau dapat dilakukan sendiri oleh klien?
b. Berapa staf minimal dibutuhkan untuk melakukan perawatan system?

8. Dokumentasi.
a. Dokumentasi apa saja yang disediakan oleh paket?
b. Apakah mudah memahami dan menggunakan dokumen-dokumen yang disediakan?
c. Apakah dokumentasi yang disediakan sudah lengkap?

9. Kualitas penjual.
a. Apakah penjual mempunyai pengalaman yang cukup di aplikasi paket?
b. Apakah penjual mempunyai sejarah penjualan yang baik dan mempunyai posisi keuangan yang baik?
c. Apakah penjual akan terus bisnis ini dan selalu mendukung paket?
d. Dukungan apa yang penjual berikan?
e. Apakah respon penjual baik terhadap keluhan klien?
f. Apakah penjual mempunyai reputasi yang baik?

10. Biaya.
a. Berapa harga dari paket?
b. Apakah biaya paket termasuk biaya perawatan?
c. Apakah harga paket lebih murah dari harga pesaing?
d. Apakah penjual memiliki reputasi yang baik?

Husein dan Wibowo (2000:159) menyebutkan beberapa pertimbangan lain dalam memutuskan membeli atau membuat sistem tersebut yaitu (1) pertimbangan dalam membuat keputusan membeli atau membuat adalah biaya kesempatan (opportunity cost) atas kelangkaan sumber daya teknis dalam membuat sistem, (2) ketersediaan tenaga yang mampu membuat sistem yang baru, (3) pertimbangan politis yang mempengaruhi keputusan ini, misalnya pihak tertentu dalam perusahaan menginginkan pembelian sistem karena ada manfaat ekonomis dalam pembelian paket sistem tersebut.

Jogiyanto (2005:484) memaparkan tiga hal yang dapat dilakukan oleh organisasi setelah menemukan paket yang dicari yaitu (1) paket yang digunakan tanpa perubahan, jika perusahaan merasa bahwa kebutuhan yang diinginkan semuanya dapat dipenuhi dari paket yang dipilih, paket dapat langsung digunakan tanpa adanya perubahan-perubahan. Paket seperti ini biasanya adalah paket yang sederhana atau paket untuk aplikasi yang umum; (2) paket modifikasi, paket dimodifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Kasus ini biasanya dilakukan jika (a) kebutuhan yang diminta oleh perusahaan belum dapat dipenuhi oleh paket yang dipilih dan, (b) yang dianggap benar adalah proses dari perusahaan bukan proses dari paket, sehingga paket harus menyesuaikan perusahaannya. Paket yang dimodifikasi merupakan kasus yang paling sering ditemui terutama untuk perusahaan yang mempunyai proses yang unik; dan (3) perusahaan yang dimodifikasi, paket dipilih lalu memodifikasi perusahaan untuk disesuaikan dengan paketnya. Kasus ini kebalikan dari kasus yang kedua. Kasus ini dilakukan jika (a) kebutuhan yang diminta sudah dipenuhi oleh paket yang dipilih dan, (b) yang dianggap benar adalah proses dari paket bukan proses dari perusahaan, sehingga perusahaan yang harus disesuaikan. Proses ini biasanya dilakukan jika perusahaan akan mengadakan rekayasa proses bisnis (business process reengineering atau BPR) melalui penggunaan teknologi sistem informasi. BPR merupakan perubahan proses yang radikal dan dipercaya akan lebih efektif jika digunakan sistem teknologi informasi.

Kelebihan dan Kelemahan Paket
Jogiyanto (2005:485), menjelaskan beberapa kelebihan paket yaitu, (1) kualitas paket yang baik, (2) dapat digunakan seketika, (3) harga paket relatif murah, (4) Dapat digunakan rekayasa ulang, (5) kompatibel dengan sesama pengguna paket. Kelebihan paket pertama adalah kualitas dari paket dapat diandalkan karena paket dikembangkan oleh tim yang berkualitas, dikembangkan dengan biaya yang cukup mahal dan sudah diuji kualitasnya sebelum paket dijual atau telah diperbaiki terus menerus dari keluhan-keluhan pemakai. Paket yang terkenal dan berhasil di pasaran dikembangkan dengan biaya mahal yang diambil dari keuntungan paket yang besar karena pembeli paket berjumlah cukup besar. Kualitas dari paket juga dapat diuji dan dibandingkan dengan paket-paket lainnya sebelum paket dibeli. Kedua adalah dapat digunakan seketika, keunggulan lain dari paket adalah tidak perlu dikembangkan lagi dan siap digunakan, sehingga cocok untuk kebutuhan sistem teknologi informasi yang mendesak yaitu yang harus digunakan secepatnya. Ketiga, harga paket relatif murah, walaupun harga pengembangan paket mahal, tetapi paket dijual dan dibeli oleh banyak pembeli, sehingga harga per paketnya dapat menjadi relatif sangat murah dibandingkan jika harus mengembangkan sendiri. Keempat, dapat digunakan untuk rekayasa ulang proses bisnis. Karena hasil dari paket sudah jadi, maka dapat dipilih paket-paket yang merupakan “best practice” yaitu paket dengan proses bisnis yang terbaik yang pernah diterapkan di suatu organisasi. Rekayasa ulang proses bisnis (business process reengineering atau BPR) dapat dilakukan dengan menerapkan paket “best practice” dan memodifikasi organisasi untuk mengikuti proses dari paket. Kelima kompatibel dengan sesama pengguna paket. Karena menggunakan model basis data yang sama, maka sesama pengguna paket dapat saling bertukar data dengan mudah.

Husein dan Wibowo (2000:157) mengemukakan beberapa kelebihan paket, yaitu (1) paket software tersebut biasanya sangat menarik dari sudut nilai ekonomisnya, (2) pembelian paket software mengurangi penundaan pembuatan sistem jika dilakukan dengan cara tradisional, (3) kualitas paket aplikasi secara substansial lebih baik daripada sistem yang dibuat. Hal ini disebabkan karena penjual sistem mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembangkan sistem tersebut. Di samping itu paket sistem tersebut umumnya sudah teruji pada beberapa kondisi, (4) dokumentasi sistem juga lebih baik daripada menggunakan pendekatan tradisional.

Paket menawarkan suatu kemudahan bagi perusahaan yang ingin mengembangkan sistem informasinya. Kelebihan-kelebihan tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan untuk memilih paket.

Selain memiliki kelebihan, paket memiliki juga kelemahan. Jogiyanto (2005: 486) menjelaskan beberapa kelemahan paket yaitu (1) Tidak sesuai untuk aplikasi yang unik, (2) perbaikan, modifikasi sulit dikerjakan sendiri, (3) basis data tidak terintegrasi dengan aplikasi lainnya, (4) ketergantungan dari pemasok, (5) tidak memberikan keuntungan kompetisi.

Kelemahan pertama, tidak sesuai untuk aplikasi yang unik, aplikasi yang unik biasanya sulit ditemukan paket yang sesuai. Untuk aplikasi yang unik, jika paket tersedia, biasanya masih harus dimodifikasi untuk disesuaikan dengan aplikasinya. Kedua, perbaikan, modifikasi dan pengembangan paket sulit dikerjakan sendiri. Jika terjadi kesalahan-kesalahan proses, perubahan-perubahan dan penambahan-penambahan di paket akan sulit dilakukan disebabkan oleh beberapa hal yaitu, a) merubah kode program lebih sulit dibandingkan jika harus membuatnya, b) kode-kode program di paket biasanya sudah dikompilasi dalam bahasa mesin yang susah dibaca. Ketiga, basis data tidak terintegrasi dengan aplikasi lainnya. Paket umumnya menggunakan program yang tertentu dengan struktur basis data lainnya, sehingga basis data paket tidak kompatibel dengan basis data lainnya. Keempat, ketergantungan dari pemasok merupakan masalah dari paket jika pemasok tidak dapat diandalkan di masa depan. Kelima, tidak memberikan keuntungan kompetisi. Paket umumnya digunakan oleh banyak pemakai, sehingga keuntungan kompetisi dari paket menjadi hilang, karena pesaing juga dapat menggunakannya.

Husein dan Wibowo (2000:158) menyebutkan beberapa kelemahan yang mungkin timbul jika perusahaan membeli paket software, adalah (1) Sangat besar kemungkinan terjadi perbedaan antara kebutuhan perusahaan dan kemampuan dari paket software yang kita beli, (2) Perusahaan mungkin menjadi sangat ketergantungan pada pemasok sistem termasuk dalam hal dukungan dan pemeliharaan sistemnya, (3) Karena organisasi relative belum akrab dengan sistem tersebut dan perlu mengubah operasi perusahaan agar sesuai dengan sistem, maka akan jadi sulit untuk menginstal sistem yang sudah dibeli dan mengintegrasikannya ke operasional perusahaan.

Berdasarkan kelemahan-kelemahan yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu masalah utama dalam pembelian sistem adalah harus adanya pemahaman tentang kebutuhan perusahaan dan kemampuan dari paket sistem yang akan dibeli.
 

Kumpulan Artikel News Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger